Cerpen

CIA Sang Socrates Muda – PART 1

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Sultan Hermanto Sihombing

Di sebuah kota yang sangat maju, hiduplah dua orang kakak beradik bernama Justi dan Cia. Justi adalah anak yang sangat rajin, baik dan taat. Sedangkan Cia, adalah anak yang suka bertanya, cantik, tapi sangat polos. Mereka bersekolah di tempat yang sama. Yaitu Sekolah Dasar Negeri Kesadaran. Justi memasuki semester baru kelas 4 (empat).  Sedangkan adiknya, Cia, baru masuk menjadi siswa kelas 1.

Pada hari pertama Cia masuk di sekolah bersama kakaknya Justi, menggunakan seragam yang sama. Seragam merah putih. Mereka bergandengan tangan berjalan menuju sekolah. Di pertengahan jalan, tiba-tiba Cia bertanya..

“Kak Justi, kenapa baju kita sama? Tanya Cia dengan begitu polosnya sambil menatap ke atas, muka Justi.
“Karena aturan sekolah kita seperti itu Cia” jawab Justi.
“Apa itu aturan sekolah kak?” tanya Cia lagi.
“Aturan sekolah itu adalah sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Contoh kita harus menggunakan baju seragam ini, baju putih dan celana merah, kemudian pakai dasi, sepatu hitam dan kaus kaki putih. Kalau tidak, kita tidak boleh masuk ke sekolah atau dihukum” jawab Justi menjelaskan sambil melihat dan memegang pakaiannya.

Dengan wajah polos, gigi kelinci dan pipi bengkak seperti bantal, Cia semakin bingung dan melanjutkan pertanyaannya “Apa itu dihukum kak?” 
“Jadi begini, kalau semisal kamu tidak memakai baju dan berlarian di halaman rumah, mama bilang apa? Kamu kena marah dari mama bukan?” jawab Justi.
“Iya kak, di jewer sama mama” sahutnya dengan semangat.
“Begitulah kalau kita melanggar aturan di sekolah Cia, kita bisa kena marah”
“Terus dimarahi itu termasuk hukuman kak?” tanya Cia lagi menggebu-gebu.
“Bisa dibilang begitu. Tetapi ada lagi beberapa jenis hukuman Cia, masih banyak” jawab Justi.

Baca juga cerpen : toott temu pisah

Di sela percakapan mereka, tiba-tiba terdengar suara nyaring “Ting…tong.. ting..tonggg”
“Ayo Cia kita berlari, bel sekolah sudah berbunyi, nanti kita terlambat dan kena marah dari guru” kata Justi mengajak sambil menarik tangan Cia yang digandengnya. Mereka berdua berlari menuju gerbang sekolah.

Si Cia yang imut dan polos itu berlari dengan berbekal banyak pertanyaan.

Bersambung…

Baca juga : hari ini tentang bumi pelajar

Gimana? asyik ngak ceritanya? ditunggu ya cerita selanjutnya…


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *