Cerpen

Cerpen : Tempat bekal

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Sigit Allobunga’

“Arjun, giliranmu!” seru Pastor menyuruh Arjun untuk berdiri di hadapannya.

​”Maju cepat !” kataku lalu memukul pantatnya yang montok bagaikan pantat kera babon itu. Kemudian dia perlahan berjalan ke depan pintu gerbang menghampiri Pastor yang juga sebagai kepala sekolah kami.

“ia Pastor?” sahut Arjun.
​”sperti biasa, Arjun,” jawab Pastor.

​Dari jarak yang tak jauh, terlihat jelas muka Pastor yang putih, bersih namun sedikit mengerikan bagi siswa-siswinya, termasuk saya. Mukanya bagaikan negara berjalan bagi kami yang tak mengindahkan kebersihan dan kedisiplinan. Dia adalah seorang Pastor yang begitu disiplin. Sehingga tak jarang aku bertanya-tanya dalam hati ketika melihatnya, “apakah didikan seperti itu yang dia dapat di seminari? Luar biasa”. Aku sangat mengidolakan dia diam-diam. Tak pernah kuungkapkan langsung kepadanya. Bukan karena tak ada kesempatan mengatakan langsung, melainkan memilih untuk tak mau lagi berhadapan langsung dengannya. Aku mencoba menghindar. Sengaja itu kulakukan, supaya aku terhindar dan tidak dikatainya “goblok!” yang keempat kalinya.

“Ini Pastor” kata Arjun sambil menyerahkan tempat bekal yang baru saja diambil dari tasnya untuk diperiksa.

Tiba-tiba​ kaki dan hampir seluruh badanku gemetar dan merasa sangat ketakutan. Gemetar dan ketakutan melihat cara Pastor memeriksa bekal yang tidak seperti hari biasanya. Kali ini, dia pegang untuk memastikan bahwa tempat bekal siswa benar-benar ada isinya. Dia ingin memastikan bahwa siswa-siswinya tidak membohonginya seperti hari-hari sebelumnya. Aku keringat dingin melihat caranya itu “waduh, coba aja saya isi tempat bekal ini tadi” kataku dalam hati. Aku menyesal telah membawa tempat bekal yang kosong.

Baca juga : “Toott” temu pisah

​”Git, giliranmu!” suara perintah Pastor kepadaku.

​Mendengar namaku disebut olehnya, ketakutan tak terbendung lagi dan kurasai nafasku sesak. Tapi bisa kulalui semuanya, dan memberanikan diri berjalan menghadapnya.

​”Iya, ini Pastor” kataku sambil menyerahkan tempat bekal yang kosong.

​Setelah dia terima, aku melihat mukanya langsung berubah dengan lototan mata yang tajam memandangku. Aku tak berani lama-lama menatap mukanya. Aku tunduk menunggu untuk dimarahi.

​”Hei, kenapa ringan?” tanyanya.

​Aku terus tunduk tak bisa menjawabnya lagi. Terus terdiam.

​”Hei, tidak boleh begini, harus  bawa bekal! Kau balik rumah dulu, isi bekal kalau mau masuk sekolah!” katanya setelah membuka tempat bekalku yang kosong.

“ia Pastor”
“​tidak bisa begini! Atau mau saya pukul kau dulu baru ikuti aturan?!” 
​”tidak Pastor”
​”ambil bekal dulu! Saya tunggu di sini!” katanya dengan tegas menyuruhku. Jujur, kali ini suaranya sangat tinggi.
​”ia Pastor”

​Aku kemudian mengambil tempat bekalku dari tangannya dan cepat-cepat berpaling dari hadapannya. Tak lama kemudian, aku dihadang oleh Ignas di parkiran sekolah. Ignas saat itu baru saja memarkir motornya. Rupanya dia barusan tiba setelah menempuh perjalanan jauh dari rumahnya.

​”mau kemana?” tanya Ignas.
​”mau isi bekal dulu, ketahuan sama Pastor kalau tempat bekalku kosong, bee”
​”kenapa bisa?”
​”sekarang sudah ketat brow.. Pastor sampai buka tempat bekal. Tidak kayak kemarin lagi” jawabku menjelaskan.
​”waduh, mati saya. Saya juga hanya bawa tempat bekal, tidak ada isinya” katanya.

Baca juga : Kamar Mandi Sahabat

​Mendengar kesaksiannya, ingin rasanya tertawa terbahak-terbahak meresponnya, namun saya tahan untuk menyelamatkan si Ignas “hehe.. ayo kita isi dulu! Sudah mau tutup gerbang ini, ” kataku mengajaknya.

​”Aku ke rumah saja” katanya menolak ajakanku mencari bekal bersama. Dia kemudian menuju rumahnya, begitu pun aku.

​Detik demi detik terus berganti, pertanda gerbang sekolah akan segera terkunci. Sedangkan aku masih dalam perjalanan tak kunjung mencapai rumah. Aku terus mencari cara bagamana supaya mendapat makanan secepatnya tanpa harus ke rumah? Karena mengisinya di rumah akan berbuah sia-sia, saya pasti akan terlambat dan hukuman saya bisa menjadi lebih berat. Aku tahu persis sifat Pastor, tak toleran bagi siswa yang terlambat. Di pinggir jalan, aku lihat penjual makanan gado-gado dan nasi kuning, tetapi aku tak cukup uang untuk membelinya. Hanya membawa uang jajan 5 ribu rupiah yang hanya cukup buat beli nasi saja. ​Tak pikir panjang, kubelanjakan semua uangku membeli nasi. Tanpa lauk.​

“bu, kalau beli nasi saja, bisa?” tanyaku pada ibu penjual nasi kuning di pinggir jalan itu.
​”nasi kuning? Bisa nak.” jawab ibu itu dengan lembut.
​”ia bu, 5 ribu saja” jawabku.
​”tidak mau lauk nak?”
​”tidak bu. Itu sudah cukup. Minta tolong di isi disini ya,!” kataku sambil menyedorkan tempat bekalku.
​Ibu penjual nasi kuning itu kemudian mengisinya ke dalam tempat bekalku yang telah dipegangnya.

Baca juga : Lenyapnya Ketakutan Oleh Bantuan Sosial Yang Tersesat

​Setelah terisi, aku berbalik menuju sekolah. Langkahku berganti begitu cepat. Cepat sekali. Karena gerbang sekolah akan segera tutup. Tiba-tiba dalam perjalanan, aku teringat perkataan Alvin yang sering lolos dari pemeriksaan Pastor. Dia juga sering membawa tempat bekal kosong. “Pastor kalau lagi periksa, tidak peduli isi bekal kita apa,  kita pasti diloloskan masuk yang penting tempat bekal kita berat. Berat kan, tanda  ada isinya” bunyi perkataan Alvin yang tiba-tiba saja teringat di kepalaku .

​Setelah teringat perkataan itu, aku langsung mengambil kembali bekal yang ada dalam tasku. Kuangkat,  dan kurasa masih sangat ringan. “Pastor nanti curiga ini, dan tidak percaya kalau ini ada isinya, tambahkan apa ya biar berat?” tanyaku dalam hati untuk mengiyakan perkataan Alvin itu. “aha, tambahkan batu saja..” lanjutku. Entah apa yang membuatku saat itu ingin berbohong sekali lagi kepada Pastor sebagai kepala sekolahku. Mungkin iblis. Tempat bekalku yang sedikit imut bentuknya itu, kuisi separuhnya dengan batu.

​Kulanjutkan langkahku lagi menuju sekolah yang sudah tidak jauh. Tak membutuhkan banyak langkah lagi. Sudah dekat sekali. Saat memasuki area sekolah, aku bersyukur melihat gerbang masih buka dan Pastor masih sedang memeriksa siswa-siswi lain.  Aku gabung dalam barisan menunggu mendapat giliran kembali diperiksa.

​Satu per satu siswa-siswi di depanku telah diperiksa, dan mereka semua lolos. Barisan itu tinggal menyisahkan aku dan tiga kakak kelasku yang mukanya tidak asing lagi mengantri di belakangku. Aku sering lihat mereka menggoda cewek teman kelasku, tapi aku tak tahu namanya. Tak pernah tahu, karena papan nama mereka sudah tidak tertempel di bajunya. Mereka sudah cabut. Benang berwarna biru yang digunakan untuk menjahitnya, masih menggantung panjang di dadanya.

​”ini Pastor, sudah saya isi. Huuu, huuu” kataku lalu sengaja membuang nafas dengan maksud Pastor mengerti perjalanan jauh yang kutempuh.

​”capek? Makanya isi, biar tidak saya suruh pulang! Kalau kau tidak isi, mau makan apa nanti?!” katanya sambil mengangkat angkat tempat bekalku.

​”ia Pastor. Saya sengaja tidak bawa, karena bisanya belum lapar kalau dapat jam makan, Pastor”

​”hei!, hei!, bukan itu alasannya. Saya suruh kalian bawa bekal, supaya tercipta kebersamaan diantara kalian. Salah satu cara untuk membangun kebersamaan, adalah makan bersama..” katanya dengan lembut menjelaskan. ​

“ia siap Pastor” kataku. Setelah mendengar penjelasan itu, untuk pertama kalinya aku mengetahui maksud dan tujuan membawa bekal setelah 1 tahun bersekolah di sana. Selama ini aku pikir hanya untuk mengisi perut di jam istirahat.

​Tapi aku tak bisa tenang saat itu, aku gelisah dihantui rasa ketakutan. Aku takut tempat bekalku ketahuan olehnya.

​”Laukmu apa?”  tanyanya.
​”Daging Pastor”

Baca juga : Cerpen Cia Sang Socrates Muda Part 3

​Mendengar jawabanku, dia tersenyum lebar dan langsung membuka tempat bekalku. Sepertinya dia tahu kalau saya berbohong padanya.

​”Hei, hei, apa ini?! Kau makan batu?!” katanya dengan suara kembali meninggi.
​”Kau ini, kurang ajar ya?!. Goblokkk…!!” lanjutnya memarahi.

​Begitu tak berarti hari itu bagiku. Aku hanya bisa berpasrah dimarahi akibat segala tindakanku, juga tak mampu melanjutkan alasan.

​”Maaf Pastor “
​”Kau ini, ok saya maafkan.  Tapi jangan ulangi lagi! Kalau sampai terulang, saya berhak mengeluarkanmu dari sekolah,”
​”Ok Pastor”
​”Tapi hari ini, kau jangan masuk sekolah! Pulang ke rumah, dan sampai jumpa besok!” katanya mempersilahkanku meninggalkan sekolah sambil menunjuk keluar pagar. Aku menerima semuanya, karena sadar, bahwa segala tindakanku hari itu tak bisa ditolerani.

​Kuambil tempat bekalku dari tangannya kemudian berbalik meninggalkannya. Tak jauh melangkah keluar, terdengar suara kakak kelasku yang mengantri di belakangku tadi berkata pada salah satu temannya

​”Bagi laukmu sedikit ee !”
​”Bekalku juga tidak ada lauknya,” jawab salah satu temannya.
​”Mati kita ini, aku pikir caranya memeriksa masih sama selama ini?” kata temannya yang lain.
​”Tidak usah pake lauk, nanti ambil lauk di kantin jujur aja, kan bisa gratis”
​”Ia, gratis tidak ada penjaga, haha”

​Mendengar percakapan mereka yang menganggap makanan di kantin jujur adalah gratis, membuat aku curiga, jangan-jangan mereka yang membuat kantin itu tekor setiap hari? Jika benar, mereka telah menang telak dua langkah dari ku – mereka jago dekatin cewek-cewek sekelasku dan lebih  jago nyolong di kantin jujur.

Keterangan :

  1. Kantin jujur : Kantin yang menjual beberapa makanan, dan tidak memiliki penjaga. Pihak sekolah sengaja buat untuk menguji kejujuran siswa-siswi. Namun, kantin ini kadang tekor hingga ratusan ribu rupiah sehari, hehe..


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun