Opini

Kuliah Teologi, Wajibkah Menjadi Pendeta?

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Margareta Merpati Songot

Pendeta merupakan salah satu profesi yang mendapat tempat istimewa di hati masyarakat lebih khususnya yang beragama kristen. Di beberapa wilayah terkhususnya Indonesia bagian Timur, para pemuka agama seperti Pendeta dan Ustad sangat dihargai dan dihormati oleh masyarakat. Konon katanya ketika dalam suatu acara jika Pendeta dan Anggota DPR atau Gubernur duduk bersama, orang akan lebih dulu menyapa Pendeta dibandingkan anggota DPR atau Gubernur. Pendeta bahkan sering dianggap tahu akan segalanya, sehingga jika ada masalah apapun itu orang akan pergi ke Pendeta lebih dulu, karena mereka percaya bahwa Pendeta memiliki solusi untuk setiap masalah mereka.

Banyak orang tua Kristen memaksakan kehendaknya kepada anak untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Teologi agar kelak akan menjadi Pendeta. Alasan mereka adalah karena menjadi Pendeta berarti melayani Allah, seakan-akan profesi yang lain bukan bagian dari pada melayani Allah. Tidak heran jika banyak mahasiswa Teologi mengatakan bahwa mereka memilih jurusan Teologi hanya untuk memenuhi tuntutan orang tua mereka. Rasanya masih ada yang kurang jika dalam keluarga mereka tidak ada yang menjadi seorang Pendeta. Hal ini membuat beberapa mahasiswa Teologi memilih untuk mengenyam pendidikan Teologi akan tetapi tidak ingin untuk menjadi Pendeta dengan alasan, “melayani bisa di mana saja”.

Baca juga : Sebuah Kajian Perspektif Kristen Bagi Pemuda Untuk Menjadi Pendamai

Henri J.M Nouwen dalam bukunya yang berjudul pelayanan yang kreatif mengatakan bahwa pelayanan yang sebenarnya adalah ketika seseorang mau memberikan jiwa dan dirinya untuk melayani sahabat-sahabatnya atau orang lain. Profesi seseorang baik itu dokter, guru, konselor dan lainnya merupakan sebuah pelayan jika mereka mau memberikan diri mereka untuk menolong orang lain. Melayani tidak hanya dibatasi oleh profesi Pendeta, karena pada dasarnya semua orang bisa melayani dan melakukan pelayanan selain Pendeta (Nouwen, 1994).

Banyak masyarakat Kristen berfikir bahwa untuk Melayani Tuhan harus menjadi Pendeta. Padahal semua profesi apapun itu merupakan bagian dari pada pelayanan. Tidak heran jika banyak anak-anak harus mengesampingkan keinginan mereka hanya untuk mengikuti keingnan orang tua agar berkuliah dijurusan Teologi. Beberapa diantara mereka harus sakit hati dan stress karena keinginannya yang tidak terpenuhi dan tidak selesai mengenyam pendidikan di jurusan Teologi karena merasa tidak sesuai dengan hati mereka. Beberapa yang berhasil dan akhirnya menjadi Pendeta, namun beberapa juga yang berhasil menyelesaikan pendidikannya akan tetapi tidak ingin untuk menjadi seorang Pendeta.

Baca juga : Pemuda Anti Hoax Dan Ujaran Kebencian Sebuah Refleksi Atas Kebencian Yang Diberikan Kepada Yesus

Paradigma masyarakat kristen seperti ini harus direkonsturksi kembali agar masyarakat mengerti bahwa pekerjaan atau profesi apa pun itu merupakan bagian dari pelayanan. Semua orang bisa menjadi pelayan dan juga bisa melayani di mana saja, tidak harus menjadi Pendeta dan tidak selalu di gereja. Selama orang itu mau melayani dengan hati dan mau menyerahkan jiwanya untuk menolong orang lain. Dengan begini orang tua tidak akan memaksakan anaknya untuk harus berkuliah dijurusan Teologi dan tidak ada lagi anak-anak yang harus sakit hati karena mengabaikan keinginan mereka demi keinginan orang tua.

Games Valentino Purba dalam tulisan tugas akhirnya mengatakan bahwa pelayanan merupakan suatu kesadaran etis dari manusia yaitu bahwa dirinya secara langsung maupun tidak langsung hidup dari orang lain, dengan orang lain dan untuk orang lain. Oleh sebab itu dalam pelayanan tersebut terkandung rasa tanggung jawab dan perhatian terhadap keberadaan dan kesejahteraan hidup orang lain. Hal ini menunjukan bahwa pelayanan tidak hanya dikhususkan bagi seorang Pendeta (Purba, 2011).

Baca juga : Tulisan Merpati Lainnya


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun