Opini

Indonesia? Pemuda Mulai Berpikir?

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Sigit Allobunga

Kalimat “Indonesia? Terserah!!! suka-suka kalian saja” yang saat ini masih menjadi trending di dunia maya, membuat sebagian masyarakat berempati. Karena mereka menganggap para medis sebagai pahlawan penanggulangan Covid-19 yang menjadi garda terdepan selama ini akhirnya menyerah.

​Banyak masyarakat yang mulai menunjukan empati lewat sosial media, seperti akun instagram atas nama @bimohanandito “Capek Dok, pemerintah gerakannya acak-acakan, masyarakatnya nafsu mudik semua. Bubar dah bubar,” ungkapnya mengomentari foto tim medis yang membentangkan kertas bertuliskan “Indonesia? Terserah !!! suka-suka kalian saja” itu. Selain itu, kekecewaan juga dilayangkan akun atas nama @dianndee18​ “Sediiiiih Dok, keterlaluan banget mereka, egois dan menyakiti kita yang sudah 2 bulan diam diri di rumah,” katanya ikut mengomentari. Dan masih banyak lagi komentar-komentar kekecewaan serupa di kolam komentar tersebut.

​Mereka sangat kecewa terhadap kebanyakan masyarakat yang tidak mampu mengindahkan aturan pemerintah seperti social distancing, stay at home, work from home, dan lain sebagainya. Banyak masyarakat yang masih melakukan aktivitas di luar rumah, bahkan ada yang berbondong-bondong ikut seremonial penutupan salah satu tempat di tengah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Ada juga yang berdesak-desakan di salah satu bandara, yang sangat jelas melanggar aturan jaga jarak. Lebih mirisnya lagi, ada yang memiliki popularitas di kalangan masyarakat yang seharusnya ikut mengampanyekan aturan tersebut, malah ikut melanggarnya. Adohh..Parah.

Baca juga : beberapa kesalahan berpikir bangsa indonesia yang terus menjebak

​Himbauan yang dikeluarkan pemerintah sebagai langkah memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19, sudah tidak dipatuhi beberapa masyarakat akhir-akhir ini. Alasannya karena masyarakat telah dilema kebutuhan sehari-hari yang mulai menipis, sehingga terpaksa keluar rumah mencari tambahan pendapatan. Ada juga terpaksa keluar rumah karena merasa bosan kurung diri, dan ada juga yang keluyuran karena menganggap Covid-19 tidak begitu berbahaya.

Tak sedikit juga pemuda yang keluyuran di luar rumah yang sempat terekspos media. Apa yang membuat mereka menjadi sangat kepala batu tak mau ikuti aturan? apakah menganggap dirinya kebal?

​Sebelum menjawab, saya ingin berbagi pandangan beberapa pemuda yang saya temui beberapa hari lalu di depan Student Center (SC) organisasi yang saya ikuti. Warung dan SC tidak jauh, hanya beberapa langkah saja. Waktu itu sekitar jam 19.15 WIB, mereka berkumpul di warung dan tampaknya telah memasan kopi.  Saya kemudian memakai masker dan langsung menghampirinya dengan menanyakan seputar alasan, kenapa tetap berkeliaran dan tak mematuhi aturan?

​​Mereka mulai bercerita dan mengatakan bahwa virus Corona tidak terlalu berbahaya. Pernyataan mereka itu persis seperti yang dikatakan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI), Terawan Agus Putranto beberapa waktu lalu ketika virus Corona resmi dinyatakan telah menjangkit dua warga negara Indonesia “Padahal flu batuk pilek yang biasa terjadi pada kita itu angka kematiannya lebih tinggi daripada yang ini, corona. Tapi kenapa ini bisa hebohnya luar biasa?” ujar menteri kesehatan, di Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (2/3/2020) (detiknews)

Baca juga : satu titik terang

​Pemuda-pemuda ini berkata tidak langsung percaya begitu saja dengan pernyataan menteri kesehatan itu, tetapi sebaliknya. Mereka menganggap terlalu berbahaya seperti yang diberitakan media sebelumnya tentang bahaya dan dampak virus Corona di luar negeri.  Terbukti mereka mengikuti aturan pemerintah untuk di rumah saja, dan melakukan aktivitas perkuliahan online setelah statistik warga Indonesia yang terjangkit Corona meningkat dan aturan-aturan, resmi di jalankan.

​Selama masa pandemi, mereka mengikuti perkembangan Covid-19 lewat media seperti web, medsos, dan channel youtube. Akhirnya mereka menjangkau channel youtube yang membahas tentang teori konspirasi yang mengatakan bahwa virus Corona tidak lebih bahaya dari penyakit lain sperti flu, demam, dll. Juga terang-terangan membahas bahwa Corona bagian dari permainan elit global. Sebut saja channel itu adalah Spritual Hipnoterapi.

Mereka yang mendengar teori konspirasi itu, langsung teringat dan menghubungkan pernyataan menteri kesehatan beberapa waktu lalu. ​Sebagian mereka menilai pernyataan itu benar, karena sekelas menteri menurut mereka, bukanlah orang dungu. Juga mereka mengaku telah terpengaruh dengan penjelasan channel Spritual Hipnoterapi. Mereka menegaskan percaya, karena mereka berpikir.

Baca juga : virus dan pemuda kepala batu

​Channel youtube, keberadaannya hampir menjangkau semua masyarakat Indonesia yang berinteraksi dengan teknologi gadget,  sehingga tak bisa dipungkiri bahwa banyak masyarakat menonton dan mulai tertarik dengan teori konspirasi di beberapa channel. Banyaknya masyarakat yang tertarik, dapat dilihat dari jumlah penonton video unggahan channel Spritual Hipnoterapi tersebut. Ada video penjelasan dinonton hingga ratusan ribu orang.

​Selain channel youtube Spritual Hipnoterapi yang membahas tentang teori konspirasi, juga beberapa publik figure yang penontonnya jauh lebih banyak, ikut membahas teori konspirasi tentang Corona tersebut. Mereka mengatakan bahwa Corona sebenarnya tidak terlalu berbahaya, malainkan karena media memberitakannya terlalu berlebihan, sehingga terkesan sebaliknya dan membuat masyarakat panik dan ketakutan.

​Berdasarkan penjelasan di atas dengan melihat banyaknya pemuda dan masyarakat Indonesia keluyuran tak mengindahkan himbauan pemerintah, dapat menjadi titik terang mengetahui alasan mereka. Mungkin mereka telah menjadi penikmat dan penonton setia teori-teori konspirasi. Dan jangan-jangan mereka berhasil menelan mentah-mentah teori itu?  Entahlah….

Baca juga : sebuah kajian perspektif kristen bagi pemuda untuk menjadi pendamai


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *