Opini

Motivasi dan Produktivitas Masa Pandemi COVID-19

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Grandy Umbu Endalu Radandima

Sebelum pandemi Covid-19 berdampak dibeberapa negara termasuk Indonesia, seluruh aktivitas manusia berjalan secara normal. Kejadian ini, sangat berbeda dengan keadaan sebelumnya. Pada hari Sabtu, 16 Mei pada jam 15.00 WIB, saya mengikuti Webinar session with GAMKI “The Next Level of Kartu Pra-Kerja” salah satu narasumber Hokkop Situngkir (Executive Director IDNextLeader dan Pengamat BUMN) mengatakan bahwa, musibah non alam virus pandemi Covid-19 memberikan dampak peningkatan dan penurunan pendapatan pada beberapa sektor bidang secara drastis dan menciptakan keresahan pada aspek kehidupan manusia saat ini. Dampak dari beberapa sektor bidang yang mengalami peningkatan produktivitas di masa pandemi Covid-19 yaitu perusahaan digital, dan produksi pangan. Sedangkan yang mengalami penurunan adalah industri, pariwisata, dan transportasi. Tentunya, beberapa sektor bidang yang mengalami penurunan pendapatan dan karyawannya diberhentikan (PHK) menjadi perhatian khusus.

Menurut Mayo, dihasilkan antara tahun 1923-1924 di sebuah pabrik tekstil di Philadephia. Pokok penelitiannya ialah tingkat keluar masuknya tenaga kerja yang terlalu banyak disuatu bagian dimana pekerjaan sungguh-sungguh dirasakan melelahkan dan membosankan. Para karyawan biasanya diliput oleh suasana putus asa dan patah semangat setelah ditugaskan di situ. Dan, akhirnya mereka akan kehilangan kesabaran tanpa suatu sebab yang jelas dan secara impulsif keluar dari pekerjaannya.

Kita bisa membandingkan teori Mayo dengan situasi saat ini, dimana pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan PSBB untuk meminimalisir aktivitas di luar rumah dan menganjurkan untuk diam di rumah banyak karyawan yang di berhentikan dari beberapa perusahaan. Penyebab dari situasi yang terjadi saat ini dan kebijakan pemerintah yang dikeluarkan, banyak perusahaan mengalami suasana putus asa merasa kerugian karena perusahaan tersebut tidak menghasilkan produksi dan keuntungan yang maksimal, sehingga menyebabkan pengambilan keputusan untuk memberhentikan karyawan. Ya tentunya, bagi karyawan yang diberhentikan (PHK), menjadi masalah baru bagi mereka dengan tidak menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Disisi lain, setelah karyawan keluar dari pekerjaannya, mereka mengalami stress dan putus asa, sehingga beberapa dari mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan baru. Hal ini menunjukkan kebijakan kartu pra-kerja yang dikeluarkan pemerintah, belum tepat sasaran menjadi solusi di tengah pandemi Covid-19.

Baca juga : Mendengar Suara Hati Di Tengah Pademi Covid-19 Menurut Etika Kristen

Menurut Mayo, telah menemukan dua kebijakan lain yang semakin memperkuat semangat tim di dalam pabrik itu. Pertama, semua karyawan dibayar berdasarkan produksi selama 24 jam, sehingga masing-masing aplusan dapat membantu aplusan berikutnya agar tidak hanya mengulur-ulur waktu sampai jam kerjanya habis. Kedua, karyawan dari masing-masing aplusan itu membuat jadwal libur untuk mereka sendiri. Pokok penting yang dikemukakan Mayo ialah seandainya manajemen kedua pabrik yang lain itu diberi keterangan mengenai bagaimana manajemen pabrik yang pertama menerapkan hubungan manusiawinya, motivasi kerja diharapkan cukup kuat untuk mengimbangi rintangan apapun yang muncul pada hari-hari tertentu itu. Dari apa yang Mayo utarakan kita bisa menerapkan ketika kondisi situasi seperti saat ini, bagaimana jika dana dari program atau hasil dari kartu pra-kerja, dialihkan ke perusahaan-perusahaan yang lebih membutuhkan asupan dana agar tetap berjalan dan digunakan untuk membayar gaji-gaji karyawan. Pastinya proses produksi dalam perusahaan tetap berjalan dan dibayar berdasarkan produksi selama jam kerja berlangsung. Selain pendapatan serta pemasukan dalam perusahaan, kita tetap menjaga semangat tim dalam bekerja dengan menerapkan protokol kesehatan seperti jaga jarak, memakai masker dan dengan cara mengurangi setengah dari seluruh karyawan yang bekerja. Dan karyawan yang telah bekerja akan menentukan waktu liburnya, serta diganti oleh karyawan selanjutnya dalam bekerja. Tentunya selain mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan, diimbangi motivasi kerja dan hubungan manusia tetap terjalin. Sehingga dapat memastikan produktivitas roda perekonomian dan kebutuhan karyawan tercukupi dari pendapatan yang dihasilkan dengan bekerja.

Dengan realita dan kondisi yang terjadi, bagi kebanyakan orang tidak ada jalan keluar dari musibah saat ini. Mereka hanya dapat menyerah dan pasrah dengan keadaannya, tanpa jaminan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mayo menemukan bukti-bukti bahwa sikap hidup yang loyo tersebar luas di antara para pekerja. Ciri sikap itu ialah perasaan kehilangan pegangan, perasaan tidak dibutuhkan, dan perasaan bingung karena sikap lingkungannya yang acuh tak acuh. Kondisi seperti ini dengan tingkat penggunaan teknologi digital yang menuntut untuk melakukan aktivitas serta rutinitas dalam kehidupan sehari-hari, akan mengharuskan dan menyesuaikan untuk menerapkan secara merata dan kesuluruhan hadirnya perkembangan relovusi industri 4.0. Ada dampak kerugian yang terjadi dibuatnya revolusi industri 4.0, yaitu rusaknya keluarga sebagai suatu unit ekonomi pokok yang produktif. Sebelum revolusi industry, para pekerja dipertalikan dengan ikatan cinta, atau paling tidak dengan ikatan kekeluargaan dan kepentingan bersama. Tetapi sesudahnya pekerjaan dilakukan oleh sejumlah besar orang yang tidak saling mengenal, orang yang berkumpul di bawah satu atap, tetapi karena kebetulan ekonomis belaka. Hal ini akan berdampak dimana pekerjaan secara sosial tidaklah menguntungkan lagi. Sebagai manusia juga membutuhkan motivasi dari dirinya sendiri, agar mampu meningkatkan produktivitas di tengah kondisi dan rintangan yang dialami saat ini.

Baca juga : Pemuda Society 4-0

Robert L. Khan mencatat bahwa : Kebanyakan penyelia yang berhasil memadukan orientasi yang berpusat pada karyawan dan yang berpusat pada produksi, menentukan cara mereka sendiri secara kreatif untuk menyintesiskan kedua masalah itu. Apabila pemimpin yang mampu mempengaruhi kebijakan dapat mengutamakan rakyat serta karyawan yang bekerja di rumah makan dan perusahaan-perusahaan lainnya, maka mampu merumuskan kebijakan strategi yang dapat memadukan kreativitas karyawan untuk tetap bekerja menghasilkan produksi secara produktif, serta menerapkan protokol kesehatan yang berlaku. Maka karyawan yang bekerja di perusahaan-perusahaan lainnya tidak banyak yang diberhentikan (PHK), sehingga tingkat kemiskinan tidak bertambah serta kesenjangan sosial berkurang. Adapun tanggapan dari Merry Riana (Entrepreneur & Motivator) ketika berbicara pada Kompas TV, membagikan kiat-kiat agar tetap produktif di rumah dan bagaimana kita menggunakan teknologi secara teratur dan efektif.

Ada tiga hal penting agar tetap produktif melakukan aktivitas :

  1. Participation. Meskipun kita dibatasi ruang gerak untuk melakukan aktivitas, tidak menjadi hambatan untuk kita tetap berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang dilakukan melalui teknologi. Seperti : belajar online, seminar online, ibadah online.
  2. Open Main (Pikiran Terbuka). Dalam setiap aktivitas yang kita jalani, kita harus siap menerima hal-hal baru dan fokus dengan hal-hal yang kita lakukan agar mampu menghasilkan wawasan pengetahuan yang baru dan bertambah. Tentunya, dengan kejernihan pikiran yang terbuka dan harus didasari kesadaran diri.
  3. Action. Apapun yang sudah kita alami melalui pengalaman indra kita, akan menjadi sia-sia apabila tidak dipraktekkan dan tidak dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga : Pemerintah Harus Evaluasi Kartu Prakerja

Ditengah situasi sulit ini, seluruh aktivitas kita dimaksimalkan dalam penggunaan teknologi. Tentunya Merry Riana membagikan tips-tips cara mengatur teknologi agar dalam penggunaannya efektif dan efisien.

  1. Tentukan tanggal, jam dan agendanya. Pada saat kita akan melangsungkan teleconference, kita harus menentukan waktu agar tidak bertabrakan dengan waktu kegiatan lainnya. Serta yang paling terpenting memperhatikan agenda yang menjadi bahan diskusi. Sehingga pada hasil akhir mendapatkan konklusi/simpulan pendapat dari kegiatan tersebut.
  2. Persiapkan materi. Materi-materi yang menjadi pokok pembahasan utama dipersiapkan lebih dulu, agar ketika proses pembahasan substansi dari materi yang ingin di bahas tidak terlewatkan.
  3. Peralatan. Laptop, handphone, audio (microphone, speaker). Aplikasi online / media online seperti whatsapp, zoom meeting, google meet, dan jaringan internet.
  4. Carilah tempat yang nyaman dan kondusif, sehingga mendapatkan ketenangan.
  5. Gunakanlah pakaian yang rapi pada saat video conference/teleconference, karena itu akan menentukan kenyamanan dan meningkatkan percaya diri dalam penampilan.
  6. Time. Diskusi yang berjalan harus ditentukan waktu dalam sesi diskusinya, yaitu pembukaannya, pemaparan materi, sesi tanya jawab, kesimpulan dan penutup. Agar diskusi berjalan sesuai waktu yang ditentukan.
  7. Langkah selanjutnya harus merumuskan strategi/langkah tindak lanjut dari hasil diskusi, sehingga menghasilkan output dan dampak dari apa yang telah didiskusikan

Semuanya akan bermanfaat secara produktif, ketika kita mampu membangun dan melandasinya dengan harapan dan motivasi yang kuat dari diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, selain kita menjaga imun daya tahan tubuh dengan pola makan yang baik, menggunakan masker, handsinitizer, mematuhi protokol kesehatan dan peraturan pemerintah. Dan yang terpenting kita harus mempunyai harapan dan pikiran. Karena sumber penderitaan adalah pikiran. Jadi tetap jaga pikiran, berpikir secara sadar dengan kebutuhan yang ada. Selalu berproses, jangan protes di masa sulit ini, INDONESIA PASTI BISA!

Referensi :
1. Gellerman, Saul W. 1984. Motivasi dan Produktivitas Seri Manajemen No.91. Jakarta Pusat:PT Pustaka Binaman Pressindo.
2. https://www.youtube.com/watch?v=3J6bffYDXEQ. (KOMPASTV; Merry Riana).

Penulis :
Grandy Umbu Endalu Radandima. Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun