Opini

Pembuktian Nusa Tinggi Toleransi (NTT) Di Tengah Pandemi

titikalinea.com

Oleh : Ariyanto Kristian Tena (Kabid Or GMKI Tambolaka)

Artikel kali ini menyajikan tentang NTT ( Nusa Tinggi Toleransi ) dan Covid 19. Seperti kita tahu bahwa Covid-19 telah menjadi tantangan terberat saat ini. Banyak kebiasaan masyarakat yang kemudian berhenti untuk sementara. Lalu bagaimana dengan NTT?  Kebiasaan apa ikut tersingkirkan?

Sebelum membahas kaitan kedua topik, saya akan menjelaskan terlebih dahulu tentang asal dan makna kalimat “Nusa Tinggi Toleransi” dan Nusa Tenggara Timur sendiri.

Nusa Tinggi Toleransi (NTT) adalah salah satu panggilan untuk provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT ) oleh beberapa masyarakat NTT.  Bukan tanpa alasan, tetapi karena provinsi ini kita akan menemukan sikap toleransi yang tinggi, baik dari sisi keagamaan, ras, hingga bahasa. Selain itu, panggilan lain yang tidak kalah menarik yaitu Nanti Tuhan Tolong (NTT).

Masyarakat NTT memiliki warisan budaya yang heterogen yang diturunkan dari leluhurnya. Masyarakat NTT lahir di atas tanah yang dihuni oleh aneka ras, agama, dan suku yg memiliki keunikannya masing-masing. NTT sejak lama terkenal akan nilai-nilai toleransinya yang tinggi sehingga tak heran di sebut sebagai Nusa Toleransi Tinggi (NTT). Daerah di dalamnya yang tidak akan ketinggalan ketika bicara soal toleransi adalah Sumba.

Pulau Sumba merupakan pulau besar di NTT. Dikenal dengan masyarakatnya yang ramah dan menghargai tamu. Dan memiliki banyak wisata yang menarik. Mungkin itulah salah satu faktor pendukung sehingga pada tahun 2019 lalu dinobatkan sebagai pulau terindah di dunia. Selain itu pandangan dunia juga mengarah pada “Marapu”. Marapu dikenal sebagai kepercayaan asli yang sangat kental dengan budaya dan adat isitiadat, yang merupakan warisan secara turun temurun sejak dari zaman dahulu.

Kehidupan Sumba sudah mulai terbuka dengan kehidupan orang luar, sehingga informasi begitu cepat diperoleh. Termasuk informasi tentang virus Corona yang telah mengguncang Indonesia.  Virus ini menjadi momok yang menakutkan sehingga masyarakat dihimbau untuk mengikuti anjuran pemerintah. Salah satu kebiasaan yang dilarang untuk sementara adalah cium hidung.

Semua itu dipaksa untuk dihentikan sementara.  Sehingga ada yang mulai bertanya, kenapa? Mengapa ? dan masih banyak yang mengatakan “Ah tidak bisa, itu adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan !” sangat disayangkan, masih banyak yang mengatakan seperti itu.

Saat pertama kali terjangkit corona, Indonesia mengambil kebijakan untuk meliburkan sekolah dan beberapa aktifitas yang bersifat umum diberhentikan. Kebijakan itu diambil demi mencegah penularan atau memutus mata rantai penularan Covid 19. Hingga sampai saat ini, pemerintah masih terus mensosialisasikan tentang virus mematikan ini kepada semua lapisan masyarakat. Patut diapresiasi.

Covid 19 seketika menghapus budaya atau kebiasaan yang masih sangat kental. Nilai toleransi tidak dibuat lenyap olehnya, malah membangkitkan banyak generasi yang pro akan itu. Tetapi tradisi sekejap mati, semuanya kini tak terlihat lagi.

Toleransi dan adat istiadat memang  wajib dan patut kita banggakan sebagai warisan yang membuat kita menjadi bangsa yang beradab. Namun, ketika manusia dihadapkan pada perang melawan virus seperti ini, kita juga harus tampil sebagi kesatria, dengan mencoba berani meninggalkan itu semua.  Kita harus mampu membedakan mana kawan dan lawan. Dalam hal ini yang saya maksud adalah melawan keegoisan dan kepentingan sesaat. Supaya kita menjadi pemenang dalam perang ini.

Berani meninggalkan untuk sementara adalah hal yang harus kita lakukan. Demi menjaga dan melanjutkan generasi kita khususnya NTT. Apalah artinya kepentingan sesaat itu terus kita lakukan, ketika kehabisan generasi yang akan melanjutkan tradisi dan toleransi itu?

Perlu persatuan dan kesatuan, serta pemantapan persepsi untuk bergerak dan maju melawan virus ini. Salah satu caranya adalah berani meninggalkan kebiasaan yang rentan menjadi pintu penularan virus. Dengan melakukan itu, kita telah berpartisipasi membantu pemerintah memutus rantai penyebaran Covid-19. Seorang akademisi juga harus terlibat dalam memberantas Covid-19 yang terus merengsek merusak sendi-sendi kehidupan dan mematikan ini, dengan mencoba menerobos pemikiran yang dangkal.

Berani meninggalkan untuk sementara, adalah pembuktian atas makna tinggi toleransi.

1 thought on “Pembuktian Nusa Tinggi Toleransi (NTT) Di Tengah Pandemi”

  1. Ping-balik: Satu Titik Terang -

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun