Opini

MENAKAR JALAN DAMAI JOKOWI

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Roberto Duma Buladja

Di tengah perjuangan rakyat melawan pandemi Covid-19, Presiden Jokowi membunyikan gong perdamaian. Dalam merdeka.com (23/5/2020), Jokowi berujar bahwa “informasi terakhir dari WHO yang saya terima bahwa meskipun kurvanya sudah agak melandai atau nanti menjadi kurang, tapi virus ini tidak akan hilang. Artinya kita harus berdampingan hidup dengan Covid. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, berdamai dengan Covid.”

Orang nomor satu di Republik ini menegaskan bahwa hidup berdamai dengan Covid-19 bukan berarti menyerah dan menjadi pesimis. Sebab berdamai atau berdampingan dengan virus yang biasanya disebut Corona itu menjadi titik tolak menuju tatanan kehidupan baru (new normal). Mantan Gubernur Jakarta itu juga menambahkan bahwa semuanya bisa dilalui bila masyarakat menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Dengan mengambil sikap demikian, maka aktivitas hidup masyarakat dapat berjalan baik.

Sontak, muncul berbagai tanggapan publik. Salah satunya Jusuf Kalla (JK), yang melemparkan narasi silang (kritik). “Ini kan virus ganas dan tidak pilih-pilih siapa. Tidak bisa diajak berdamai, kalau namanya berdamai itu kalau dua-duanya berdamai. Kalau kita hanya ingin berdamai tapi virusnya enggak, bagaimana,” tegas JK seperti dirilis dalam laman web kompas.com (19/05/2020). Sebagai Wakil Presiden yang pernah mendampingi Jokowi pada periode sebelumnya, ia menyinggung bahwa istilah berdamai dengan Covid-19 dirasanya kurang tepat digunakan atau diucapkan oleh seorang Presiden. Menurutnya, setiap orang dapat terkena virus serta berpotensi meninggal dunia.

Baca juga : Motivasi Dan Produktivitas Masa Pandemi Covid-19

Lantas, pertanyaan yang patut digiring adalah mengapa seorang Kepala Negara dengan beraninya memilih jalan damai di tengah situasi peperangan melawan Covid-19? Apa landasan filosofis yang melatarbelakangi lahirnya pernyataan itu?

Ternyata, sikap Jokowi itu erat kaitannya dengan pemikiran kaum Stocis. Stoicisme sering diartikan sebagai sikap rasional yang pasrah pada logos kosmos. Gambaran kehidupan manusia ala kaum Stoa dapat dijumpai dalam aktivitas keseharian yang tidak bergantung pada hal-hal irasional dan kehendak emosional. Ekspresi kepanikan, ketakutan, keterkejutan dan amarah merupakan gambaran hidup orang-orang yang menolak alur pikir kosmos. Seperti halnya Covid-19 yang keberadaanya tidak dapat dielakkan oleh manusia. Menolak keberadaan makhluk renik itu malah menyeret manusia pada perilaku tidak rasional, tidak bijak, bahkan tidak bahagia.

Ketua Pusat Pemikiran Kritis UKSW, Semuel Lusi dalam catatan kritisnya berjudul Bahagia Ala Kaum Stoicis (2020) menjelaskan bagaimana logika alam semesta bekerja. Ia mengumpamakan seperti seekor anjing yang diikatkan pada kereta. Manusia diandaikan anjing, sementara kereta adalah kosmos. Hidup bahagia itu kalau anjing menyelaraskan geraknya dengan kecepatan kereta, melompat-lompat dengan riang mengikuti kereta yang terus meluncur di rel. Bila tidak mengikutinya, maka ia akan ditarik paksa dan terseret mengikuti kecepatan kereta.

Dalam kerangka pikir Stoicis, hidup manusia harus selaras dengan rasio alam. Siapa yang melawan akan mendapatkan hukuman. Hukuman itu bisa berupa penderitaan, ketidakbahagiaan, dan ketidakdamaian. Bahkan bunuh diri (suicide) menjadi pilihan terakhir ketika manusia tidak mampu mengikuti proses alamiah itu. Dalam ajaran filsafat Stoa, bunuh diri sangat dimungkinkan sejauh hidup manusia sudah tidak lagi sejalan dengan rasio alam.

Baca juga : Dahulukan Pandemi Atau Ekonomi

Jalan damai yang diambil Jokowi itu tentu didasarkan atas pertimbangan yang matang. Ia menyadari betul bahwa sosok (virus) yang tengah melanda dunia ini merupakan hal tak bisa dikendalikan (not up to us). Suatu realitas yang tak bisa ditolak atau diperangi. Menolak atau memeranginya malah semakin membuatnya bertindak irasional dan kacau. Sebab, virus yang tak tampil kasat mata itu tidak bisa diperangi bak peperangan konvensial.

Mengambil jalan peperangan merupakan sikap kelabakan, keteteran, bahkan berakhir kesia-siaan. Amati saja perilaku masyarakat di tengah pandemi ini. Stigma negatif dilekatkan kepada orang-orang yang terpapar positif. Terjadi penolakan jenasah yang hendak dimakamkan di berbagai tempat. Ketidakjujuran dan pelarian pasien Covid-19 yang viral di media sosial. Ya, menolak kehadiran Covid-19 justru bias dan berimbas pada rapuhnya relasi sosial masyarakat.

Baca juga : Backpacker Di Tengah Pandemi

Narasi perdamaian yang dilontarkan oleh Jokowi itu hendak meluruskan alur pikir masyarakat yang kian mapan menghadapi pandemi ini. Termasuk bagi dirinya sendiri yang telah terlanjur keliru dalam mengambil keputusan ketika pandemi baru melanda Indonesia. Menempuh jalan damai bukan berarti bergerak acuh tak acuh atau bersikap masa bodoh. Justru dengan bersikap tenang dan damai, seorang pemimpin dapat berpikir jernih dalam pengambilan keputusan bagi kepentingan rakyatnya.

Ya, pilihan untuk berdamai dengan Covid-19 juga merupakan bentuk perbaikan atas sistem representasi (interpretasi) diri Jokowi. Sejalan dengan kerangka pikir Stoicis, bahwa semua peristiwa eksternal termasuk pandemi Covid-19 bukanlah suatu hal yang berbahaya dan perlu ditakutkan berlebihan. Sebaliknya, pandemi ini harus direspon melalui alur pikir interpretatif yang matang dan tepat sasaran. Bahwa bukan virus Corona yang membuat seseorang takut, melainkan sistem penilaianlah yang membuat seseorang takut atau tidak. Terlepas dari kerangka pikir filosofis ini, hingga detik ini, berbagai elemen masyarakat masih saja mempermasalahkan narasi perdamaian Jokowi. Tentu, tidak sedikit warga negara yang mengkritik bahkan menghujat presidennya sendiri. Sebab, di tengah lajunya penularan Covid-19 yang mengganas itu, gong perdamaian tiba-tiba dibunyikan. Apakah masyarakat Indonesia dapat berdamai dengan sosok mematikan itu? Kini, seantero masyarakat sedang menunggu arah kebijakan pemerintah dan rumusan taktis membumikan narasi perdamaian itu.


Bagikan ke :

1 thought on “MENAKAR JALAN DAMAI JOKOWI”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun