Opini

Pandemi Menguji Pendidikan Yang Lagi Uji Coba Teknologi

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Sigit Allobunga’

Semenjak pandemi hadir di kehidupan kita beberapa bulan lalu, berbagai tantangan dan segala ativitas terhambat. Berbagai aspek yang akan menunjang kemajuan negara meredup. Yang diakibatkan ketidaksiapannya negara kita menghadapi pandemi Covid-19. Yang kemudian mengakibatkan kerugian di berbagai bidang. Seperti ekonomi, pendidikan, kebudayaaan, pemerintahan, dan bidang-bidang lainnya.

Tantangan yang dirasakan yaitu mulai dari mata uang melemah terhadap dolar, ekonomi anjlok, pemerintahan kacau, hingga pendidikan yang simpang siur. Mata uang sempat melemah hingga Rp 16.190 per dolar AS. Lalu kembali menguat ke angka Rp 14,759 per dolarnya pada awal bulan Mei 2020. Selain itu, pemerintahan juga kacau dengan mempertontonkan ketidaksiapannya menghadapi masyarakat Indonesia di tengah pandemi. Seperti mundurnya dua staf khusus milenial Presiden. Mundur karena tidak sanggup menghadapi kritikan masyarakat Indonesia yang dilayangkan kepadanya. Kekacauan pemerintahan juga telah menjalar hingga pemerintah daerah. Pemerintah daerah tidak mampu memisahkan kepentingan pribadi dengan kewajibannya membantu masyarakat. Dapat dilihat dari beberapa Bupati memanfaatkan masa pandemi untuk kampanye. Kacau bukan?

Lalu bagaimana dengan pendidikan kita di tengah pandemi? apa yang telah menjadi tantangannya? Sebelum terlalu jauh membahas, saya akan menjelaskan pernyataan seorang teman beberapa waktu lalu. Semoga dari penjelasan ini, bisa mendapatkan jawaban seputar kendala pendidikan saat ini. Pernyataan itu berbunyi “tenaga pendidik di masa pandemi ini, kebanyakan kaget dengan aturan belajar dari rumah”

Baca juga : pendidikan di tengah covid 19

Maksud dari pernyataan tersebut mengarah pada kemampuan dari kebanyakan tenaga pendidik. Yaitu kebanyakan tenaga pendidik tidak mampu melaksanakan aturan yang telah ditetapkan akibat Covid-19, yaitu belajar dari rumah dengan memanfaatkan teknologi secara efektif. Seperti yang kita ketahui, bahwa metode pembelajaran telah dialihkan menjadi online. Yang artinya, menuntut tenaga pendidik maupun yang terdidik harus mampu memanfaatkan teknologi.

Namun apa daya, keputusan untuk menggunakan teknologi sebagai penunjang pembelajaran, tidak berjalan dengan baik. Masih banyak tenaga pendidik yang tidak mampu memanfaatkan teknologi untuk proses mengajar. Sehingga materi bersangkutan, tidak tersalurkan dengan baik kepada pelajar maupun mahasiswa. Dalam dunia kampus, ada beberapa tenaga pendidik atau dosen yang tidak mampu memanfaatkan teknologi, sehingga materi tidak tersalurkan dengan baik kepada mahasiswa. Aspek penunjang pembelaran online seperti classroom, Zoom, dan sebagainya menganggur tidak digunakan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak juga tenaga pendidik yang berhasil memanfaatkan aspek penunjang pembelajaran tersebut. Meskipun hasilnya tidak maksimal. Kenapa saya katakan tidak maksimal, karena berangkat dari situasi yang saya rasakan, dan juga mendengar langsung berbagai tanggapan dan keluhan mahasiswa lain yang merasakan dampak yang sama. Bagaimana tidak, pembelajaran yang selama ini kita nikmati di kelas yaitu sistem belajar menghafal, diterapkan seratus persen ke dalam dunia online. Benar-benar murni dipindahkan ke online, tanpa perubahan apapun. Sebagai contohnya, seorang dosen mengirimkan materi terus menerus setiap harinya ke classroom, dengan format penulisan yang masih sama dengan penulisan dalam buku ajar aslinya (copy paste dari internet, kemudian mengirimkan ke classroom) . Meskipun ada juga yang mencoba mengubah penulisannya menjadi lebih ringkas. Proses belajar-mengajar sangat tidak menyenangkan. Pertanyaannya, kenapa harus mengirim materi secara terus menerus? Bukankah materi apapun bisa diakses mahasiswa lewat internet seperti youtube dan website? Bukankah lebih baik mengirimkan study kasus sesuai materi yang bersangkutan, tanpa setumpuk materi berbab-bab?

Baca juga : catatan pendidikan seorang pemuda

Sistem  mengajar dengan mengirim materi secara terus menerus kepada pelajar, sudah dihimbau oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berapa waktu lalu kepada tenaga pendidik, untuk tidak dilakukan “Belajar di rumah, tidak berarti memberikan tugas dan materi yang banyak kepada siswa atau mahasiswa, tetapi menghadirkan kegiatan belajar mengajar yang efektif sesuai dengan kondisi daerah masing-masing” (detikNews). Pernyataan itu sepertinya tidak diindahkan oleh beberapa tenaga pendidik, dan masih terus-menerus bertahan dengan metode mengajarnya yang tidak membangun, dan tanpa kreativitas sebagai intelektual.

Lalu banyak juga tenaga pendidik yang sebenarnya ingin mengikuti himbauan pemerintah tersebut, tetapi terasa mustahil. Khususnya para tenaga pendidik yang ada di pelosok. Mereka tidak memiliki aspek yang memadai seperti komputer, dan internet. Dalam kesehariannya, tidak bisa memantau anak didiknya lewat online. Sehingga ada pendidik yang mulai menggunakan metode ajar dari rumah ke rumah siswa, hanya untuk memastikan anak didiknya belajar. Seperti yang dilakukan oleh Pak Avan, guru di salah satu sekolah yang ada di kabupaten Sumenep, Madura, mengajar dari rumah ke rumah karena siswanya tidak memiliki ponsel. Dia dengan senang hati melakukan itu, meskipun tahu bahwa sangat beresiko dan rentan terpapar virus Corona.

Baca juga : kondisi pendidikan di dusun kasambi

Dari penjelasan tentang dosen yang masih bertahan dengan sistem mengajar yang terkesan tanpa kreativitas, hingga ketidakmerataan aspek pendukung pendidikan, memberi jawaban bahwa kita belum mampu mengubah sistem pendidikan seutuhnya. Seperti yang dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang ingin menerapkan pendidikan berbasis teknologi. Tenaga pendidik bangsa Indonesia kebanyakan masih belum siap.

Itulah sedikit jawaban atas wajah pendidikan kita di tengah pandemi ini. Yang metode belajar-mengajarnya di dunia online, adalah hasil salin dari metode-metode lama yang jauh sebelum pandemi.

Selamat Hari Pendidikan Nasional


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *