Opini

Gerakan Mahasiswa Dan Tagar Para Netizen

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Sigit Allobunga’

Kekuatan netizen dalam menanggapi isu-isu yang beredar dalam dunia maya, memang tidak bisa diragukan lagi. Kekuatannya dapat mengubah isu menjadi lebih baik dan tak sedikit juga membuat isu menjadi lebih buruk, hingga menjadi lebih besar. 

​Cara mananggapi isu yang beredar di masyarakat juga beragam. Mulai dari meninggalkan kritikan  atau dukungan dalam kolom komentar, mengampanyekan dengan tagar (#),  menanggapi dengan vidio atau gambar-gambar meme, dan juga ada yang memposting ulang (share) di media sosial masing-masing. Ada yang meninggalkan tanggapan dalam kolom komentar yang sudah dikemas dengan perpaduan pemikiran, bahasa dan tulisan yang baik sehingga enak untuk diikuti. Sampai ada kalanya kita sebagai pembaca, terlarut menyukai  komentar daripada isi tulisan itu. Jelas kita berlagak seperti pengguna sosial media yang malas membaca isi berita tapi ingin berkomentar berlimpah. Sebut saja kekuatannya yang paling besar adalah mentrendingkan dengan tagar (#) dan menanggapi isu dengan video seperti yang dilakukan oleh beberapa youtubers dengan konten-konten kritikan yang menarik.

Baca juga : Kemunafikan Perjuangan Kesetaraan

​Hampir semua isu yang telah diposting di media sosial, dibabat habis dengan tanggapan yang menarik dan kritis oleh netizen. Mulai dari isu rumah tangga orang lain, tentang hati atau percintaan, isu sosial, sampai dunia politik. 

​Pergerakannya dalam menanggapi isu yang begitu cepat dengan modal kecanggihan teknologi, mengalahkan beberapa komunitas gerakan yang selalu aktif menanggapi isu sosial dan politik. Sebut saja salah satunya adalah komunitas gerakan mahasiswa. 

​Gerakan mahasiswa memang kerap kali menanggapi isu yang lagi berkembang, bahkan bisa dikatakan jarang absen dalam menanggapi isu-isu sosial dan dunia politik. Dapat dilihat dari aktivitasnya yang selalu berbondong- berbondong menyatakan sikap, demonstrasi, dan lain sebagainya.

​”Kalah cepat” Kita fokus pada kalimat itu. Netizen saat melihat isu  yang dilempar ke dalam dunia maya (isu politik dan sosial), sekejap membuat hati dan rasa empatinya menggebu-gebu. Sehingga tak jarang detik itu juga melontarkan tanggapan dalam kolom komentar postingan terkait. Juga ada yang berinisiatif langsung membuat tagar sebagai bentuk perlawanan dan dukungan (#save… #Tolak…. #Dukung… dan berbagai tagar lainnya). Saat ini, kekuatan tagar adalah senjata ampuh bagi netizen yang mampu memancing perhatian media besar untuk kembali dibicarakan pada level nasional bahkan internasional. Sedangkan komunitas gerakan mahasiswa, lebih cenderung menunggu isu itu hangat baru mengangkat tangan menanggapi dengan berbagai cara sebagai bentuk empati.

Baca juga : Pemuda Society 4-0

​Sudah beberapa isu yang ditanggapi oleh gerakan mahasiswa terkesan lambat dan akan menjadi sia-sia. Salah satu contohnya adalah menanggapi atau mengkritisi isu yang telah jatuh tempo. Seperti yang dilakukan oleh salah satu gerakan mahasiswa beberapa waktu lalu, ketua umumnya menyatakan sikap keberatan atas tuntutan hukuman belasan tahun penjara kepada tujuh tahanan politik Papua dengan pasal makar, dalam kasus unjuk rasa di Kota Jayapura Papua pada Agustus 2019 lalu. Dia mengatakan bahwa negara gagal paham dalam penegakan hukum. 

​Dari pernyataan sikapnya itu, banyak yang mengapresiasi serta tak sedikit juga memberi kritikan dan masukan.  Mereka menilai bahwa pernyataan itu sudah lambat dan akan sia-sia, karena hukuman kepada yang diperjuangkan telah ditentukan. Dan juga akan lebih susah memperjuangkannya kembali hanya lewat pernyataan sikap. Ada yang mulai mempertanyakan, kemana saja selama proses hukum mulai dari penyelidikan hingga sidang penetapan terdakwa berlangsung? kenapa tidak memberi pendampingan secara hukum melalui pengacara? bukannya senior-senior cetusan komunitas tersebut banyak lulusan hukum? Pertanyaan yang kritis seperti itu mengupas kulit palsu wajah-wajah kritikan dengan bermodalkan pernyataan sikap. 

Baca juga : Terjadinya Diskriminasi Karena Hukum

Berbicara tentang kualitas tanggapan, tidaklah mungkin sekelas gerakan tidak diperhitungkan. Beberapa diantara tanggapan dan kritikan yang berhasil mereka layangkan kepada pemerintah, ada hasilnya. Tetapi semenjak bertumbuh pesatnya digital, isu besar (sosial dan politik) yang mereka perjuangkan adalah pelengkap kritikan netizen. Kenapa menjadi pelengkap? Karena isu itu lebih dulu ditanggapi oleh para netizen sebelum dibawa ke dalam rana komunitas masing-masing untuk didiskusikan demi tanggapan lebih lanjut.

Kehidupan dunia netizen memang tidak semua selalu membuahkan kritikan yang berkuliatas, tetapi kesadaran untuk berempati terjun terlibat menanggapi isu dengan cepat, perlu diacungi jempol.


Bagikan ke :

2 thoughts on “Gerakan Mahasiswa Dan Tagar Para Netizen”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun