Opini

Mental Feodal Dan sopan- santun Omong Kosong

Bagikan ke :

Oleh : Honing Alvianto Bana

Masyarakat feodal selalu menghasilkan manusia dengan dua tipe mental. Pertama manusia bermental atasan, kedua manusia bermental bawahan.

Manusia tipe pertama selalu ingin ada di posisi atas. Juga ingin dihormati dan didengar oleh manusia tipe bawahan. Manusia tipe pertama ini juga tidak suka jika ada sesamanya yang lebih maju atau lebih baik. Ia akan merasa tersaingi.

Berbeda dgn manusia tipe kedua, ia selalu tidak punya rasa percaya diri dan merasa rendah diri. Mereka menerima dan betah ada dibawah. Mereka juga selalu dituntut untuk bersikap sopan oleh manusia tipe pertama, meski sedang diperlakukan secara tidak adil. Contohnya, protes masyarakat adat pubabu dikabupaten Timor Tengah Selata-NTT, saat menolak perampasan tanah adat oleh pemerintah yang dianggap  tidak sopan. Padahal, orang melakukan protes itu karna berhubungan dengan alat produksi yang selama ini mereka gunakan untuk bertahan hidup.

Sistem Feodalisme Yang Tersisa

Bangsa Indonesia telah merdeka kurang lebih 70an tahun. Agama pun telah kita terima sebagai agama pembebasan, dimana ajaran-ajaran agama mengajari kita tentang kasih sayang dalam membangun hubungan yang egaliter dengan sesama. Sayangnya, praktik budaya peninggalan sistem feodalisme masih ada yang tersisa. Sistem ini harus kita deteksi, lalu kita tolak dalam bentuk apapun.

Dulu, dihadapan raja, seorang rakyat jelata harus menunduk atau berlutut jika ingin bertemu dengan raja. Saat ini, budaya seperti ini pun masih ada. Hanya saja, berubah model dan bentuk. Budaya feodal seperti ini biasanya dipelihara dengan baik oleh sekian elite penguasa di daerah kita.

Dulu, raja dianggap penguasa yang bersifat kondrati dan secara sosial lebih tinggi, maka harus dihomarti. Sementara rakyat jelata, secara kondrat dianggal lebih rendah. Dan akan selamanya rendah.

Dijaman penjajahan dulu. Saat   para penjajah (kolonial) datang, sebagian raja ini mengambil keuntungan dari struktur feodal di masyarakat. Penjajah tidak mencopot raja, selama ia masih mau mengabdi pada kepentingan mereka.

Akhirnya, para elite penguasa lokal diperas oleh elite penguasa yang bekerja sama dengan penjajah. Lalu elite penguasa lokal memeras rakyat jelata. Kira-kira seperti itulah strukturnya, sehingga rakyat semakin tertindas.

Nah, biasanya orang yang tertindas akan musnah sisi kemanusiaannya. Sifat manusianya hilang, yg tersisa adalah sisi kebinatangannya.

Jika mereka dalam keadaan miskin, mereka mudah bermusuhan dengan sesamanya. Saling curiga, saling intai, bahkan saling tikam dari belakang.

Politis Dan Pemimpin Feodal

Sesungguhnya, sebagian besar politisi didaerah kita, masih memeluk sistem feodalisme ini. Hal itu bisa kita deteksi dalam setiap steatmen dan kebijakan yang dikeluarkan. Mereka, seringkali membuat aturan yang tak kelihatan secara kasat mata. Aturan-aturan ini biasanya dibuat seolah-olah berpihak kepada masyrakat lokal. Padahal, itu hanya seolah-olah saja. Kebijakan mengkhususkan anak asli daerah, dalam penerimaan CPNS beberapa bulan lalu di kabupaten Timor Tengah Selatan, yang kemudian dibatalkan adalah salah satu contohnya.

Politisi feodal dan sebagian pemangku kebijakan didaerah kita selalu saja seperti itu. Maka tak heran, jika pembangunan di daerah selalu berjalan lambat selama mereka berkuasa.

Banyak hal didaerah yang berjalan lambat karna mereka tak punya komitmen untuk mengurusnya secara serius. Salah satu contoh sederhannya adalah pengelolaan pariwisata kita.

Pemerintah daerah tak ada komitmen dan usaha yang serius untuk melakukan promosi. Tak ada analisis pengunjung untuk selanjutnya dilakukan usaha agar meningkatkan para pengunjung dan menambah pemasuukan bagi daerah. Fasilitas diberbagai objek wisata juga buruk dan terbengkalai. Tampilan website pemerintah daerah yang kita jadikan sebagai rujukan untuk mencari informasi tentang daerah juga sangat jelek dan tak terupdate secara berkala. Sedih memang !

Bolehkah kita megkritisi saat melihat hal seperti itu?

Boleh saja. Sistem demokrasi memang menginsyaratkan untuk melakukan kontrol kepada pemerintah. Hanya saja, kita harus berani menerima konsekuensi saat mengajukan kritikan kepada pemerintah daerah. Pemerintah daerah kita, kebanyakan dikuasai oleh tokoh-tokoh bermental feodal, yang siap menggunakan semua komponennya untuk membully dan menyingkirkan siapapun saat mereka kalah dalam berargumen.

Biasanya, disaat sudah kalah, ada sebagian orang-orang yang datang menjilat pemimpin dan tokoh-tokoh didaerah dengan mencari pembenaran bahwa, “Orang ini layak disingkirkan dengan segala cara karena tidak sopan pada pimpinan”.

Jadi, saat-saat seperti itulah pertemuan antara pemimpin-pemimpin bermental feodal menyatu dengan bawahan-bawahan yg bermental feodal pula demi melanggengkan sistem feodal ini.

Orang-orang bawahan yang bermental feodal seringkali berpikir bahwa para pemangku kebijakan tidak pernah salah. Akhirnya, kebiasaan “asal bapak senang” itu dilakukan oleh mereka secara berulang-ulang tanpa merasa berdosa.

Kebiasaan “jilat atas, injak bawah” itu pun kita lihat hampir setiap hari. Orang-orang sibuk dengan sopan-santun kepada para elite, tapi ganas dan jahatnya minta ampun ketika berhadapan denga masyrakat bawah.

Mereka-mereka ini, biasanya sangat keras saat menuntut kepala desa untuk melakukan transparansi anggaran. Tapi menutup mata dan diam membisu saat mengetahui bahwa elite-elit daerah ditingkat kabupaten pun tidak pernah melakukan transparansi anggaran sama sekali. Mereka-mereka ini (tidak semua), adalah orang-orang yang sedang mencari panggung untuk kepentingan yang sedang mereka idam-idamkan.

Disisi lain, para pemangku kebijakan kita juga pintar, dihadapan publik mereka bertutur dengan begitu indah dengan menggunakan diksi-diksi agama dalam setiap pertemuan, tapi dalam hatinya tersembunyi keangkuhan yang luar biasa.

Dampak Penjajahan Dan Sistem Feodal

Hari ini, sistem penjajahan itu sudah tidak ada. Tapi selama menjajah, ia meninggalkan sistem yang mengurat dan mengakar. Yang nantinya dipakai oleh elite kaum pribumi.

Kalau dulu, kekuasa dipegang oleh raja dan keluarganya. kini, kekuasaan ada ditangan kaum terdidik dengan mental kolonial. Sama seperti raja tempo dahulu, banyak dari mereka juga arogan. Selalu ingin dihormati dan di dengar.

Mereka juga pandai berselingkuh dengan siapapun, asal menguntungkan. Tak peduli dengan kesusahan yang dialami oleh masyarakat (terutama masyrakat desa). Mereka juga akan berusaha untuk melanggengkan sistem feodal yang buruk itu. Intinya, pola yang mereka gunakan sama seperti jaman kolonial, mereka kehilangan aspek kemanusiannya.

Struktur feodal semacam ini masih sangat kuat di daerah kita. Hanya rupa dan bentuknya saja yang berbeda. Bagi saya, kita harus menjadi manusia merdeka yang utuh. Kemerdekan itu adalah saat kita berhasil bebas dari paham purba dan kolot semacam ini.

Kita menghargai setiap orang dengan tulus karna kita setara sebagai manusia dihadapan Tuhan. Bukan menghargai orang karna meemiliki apa, atau punya jabatan apa.

Jadi, sudah seharusnya kita menyadari dan mendeteksi tentang sistem feodalisme yang selama ini masih bersembunyi di dalam kebudayaan kita. Cukup sudah kita saling curiga, ingin saling mengalahkan manusia lain, dan kebiasaan “jilat atas injak bawah” itu perlu ditinggalkan.

Kita tidak lagi perlu ingin menang-menangan, apalagi dengan sesama saudara sendiri. Lalu menekan dan menyuruh orang lain yang lebih kecil untuk berlaku sopan-santun. Cukup saling menghargai, saling mendukung, dan tak perlu saling menaklukan


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun