Opini

Satu Titik Terang

titikalinea,com
Bagikan ke :

Oleh : Bryan Caesar Mahaputra Beko

Pada penghujung tahun 2019 lalu, kita diperhadapkan virus lama dengan versi barunya yaitu Coronavirus 19 (Covid 19). Sebelumnya, jenis lain dari virus ini seperti Middle East Respiratory ( MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), pernah menjadi wabah global beberapa tahun lalu.

Semua negara yang terpapar sedang berperang melawan virus ini. Meskipun kebenaran tentang asal terbentuknya masih simpang siur. Beberapa pandangan mengatakan bahwa asalnya dari hewan, dan ada mengatakan bahwa virus ini sengaja diciptakan. Tidak sedikit juga mengatakan bahwa asalnya dari makanan, senjata biologis, terbentuk secara alami, bahkan dianggap sebagai permainan atau rencana dari para elit global untuk mencapai tujuan besar mereka. Sehingga diangkat menjadi teori konspirasi.

Covid-19 merupakan virus yang penyebarannya sangatlah cepat dan nyata. Menyebar lewat percikan bersin dari orang yang sudah mengidap virus ini, lewat sentuhan, lewat barang yang disentuh orang yang telah terjangkit, dan kegiatan lainnya yang berhubungan langsung dengan para pengidap. Menurut profesor dari Taiwan, Fang Chi Tai, virus ini memiliki struktur yang berbeda dari virus corona lainnya, sehingga penyebarannya sangat cepat dari virus pada umumnya.

Baca juga : covid dan diri kita adalah pembunuh

Berbagai upaya dan kebijakan telah diterapkan oleh beberapa negara demi memberantasi wabah covid 19 ini. Rasa saling membantu antar negara pun dapat kita lihat. Mulai dari negara besar yang membantu negara kecil, bahkan sebaliknya juga. Negara yang telah maju dan masih berkembang saling mendukung melawan pandemi covid-19. Di Indonesia sendiri, berbagai upaya dilakukan pemerintah, relawan kemanusiaan, namun tetap saja berbuah kritikan.

Melihat kondisi seperti sekarang, bukan lagi waktu untuk kita saling menyalahkan, siapa yang menyebabkan dan bertanggung jawab akan hal ini. Tetapi, mari saling menopang. Hal itu akan menjadi lebih penting dibandingkan saling menyalahkan. Begitu banyak nyawa dan pekerjaan yang hilang, begitu banyak tujuan dan kegiatan yang tertunda karena wabah covid 19 ini. Jadi ketika masih saling menyalahkan satu dengan yang lain, besar kemungkinan mata rantai covid tidak terhentikan.

Seperti yang saya katakan di atas tadi, berbagai kebijakan dan cara pencegahan di negara-negara telah di terapkan demi mencegah penyebaran covid 19 ini. Begitupun dengan Indonesia. Berbagai kebijakan dan kegiatan untuk pencegahan covid-19 yang harus dilakukan oleh seluruh warga negara, telah di sampaikan oleh pemerintah dan telah diberlakukan di setiap daerah. Mulai dari sosial distancing/physical distancing, karantina wilayah, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), bahkan bisa jadi dari kebijakan-kebijakan itu akan berujung ke lockdown.

Baca juga : perubahan peradaban akibat wabah

Dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, tidak langsung diterima oleh masyarakat. Masih adanya pro dan kontra dari warga negara. Terus kontra-nya dimana? Kontra karena kebijakan tersebut diterapkan pada lingkungan yang menjadi tempat  masyarakat mencari nafkah (tempat umum, pasar, jalanan, warung, dll). Sehingga mereka berpikir bahwa kebijakan tersebut membatasi mereka dalam mencari penghasilan untuk memenui kebutuhan hidup. Dari sini, timbullah pertanyaan Apakah pemerintah sanggup memenuhi kebutuhan hidup masyarakat selama pademi covid 19 ini berlangsung atau pemerintah hanya mengelurkan kebijakan tanpa memikirkan nasib kedepan dari masyarakat ?”

Pertanyaan itu merupakan tugas besar bagi pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi dan Maruf Amin. Tetapi harus kita ingat juga bahwa, kehidupan kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada tangan pemerintah. Kita juga harus memiliki cara atau inovasi tersendiri dalam menghadapi covid-19 ini. Disini kita harus berpikir bahwa kebijakan pemerintah di berlakukan, memang nyata membatasi kegiatan kita sehari-hari tetapi tidak bisa menghentikan sepenuhnya. Kita harus bisa berpikir bahwa inovasi apa yang harus dilakukan di tengah wabah covid 19.

Virus Corona memang membatasi kita untuk beraktivitas tapi tidak untuk berkreatifitas. Corona bisa menghalangi kita bertemu, tetapi tidak bisa mengalangi kita untuk saling membantu. Lewat tulisan ini saya mengajak kita mampu harus membantu yang membutuhkan bantuan sesuai kondisi. Jangan melihat latar belakang identitas dan asal, tetapi bantulah mereka layaknya keluarga kita. Mereka adalah manusia yang juga membutuhkan hidup dan bantuan, sama halnya dengan kita. Saat ini bukan lagi berbicara soal diri sendiri, tetapi dituntut membangkitkan rasa kebersamaan di tengah wabah global covid-19 ini.

Baca juga : pembuktian nusa tinggi toleransi ntt di tengah pandemi

Kebijakan pemerintah memang bermaksud baik pada dasarnya, tetapi kritikan serta saran dalam menghadapi dan mencegah penyebaran covid 19, tetap harus kita sampaikan. Serta  tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita harus juga memiliki langkah kita sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidup di tengah wabah ini, dengan tidak mengesampingkan rasa kemanusiaan dan kedisiplinan yang tinggi. Karena dengan itulah langkah ampuh memutus rantai covid. Amerika, Rusia, China, dan Italia sebagai bukti bahwa negara maju pun belum tentu bisa menghadapi corona dengan cepat. Melainkan negara yang disiplin rakyatnya yang mampu melawan virus corona (covid 19)  dengan cepat.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya mengutip perkataan dari presiden kita yang bisa kita terapkan dalam setiap masalah yang kita hadapai. Katanya begini “ketika kita jatuh , kita bangkit lagi, jatuh bangkit lagi!! Kita harus tetap yakin dan  percaya bahwa didepan sana ada satu titik terang yang kita tujuh.”  Dengan kepercayaan bahwa semua kisah pasti ada akhirnya. Percayalah, dibalik awan gelap terdapat terang.

Baca juga : covid 19 dan tradisi cium hidung orang sumba


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun