Opini

Kemunafikan Perjuangan kesetaraan

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Ekravilo Amfotis

Perjuangan yang dilakukan perempuan selama ini tidak pernah mengkhianati proses. Jutaan perempuan telah menikmati kebebasan dan menjadi diri sendiri. Hal yang membanggakan bagi perempuan Indonesia yang selama ini memperjuangkan dan melindungi nilainya. Namun adakalanya perempuan dalam perjuangannya perlu memiliki waktu jeda. Bukan karena tidak ingin berusaha lagi, melainkan sebagian perempuan diperhadapkan dengan salah satu kondisi misalnya jatuh cinta atau berjumpa dengan laki-laki aktivis yang katanya “memiliki perhatian terhadap perjuangan perempuan”. Perempuan aktivis akhirnya berada dibalik jeruji jatuh cinta yang menjebaknya sendiri.

Jatuh cinta sebagai wujud melanggengkan kehidupan yang sangat nyata dan tidak bisa dihindari oleh siapapun. Perempuan yang merdeka atau yang mengaku merdeka, sering saja terjebak dalam situasi ini. Bukan sebuah kesalahan, melainkan karena jatuh cinta dan mencintai adalah pilihan setiap orang. Semacam hukum alam yang tidak bisa ditentang. Perempuan aktivis yang bekerja sesuai bidangnya (ekologi, kesehatan dan pemberdayaan)  cenderung akan tertarik dengan pesona laki-laki aktivis.

Laki-laki aktivis dimata perempuan sangatlah diagungkan. Memiliki kekuatan mediasi, pemimpin, berani menyampaikan pendapat, menulis, tegas dan berkarya. Apalagi sering memegang toa saat berdemo dengan gaya khas tersendiri. Hal ini membuat perempuan siapapun akan mendekat dengan berbagai cara. Sehingga tidak sedikit perempuan yang menginginkan pasangan hidupya seorang aktivis. Sebagian laki-laki aktivis tentunya juga akan tertarik dengan perempuan sepergerakannya. Misalnya sesama aktivis, memiliki konsep berpikir yang sama, dan bersama memperjuangan perempuan dalam kesetaraan.

Baca juga : masturbasi berpikir perempuan pada kaumnya

Tidak menutup kemungkinan banyak laki-laki aktivis juga yang peduli terhadap perjuangan perempuan. Mulai dari membuat konsep, membahas teori-teori perempuan, sampai melakukan tindakan nyata demi membela kaum perempuan. Hal ini tentunya baik adanya. Gambaran bahwa sebagian laki-laki telah memiliki kesadaran untuk menjadi setara. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah aktivis laki-laki betul-betul  peduli terhadap masalah perempuan?

Jangan terjebak. Sebagian bukan peduli melainkan hanya berempati. Jatuh cinta kepada laki-laki aktivis merupakan hal yang sah, tetapi jangan sampai menghentikan perjuangan sebagai idealisme untuk memberdayakan semua perempuan. Perlu diakui bahwa kebanyakan dari mereka paham terhadap teori, konsep dan lainnya, tetapi tidak dalam penerapannya. Sebagian laki-laki aktivis seutuhnya tidak mampu mengimplementasikan semua teori yang dipahami. Apalagi dari mereka masih ada yang memegang teguh sistem patriarki.  Banyak sekali ditemukan laki-laki “aktivis” yang dalam kehidupannya melakukan kekerasan terhadap perempuan saat pacaran, masih merendahkan perempuan baik dari segi berpakaian, melakukan body shaming, membandingkan perempuan dengan lainnya,  sampai pada pemaksaan mengontrol secara penuh kehidupan perempuan sebagai pasangannya.

Seakan teori dan perjuangan yang dilakukan hanyalah narasi dan tindakan kosong, sebagai strategi agar perempuan tunduk dan mengaguminya. Benar kata Muhidin M. Dahlan dalam novelnya yang berjudul  Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, yang keras menjabarkan bahwa “petualangan seksnya, tersingkap topeng-topeng kemunafikan dari para aktivis laki-laki yang meniduri dan ditidurinya – baik aktivis sayap kiri maupun sayap kanan”. Aktivis laki-laki yang paham tentang konsep perjuangan perempuan, justru menjadi penghancur dalam meruntuhkan pemahaman perempuan itu sendiri. Bahkan, aktivis laki-laki ketika berjumpa dengan selangkangan, segala idealisme dan teori, ketangkasannya akan hilang sebagai seorang yang dikagumi oleh perempuan.

Baca juga : perempuan lingkaran setan misoginisme

Dalam hal ini juga penulis tidak bermaksud menyudutkan laki-laki aktivis, melainkan menjadikan tulisan ini untuk menyapa kesadaran perempuan merdeka yang masih terbelit dalam jeruji laki-laki aktivis. Yang masih mengagumi tanpa batas kecerdasan penuh kemunafikan. Yang idealisme terpatahkan saat jatuh cinta atau siapapun yang mengalami kondisi serupa. Ada jeruji yang harus perempuan taklukkan tanpa belenggu dan dengan mata terangkat. Perempuan sejati bukan hidup hanya berbantal lelaki, tetapi bukan berarti tidak membutuhkan lelaki dalam berjuang.

Kekritisan perempuan ketika berhubungan dengan cinta, cenderung hilang dan musnah. Sepertinya akar dalam memahami makna dan nilai perjuangan sangat rapuh. Setiap orang bisa menjadi aktivis untuk dirinya sendiri, ketika ia sudah tuntas menyadari tujuannya. Perempuan tentunya membutuhkan patner yang mampu untuk mendukung satu sama lain, bukan untuk menjatuhkan. Perjuangan harus terus dilanjutkan. Perempuan perlu lagi mengevaluasi diri dan sadar betul alasan memilih dan menetapkan seorang laki-laki aktivis sebagai patner hidup.

Baca juga : perempuan dalam pusaran kapitalisme


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *