Opini

Memproduksi Kesesatan Berfikir

Bagikan ke :

Narasi darurat demokrasi kian merayap di laman media sosial, reformasi dikorupsi menjadi tagar yang heboh. Politik tunggang menunggang menjadi sarapan hingga makan malam sosial media yang sudah tak ramah. Bulan September tetap hitam.

            Kekhawatiran merebak di dunia media sosial, pembungkaman demokrasi, bahkan penangkapan aktifis dipertontonkan dalam panggung sandiwara media. Krisis kepercayaan yang terjadi. Buzzer-buzzer penguasa memenuhi laman, begitu juga dengan buzzer oposisi. Objektifitas semakin merosot dan ditimbuni oleh penilaian yang subjektif, bukan objektif. Fallacy (sesat pikir) hal yang terlihat semakin jelas, seperti hitam putih. Fanatisme semakin buta.

Mana yang bisa dipercaya? Buzzer penguasa ataukah buzzer oposisi? Adakah yang pantas diagungkan di atas nalar logika?

Tidak, tidak ada yang bisa dipercaya di media sosial, kecuali dengan analisa data dan fakta lapangan yang objektif. Pertarungan media sosial yang kita santap setiap hari, bukanlah hasil analisa para buzzer, tetapi data-data yang diperoleh dari media lain, informasi yang masih diragukan keasliannya. Maka pertarungan argumentasi buzzer tersebut yang harus kita analisa dengan data dan fakta lapangan yang tervalidasi. Kita tidak boleh melupakan poin penting bahwa buzzer merupakan sebuah pekerjaan. Mereka (Buzzer) membela siapa yang memberikan gaji dan meningkatkan profit. Jadi, wajar ketika narasi-narasi yang hitam putih selalu disajikan untuk kita konsumsi. Antara buzzer penguasa dan buzzer oposisi.

            Media sosial adalah alat yang digunakan buzzer penguasa dan buzzer oposisi untuk membentuk kesesatan berfikir yang sempurna. Dalam teori argumentasi kita mengenal Fallacy (kesesatan berpikir) yang disebut “argumentatum ad hominem”. Argumentatum ad hominem yaitu menerima atau menolak argumentasi bukan karena nilai penalarannya tetapi karena latar belakang orang yang mengucapkannya (Mendebat subjeknya bukan mendebat argumentasi yang disampaikannya). Kesesatan inilah yang ramai ramai dibagikan para buzzer untuk mengurangi objektifitas dalam menilai suatu permasalahan.

            Sebagai contoh, satu sisi buzzer penguasa akan mengirimkan berita di laman-laman media sosial tentang kebaikan-kebaikan dan kesederhanaan presiden Jokowi secara personal, agar tercipta fanatisme buta terhadap presiden Jokowi secara personal. Maka, terjadilah fanatisme itu. Masyarakat lupa, bahwa presiden secara personal dan secara sistem pemerintahan adalah dua hal yang berbeda. Kemudian, di sisi lain, buzzer oposisi sibuk menjelek-jelekkan secara personal presiden Jokowi, sebutan PKI, antek asing dan lain-lain. Sehingga menyebabkan kebencian personal. Pertarungan narasi ini mengakar hingga mengubah sistem berpikir penikmat sosial media, para penikmat berita dari pihak buzzer oposisi selalu menilai yang bermasalah adalah presiden Jokowi, begitu juga para penikmat karya buzzer penguasa selalu melihat Jokowi sebagai personal presiden sempurna, sampai tidak melihat secara objektif sistem pemerintahannya.

            Para peselancar media sosial sampai buta bahwa yang harus di kritik adalah argumentasi yang dibangun oleh para buzzer, lupa bahwa presiden secara personal yang sederhana, tidak sama dengan sistem pemerintahan dan pemerintah di belakangnya. Semua peselancar media sosial akhirnya terjebak dalam kesesatan berfikir yang bernama argumentatum ad hominem. Netizen (Penikmat Media sosial) menilai Presiden bukan dari sudut pandang sistem pemerintahan dan kebijakan pemerintah, melainkan menilai dari sisi pribadi Presiden (Pak Jokowi). Sempurnalah kesesatan berfikir tersebut, menilai seseorang dari subjeknya, bukan dari argumentasi dan sistem pemerintahan, ataupun kebijakannya.

        Buzzer yang hari ini selalu tampil di media sosial dengan mengarahkan permasalahan hanya tentang salah dan benar, tentang hitam dan putih. Menggiring opini mendukung atau tidak, pro atau kontra.

Kasus yang terbaru berkaitan dengan buzzer adalah pada saat salah seorang buzzer penguasa memposting video ambulance yang diduga membawa batu untuk membantu demonstran di Jakarta, dan ternyata setelah di klarifikasi langsung oleh pihak yang bersangkutan tidak ada ambulance yang mengangkut batu. Pada akhirnya terbukalah sedikit info, buzzer yang ditunggangi kepentingan penguasa. Buzzer yang membuat rakyat menjadi sesat fikir, tidak bisa membedakan berita bohong dan berita benar. Tidak bisa menilai secara objektif mana seorang pribadi dan mana sistem pemerintahan.

Pendomplengan pemikiran melalui media sosial menjadi akar permasalahan yang harus diselesaikan. Hujat menghujat juga merupakan dampak pelabelan yang digunakan oleh para buzzer. Sehingga ketika seorang oposisi murni melakukan kritik, akan di cap secara sosial sebagai kadal gurun, sedangkan yang mendukung pemerintah/penguasa akan di cap sebagai cebong. Ini menjadi bukti nyata bahwa kesesatan berfikir ditancapkan dalam pikiran masyarakat melalui para buzzer di laman media sosial.

Untuk mengatasi permasalahan sesat berfikir, para peselancar media sosial seharusnya melihat step step berikut:

Pertama, Pengguna media sosial harus melakukan pemetaan akun akun buzzer, akun mana yang mengidap fanatisme buta penguasa, dan akun mana yang berusaha beroposisi akibat kebencian personal. Kedua, Peselancar media harus membaca banyak referensi terkait statement dari pada buzzer, melihat data, dan menganalisa statement untuk mendapatkan penilaian objektif. Ketiga, membuat tulisan berupa nilai positif dan nilai negatif dari setiap permasalahan dengan menggunakan metode pohon masalah, dan ke-empat, harus mengikuti pemberitaan yang dilakukan oleh kedua pihak. Buzzer penguasa ataupun oposisi. Agar bisa memperoleh perbandingan dari beberapa kasus dan menciptakan suatu pemikiran yang kritis dan objektif. 

Dengan mengikuti ke-empat pola tadi, maka peselancar media akan terhindar dari fallacy (sesat fikir). Sebagai penulis tanpa keberpihakan, saya berasumsi bahwa kekurangan pemikiran kritis rakyat, kekurangan berliterasi, dan kelemahan pisau analisa akan membuat kita terombang ambing dengan kicauan para buzzer di media sosial. Jadilah peselancar media sosial yang bijak, ataupun oposisi murni yang kritis tanpa fanatisme buta juga tanpa kesesatan berfikir.

(/SHS)


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun