Cerpen

CIA SANG SOCRATES MUDA– PART 2

titikalinea.com
Bagikan ke :

Baca Part 1 : cia sang socrates muda-part 1

Pukul menunjukkan arah tujuh lewat lima belas di jam tangan yang tertempel di tangan Justi. Para siswa baru dan siswa lama berbondong-bondong menuju lapangan sekolah untuk berbaris. Justi mendampingi Cia adiknya untuk mengikuti kegiatan baris-berbaris, yang pertama sekali dia lakukan.

“Cek.. cekk” terdengar bunyi pengeras suara dari tengah lapangan, dan disana berdiri seorang lelaki berkumis panjang dan berkepala botak. Dia mengarahkan para siswa untuk membentuk barisan, dan mengarahkan supaya para siswa berhenti berbicara serta fokus mendengarkan pengarahan. Sedangkan Justi dan Cia masih berdiri bersama di barisan yang belum dipisahkan berdasarkan kelas.
Semua barisan sudah tertata rapi. Bapak Caesar, lelaki berkumis dan berkepala botak yang berdiri ditengah lapangan tersebut mulai berbicara.

“Selamat pagi anak anak” Sapanya dengan nada yang terdengar keras.
“Selamat pagi pak” jawab siswa siswi yang baru dan lama dengan serentak.
“Kita sudah memasuki tahun ajaran baru, dengan anak-anak baru yang pastinya masih segar dan wangi. Saya harap semua siswa dan siswi baru, menikmati proses belajar-mengajar di sekolah” Lanjutnya.

Sementara itu, Cia si anak imut dan polos itu, tidak bisa fokus. Dia masih dihantui rasa penasaran dengan pembicaraan mereka yang belum tuntas tentang hukuman bersama kakaknya Justi.

“Kak Justi, maksud kakak tentang ada beberapa jenis hukuman itu bagaimana?” Cia tiba-tiba bertanya di tengah pengarahan Pak Caesar.
Justi menjawab, “ohh adikku yang lucu dan banyak tanya, hukuman itu ada beberapa jenis. Mulai dari hukuman yang ringan yaitu dimarahin, hukuman dipermalukan, hukuman sekolah, hukuman dari polisi dan banyak lagi. Kita akan bahas itu lagi nanti di rumah bersama ayah, karena kakak bingung menjelaskannya. Kita bahas hal lain saja”
“Yaudah kak, tapi kakak janji harus ajarin saya ya? Cia mempertegas.
“Iya adikku” Jawabnya dengan lembut.

Baca juga : tahi dalam kresek

Dalam kegiatan berbaris, Cia menatap sekitarnya selama sepuluh detik. Dan tiba tiba terngiang sesuatu dipikirannya dan langsung menyambar tanya kepada kakaknya.

“Kak, kenapa sih kita harus baris begini, kita kan kesini mau belajar, bukan mau berjemur di bawah sinar matahari?” tanya Cia yang sedikit kebingungan.
“Jadi kita berbaris itu untuk mendengarkan pengumuman siswa baru, mendengarkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Seperti tadi kata Bapak Caesar, ketika kita berbaris kita dilarang untuk berbicara. Kalau kita berbicara, kita nanti akan kena hukuman karena melanggar aturan dik, sehingga kita harus diam supaya tidak di hukum” jawab Justi menjelaskan.
“lah, emangnya kalau berbicara kita di hukum kak?” tanya Cia lagi yang semakin kebingungan atas jawaban Justi.
Justi menjawab : “eee…” tiba-tiba terdengar suara Pak Caesar menyuruh siswa untuk bubar barisan. Dan pertanyaan Cia tidak sempat di jawab oleh Justi. Justi beranjak ke kelasnya dan Cia masih disuruh menunggu di barisan untuk mendengarkan pembagian kelas.

Bersambung

Penulis :
Sultan Hermanto Sihombing. Hobi membaca dan menulis.

Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun