Cerpen

Lenyapnya Ketakutan Oleh Bantuan Sosial Yang Tersesat

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Sigit Allobunga’

Wabah yang tidak pernah dinanti kedatangannya, menyerang berbagai tempat di sebuah pulau. Namun, dampaknya turut dirasakan Desa ku yang hijau. Orang-orang dengan latarbelakang keluarga, perilaku, dan pendapatan yang berbeda pun ketakutan. Juga teman-temanku yang baik dengan wajah sedikit gagah dan cantik, juga ketakutan.

Ketakutan penduduk Desa ku, bertumbuh besar sejak dua bulan terakhir, ketika wabah yang mengerikan itu mulai bertamu dalam diri seorang lelaki muda di sebuah kota-yang tidak jauh dari Desa ku. Syukurlah, tak lama kemudian lelaki muda itu dinyatakan sembuh. Sungguh luar biasa. Ia berhasil mengalahkan ganasnya wabah itu.

Sejak kesembuhan lelaki itu, ketakutan mulai mereda dari penduduk Desa ku. Kemudian ketakutan itu lenyap, setelah Kepala Desa mengatakan bahwa akan ada bantuan beras dan obat-obatan dari pemerintah daerah. Kepala Desa itu berbadan gemuk, bulat bagaikan bola. Matanya merah. Bibirnya hitam bagaikan arang. Mungkin karena dia terlalu banyak mengisap rokok kretek.

Baca juga : bahagiaku yang menyebalkan

Penduduk Desa bahagia sekali setelah mendengar perkataan Kepala Desa itu. Karena mereka menganggap, doa dan harapannya selama ini akan segera terkabulkan. Begitu juga dirasakan sahabatku Frans dan Robi, mereka sangat bahagia. Frans dan Robi adalah temanku yang sangat baik, suka berbagi, kritis dan juga pemberani.

“wah, baguslah kalau begitu. Saya senang sekali” kata Frans, kemudian menoleh ke Robi.
​”Saya juga. Berarti kita sudah bisa jalan-jalan cari penyakit itu, Supaya dapat obat gratis?” kata Robi bergurau, sambil memegang pundak kanan si Frans yang berdiri di sebelahnya.
​Tiba-tiba.. “Puukk” bunyi perut buncit si Robi yang kena pukul tangan kanan Frans. Keras sekali. “jangan bilang begitu !” lanjut Frans memarahi.
​”Uuh aa.. Kapan lagi kita dapat bantuan dari pemerintah?” kata Robi sambil mengelus perut buncitnya yang kesakitan.
​”Iya ya? benar juga. Sudah lama kita dianaktirikan oleh pemerintah, tidak ada bantuannya” kata Frans.

Seiring berjalannya waktu, bantuan itu datang di tangan pak Kepala Desa berkat kerja keras Akil. Akil mengurus pengangkutannya dari kota yang jauh dari Desa ku. Bantuan itu diangkut dengan 2 mobil dan dibantu 5 pemotor, termasuk Akil yang menggunakan motor Revo hitam kesayangannya. Akil adalah seorang lelaki gagah, pintar, badan besar dan pekerja keras. Berkat kepintaran dan sifat kerja keras yang dia miliki, Akil diangkat oleh penduduk Desa ku menjadi Sekertaris Desa, berpasangan dengan Novanto, Kepala Desa yang gendut dan bermata merah itu.

Baca juga : toott temu pisah

Keesokan harinya setelah mentari berhasil tumbuh di atas kepala,  bantuan itu berhasil diangkut dan telah tertumpuk rapi di gudang kantor desa yang sederhana. Banyak sekali. Ada duapuluh (20) dus obat-obatan dan enam puluh (60) karung besar beras  yang kualitasnya baik. Tak berbatu, bersih dan putih seperti mutiara. Tak beda jauh dari beras yang sudah lama dikonsumsi penduduk Desa ku dari hasil panen di sawah sendiri.

“Pak, Berasnya kapan kita bagi?” tanya Akil kepada Pak Kepala Desa yang gendut itu.
​”Kita bagi yang obat saja!” kata Pak Kepala Desa itu menjawab.
​”lalu? bagaimana dengan beras, Pak?” tanya Akil sambil menunjuk tumpukan beras.
​”Bsok kita jual murah!. Nanti kita cari alasan untuk meyakinkan mereka, bahwa beras sebenarnya tidak gratis !” kata Pak Kepala Desa sambil memainkan kumisnya yang panjang.
​”maksudnya, kita bohongi masyarakat?” tanya Akil sedikit ketakutan.
​”Iyaa Betul” Sahut Pak Kepala Desa dengan suara nyaring seperti tak bersalah.

Akil sang Sekertaris Desa sangat kaget mendengar rencana itu, lalu akhirnya berunding dengan hati nuraninya. Dia ketakutan, hingga beberapa kali menarik nafas dalam-dalam dan sesekali menggaruk-garuk kepalanya.
​”Ok, Aku setuju !” kata Akil kepada Kepala Desa memutuskan.

Akil ikut mendukung rencana Kepala Desa, karena tak bisa menyisihkan sedikit kebaikan dan komitmen melayani dalam dirinya. Menurutnya, taat dan nurut terhadap atasan meskipun berniat jahat, adalah keharusan. Akil tak sejalan dengan karakternya, yang selama ini penduduk Desa ku kenal. Dia ternyata laki-laki besar, pintar dan pekerja keras yang pengecut.

Baca juga : terjadinya diskriminasi karena hukum

 Hari itu, mentari semakin menjauh menuju peristirahatannya, ditemani rerumputan tak tenang karena angin yang bersiul. Malam hampir tiba, sedangkan Pak Kepala Desa bersama Sekertarisnya  masih sibuk menyusun alasan untuk menipu rakyatnya. Dan mereka berhasil menggenapkannya setelah mentari benar-benar hilang di ujung barat.

Keesokan harinya, Si Kepala Desa bersama rekannya, berhasil membohongi ratusan kepala hari itu. Termasuk dua sahabatku, Frans dan Robi. ​Penduduk Desa ku tak berdaya melawan kebohongan dan kesewenang-wenangan pemerintahnya, karena tak satu pun diantara mereka berpengetahuan tinggi seperti Pak Kepala Desa gendut itu. ​
​Penduduk Desa ku membeli beras yang nyatanya miliknya sendiri.​ Sedangkan dari hasil jualan beras itu, Pak Kepala Desa kemudian dengan senang hati melahapnya dan dansa di atas kelimpahannya.


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun