Opini

Bukan Homo Homini Lupus Tapi Homo Homini Socio

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Bryan Caesar Mahaputra Beko

Berbicara soal mengkritik dan dikritik, merupakan sesuatu hal yang sangat perlu bagi setiap warga negara kepada pemerintah.  Apalagi saat ini kita sedang berhadapan dengan masalah global yaitu Covid-19.

Dalam tulisan ini, saya khususkan untuk negara Indonesia.  Kasus pertama terkait Covid-19 di Indonesia yang diberitahukan oleh Bapak Presiden Jokowi  pada  tanggal 2 maret 2020 lalu, menjadi awal problematika yang berujung kritik mengkritik di tengah pandemi. Yang artinya kita telah berperang melawan virus ini selama 2 bulan lamanya. Berbagai kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam menghadapi wabah ini sebagai langkah memutuskan mata rantai penyebarannya, namun juga beberapa menuai kritikan.

Apa yang harus dikritik di tengah pademi ini ? Apakah hanya dengan kritik sudah cukup,  tanpa adanya wujud nyata dari hasil mengkritik dan dikritik ? atau kritik hanya ditujukan kepada kebijakan pemerintah yang selalu menimbulkan pro dan kontra?! Saya rasa belum cukup hanya mengkritik saja tanpa adanya suatu aksi nyata atau kerjasama antar masyarakat dengan pemerintah.

Baca juga : indonesia terserah perlawanan dari tim dokter

Perlu adanya suatu aksi atau gerakan dari semua kalangan masyarakat yang bersifat edukasi kepada sesama masyarakat, dengan tetap mengikuti protokol dari pemerintah.  Terus edukasinya dalam bentuk apa?  Nah, disini kita diuji bukan hanya berkoar-koar dengan mengkritik kebijakan pemerintah saja. Tetapi juga terobosan apa yang harus kita sampaikan kepada sesama yang bersifat eduksi dan persuatif dalam mencegah, mengurangi dan memutuskan rantai penyebaran Covid-19 ini. ”Terus dengan cara apa edukasinya?” Manfaatkan teknologi, buat konten yang bersifat edukasi tentang  Covid-19 dan segala macam konten yang mendidik. Percuma dengan begitu banyak kebijakan pemerintah kalau masyarakatnya tidak disiplin karena tidak adanya pemahaman tentang Covid-19.

Saya sendiri sudah capek (muak) dengan segala kebijakan dan statement yang dikeluarkan oleh pemerintah mulai dari social distancing, sampai saat ini yang lagi menjadi buah bibir adalah new normal yang di samapaikan presiden Jokowi, yang selalu saja mendapat kritikan negatif. Kita boleh saja mengkritik pemerintah dan pemerintah juga harus siap untuk dikritik. Tetapi apakah kita sudah mengkritik diri sendiri (mengintropeksi diri) tentang apa yang telah kita bagikan atau apa yang kita lakukan selama pademi ini? atau hanya menunggu kebijakan pemerintah lalu mengkritiknya? Kalau memang keadaan ekonomi dan lain-lain tidak memungkinkan untuk memberi bantuan kepada orang lain, masih ada hal paling sederhana yang dapat kita lakukan, yaitu memberikan suatu konten, gerakan, himbauan yang bersifat edukasi tentang Covid-19 kepada sesama.

Baca juga : tagar indonesia terserah suntikan buat pemerintah dan masyarakat

Jangan salah artikan setiap kebijakan yang disampaikan oleh pemerintah Indonesia. Kita memang dihimbau untuk tetap di rumah bukan berarti tidak boleh keluar sama sekali. Boleh keluar rumah dengan catatan tetap mengindahkan atau mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah. Tindakan itu merupakan salah satu wujud nyata kerjasama antara masyarakat dan pemerintah. Disisi lain, pemerintah harus tetap mengikuti dan terus memantau perkembangan pandemi ini.  Terkhususnya pemerintah di daerah kecil. Jangan karena wilayah yang kalian tempati  tidak termasuk dalam Zona Merah Covid-19 dan jumlah pasien Covid-19 sedikit bahkan belum ada, kalian malah bersantai saja tanpa upaya pencegahan. Pesan saya cuman satu “tetaplah waspada dan Jangan menganggap enteng pendemi ini”.

Seseorang dalam tulisannya pernah berkata begini “Kalau berbicara soal menangani para korban yang sudah positif Covid-19, kita serahkan kepada para dokter dan tim medis yang menangani. Tetapi kalau berbicara soal mencegah penyebarannya, saya rasa ini menyangkut semua elemen masyarakat saja”. Memang benar yang dia katakan, tugas kita sekarang adalah mencegah, memotong atau memangkas rantai penyebaran virus ini. Karena kalau tidak, keadaan ini akan tetap terus berlangsung dengan waktu yang lama. Sudah banyak para pakar dan ilmuan yang mengatakan secara garis besarnya, wabah ini akan berlangsung lama, jika tidak ada kesadaran untuk berhati-hati.

Baca juga : tulisan Bryan Beko lainnya

Maka dari sinilah kita harus tunjukkan, bahwa kerjasama antara pemerintah dan masyarakat sebagai bangsa Indonesia yang hidup dalam keberagaman di bawah ikatan pemersatu “ Bhineka Tunggal Ika”, untuk saling mengedukasi, saling menghimbau, saling membantu dalam peperangan melawan wabah ini. Kita harus buktikan bahwa kebersamaan dalam keberagaman itu “nyata adanya” di bangsa ini. Dengan tidak hanya mengeluarkan kritikan saja, tetapi wujudkanlah dalam bentuk nyata setiap hal yang bermanfaat bagi sesama.

Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip kalimat yang diperkenalkan dan dipopulerkan kembali oleh Thomas Hobbes dalam bukunya yang berjudul De Cive “Kita bukan lagi sebagai Homo Homini Lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya) yang memiliki makna saling menjatuhkan satu dengan yang lain. Tetapi kita adalah Homo Hommini socio (manusia adalah makhluk sosial atau manusia adalah teman bagi sesama manusia).


Bagikan ke :

1 thought on “Bukan Homo Homini Lupus Tapi Homo Homini Socio”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun