Opini

Manusia Khayalan Kembali?

titikalinea.com
Bagikan ke :

Manusia sebagai makhluk sosial yang notabenenya adalah bergumul, sudah pasti membutuhkan sesama adalah pilihannya. Karena tanpa sesamanya, manusia tidak akan lama bertahan hidup. Seperti doktrin Tuhan “bergaullah dan hargailah sesamamu manusia”

Bergumul dengan manusia lain yang karakter dan kepribadian yang sangat banyak dan berbeda-beda, membuat kita kesusahan mengenal lebih dalam mereka satu per satu. Seperti kata seseorang kepada saya “Saya tidak mengenal kau lebih dari 0,1 % (nol koma satu persen), begitupun sebaliknya. Saya tidak berani mengatakan mengenal jauh lebih dalam seseorang diatas 0,1 % (nol koma satu persen), bahkan keluarga sekalipun”. Pertanyaannya adalah kenapa tidak berani mengatakan mengenal saya, padahal sudah bersama sejak lama? Apakah selama ini tidak memperhatikan dan menghargai saya sebagai sesamanya?

Jawabannya adalah bukan karena tidak menghargai dan memperhatikan, tapi itulah sifat manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna dan penuh keterbatasan. Selain dari sifat keterbatasan, manusia juga merupakan makhluk yang setiap detik dapat berubah pemikiran. Seperti pepatah mengatakan, rambut sama hitam, isi kepala siapa yang tahu.    

Karena keterbatasan itulah, manusia bagaikan masyarakat khayalan. Apa itu masyarakat khayalan? Khayalan dari kata khayal, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti yang diangan-angankan seperti benar-benar terjadi. Jadi masyarakat khayalan adalah masyarakat yang suka berangan-angan atau suka menghayal. Definisi yang sama dalam buku Riwayat Singkat Umat Manusia (Sapiens), “Masyarakat Khayalan adalah masyarakat berisi orang-orang yang tidak benar-benar saling mengenal, namun mengkhayal demikian”.

Lalu apa hubungannya sebutan manusia khayalan dengan pernyataan dari seorang yang mengatakan tidak mengenal sesamanya lebih dari 0,1 %? Apakah sebuah kebenaran dan ataukah dia juga sedang menghayal?

Ok, kita jawab pertanyaan yang pertama. Hubungannya adalah pernyataan itu mencoba menyangkal dari istilah masyarakat khayalan yang kita maksud tadi. Tidak mau berdiri atas pernyataan kebanyakan masyarakat yang sering mengungkapkan “saya kenal dia” dan atau “saya mengenal persis tentang dia”.  Dia mencoba jujur atas apa yang dia ketahui.

Lalu pertanyaan kedua, apakah itu sebuah kebenaran dan atau dia juga sedang menghayal? Jawabannya adalah benar dan dia tidak sedang menghayal. Dikatakan kebenaran karena manusia memang adalah makhluk yang penuh dengan keterbatasan, sehingga mengenal orang lain secara keseluruhan adalah mustahil. Manusia juga memiliki banyak kelebihan dan hal istimewa tersembunyi dalam dirinya, yang pastinya kita tidak bisa bahasakan dengan mengandalkan cakrawala pikiran kita masing-masing.  Meskipun diantara kita ada yang mengaku tahu sebagian kelemahan dan kelebihan seseorang di sekitar kita, bukan berarti mengenal keseluruhan apa yang melekat pada dirinya.  Contohnya pada lingkungan pertemanan, seorang mengaku sangat mengenal temannya, dengan alasan karena telah berjalan bersama cukup lama diatas suka-duka kehidupan.  Bisa dipastikan bahwa mengenalnya hanya sebatas tentang makanan dan minuman kesukaan, kebiasaan yang sering di perlihatkan, hoby, internal keluarga, study, paras, cerita kehidupan dan lain sebagainya.

Begitu kira-kira maksud pernyataannya tentang tak mengenal sesamanya lebih dari 0,1 %.

Mengenai tentang masyarakat khayalan, keberadaannya tidak hanya ada pada zaman purba ribuan tahun yang lalu seperti dikatakan dalam buku Sapiens karya Yuval Noah Harari, tetapi pada zaman sekarang kita juga menemukannya. Masyarakat hari ini terjerumus jauh dalam istilah ini. Seperti apa masyarakat khayalan zaman ini? Keberadaannya dapat kita temui dalam lingkungan keagamaan. Salah satu sarang masyarakat khayalan ada di lingkungan agama. Sering kita melihat seorang berkomentar tentang agama lain, mengomentari cara ibadah, kebiasaan agama lain, atribut, bahkan menghayal bahwa Tuhan yang disembahnyalah yang paling benar. Mereka menghayal seakan paling paham. Nyatanya tidak, melainkan hanya karena keegoisan. Itu salah satu bukti kuat mereka di sekitar kita.

Masyarakat khayalan juga kita temukan pada lingkungan keberagaman lain seperti adat dan kebudayaan. Masih banyak menghayal bahwa adat dan kebudayaan tempatnya adalah yang paling benar,  sehingga cenderung mengarah pada penghinaaan terhadap adat kebudayaan lain.

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga menemukan orang-orang seperti demikian. Tampak dari pernyataan yang sudah tidak asing lagi “saya mengenal dia”, “saya mengenal persis dia”. Kebanyakan menghayal mengenal sesamanya, padahal tidak demikian.

Manusia hidup penuh khayalan. Sehingga diantara semua contoh yang kita bahas, berpeluang kita melakukannya.

Itulah sedikit penjelasan mengenai masyarakat khayalan zaman sekarang. Apakah anda setuju dan merasa di lingkaran khayal? Tuliskan pendapatmu pada kolom komentar ya… 

Penulis : (/S.A)


Bagikan ke :

3 thoughts on “Manusia Khayalan Kembali?”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun