Opini

Perempuan Diam Lalu Mati?

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Ekravilo Amfotis

Tentu tidak lazim lagi di telinga kita pernyataan tentang “perempuan mencintai pakai hati, sedangkan laki-laki selalu pakai logika” atau “laki-laki ketika bertindak selalu berpikir terlebih dahulu sedangkan perempuan bertindak dulu kemudian baru berpikir”  Sehingga dalam beberapa hal seperti patah hati, berjuang dalam hubungan, pertengkaran atau kebahagiaan selalu saja menjadikan indikator tersebut untuk mengalahkan atau memenangkan suatu kondisi. Seperti memakai senjata tapi tidak memahami konsekuensinya.

Sebagian perempuan melihat hal ini sebagai pernyataan yang biasa-biasa saja. Bahkan faktanya menunjukkan bahwa sebagian perempuan telah nyaman dan membenarkan adanya pernyataan tersebut. Entah sejak kapan doktrin ini dibangun dan dikonsumsi oleh perempuan dan laki-laki. Namun ini sangat berbahaya. Kita perlu pahami bahwa secara pengertian, logika diartikan sebagai hasil pertimbangan akar pikiran yang disampaikan lewat kata dan bahasa, sedangkan hati berkaitan dengan perasaan. Hal ini menegaskan bahwa pemikiran dan otak perempuan atau laki-laki telah diberi kelas dan status yang berbeda. Pernahkah kita berpikir sampai disitu? atau kita justru sependapat dengan  doktrin tersebut?

Baca juga : PEREMPUAN SEBAGAI MANGSA TRADISI KAWIN TANGKAP

“Memang benar dan kenyataannya seperti itu, coba disurvey!”. Jawaban ini akan selalu didapatkan perempuan ketika mempertanyakan substansinya. Ketika ada pendekatan cocokologi atau pengalaman nyata yang pernah ada, lalu terbantahkan semuanya. Kemudian perempuan diam dan membenarkan kondisi itu. Semakin banyak doktrin patriarki yang ada, maka kekerasan terhadap perempuan tidak akan terselesaikan. Diskriminasi berbentuk visual memiliki pengaruh dengan menawarkan wujud estitika yang mematikan.

Beberapa kasus yang penulis temukan di lingkungan tempat tinggal. Ini juga sebagai keresahan akan doktrin yang ada beserta dampaknya. Sebagai seorang mahasiswi yang berjumpa dengan banyak orang dengan ceritanya sendiri, cenderung sangat mengacu andrenalin. Tapi tidak untuk tindakan kekerasan. Ada Beberapa mahasiswi yang ketika berpacaran, mengalami perselisihan berujung terjadi kekerasan. Perempuan sebagai pasangan selalu mendapatkan tindakan atau perlakuan anarkis (dipukul, ditendang sampai badan penuh luka) dari pasangannya. Mereka justru enggan untuk melaporkan atau memberi pelajaran. Tetapi melihatnya sebagai bentuk pengekspresian kasih sayang dari pasangan.  Mereka menganggap bahwa cintalah yang menyeretnya dan itu harus dipertanggung jawabkan sendiri. Dan apapun yang dilakukan laki-laki sebagai pasangan, mereka telah memikirkannya dengan matang. Akhirnya mereka menyerah, diam dan membenarkan keadaan yang ada.

Baca juga : Perempuan Pembual

Kasus lainnya juga terjadi pada seorang perempuan yang sering mendapat ancaman hingga mengalami tindakan kekerasan. Ancaman terkait persetubuhan atau pengorbanan yang dilakukan membuat mereka sebagai hamba dan budak laki-laki sebagai pasangannya. Mereka terjebak dengan tindakan yang dinilai telah menodai diri mereka sehingga apapun itu akan dikorbankan. Uang, waktu, perjuangan, kuliah, air mata dan kebodohan menjadi senjata mereka untuk tetap bertahan. Penindasan harga diri yang dilakukan oleh pasangannya cenderung tidak dipedulikan lagi (dihina dan digosip). Ancaman seperti itulah yang membuat mereka tidak bisa berkembang dan terus menghambakan diri. Lagi-lagi mereka menilai bahwa setiap keadaan yang terjadi adalah laki-lakilah yang lebih paham. Maka tidaklah salah jika dia mendapatkan perlakuan dan ancaman. “Sabar”

Melihat kasus yang terjadi sungguh sangat menakutkan bukan? Ini bukan cinta tapi kegilaan, ambisi dan obsesi. Banyak perempuan yang terjebak dan menjadi korban. Bukankah ini kebodohan? Sikap pasrah terhadap keadaan dan terus merendahkan dirinya, justru dilakukan oleh perempuan sendiri. Penghargaan terhadap diri dan kepasrahan pada doktrin tidak bisa dikunyah secara langsung. Akan menjadi sia-sia perjuangan beberapa perempuan tentang kesetaraan dan keadilan, ketika masih perempuan yang tidak ingin keluar dan masih terjebak. Atau bahkan mereka paham namun membiarkan? Sekelas mereka yang berintelektual, pastilah paham.

Baca juga : Perempuan : Lingkaran setan “Misoginisme”

Betapa kuatnya dokrin yang ada sehingga dampak yang terjadi tidak bisa dianggap remeh. Bahkan menjadi seorang mahasiswa atau dikenal sebagai orang yang berintelektual, tidak seutuhnya memiliki kesadaran dan sikap kritis. Justru mereka  banyak menjadi pelaku dan korban kekerasan sendiri.  Rendahnya penyadaran terkait kekerasan yang dialami perempuan, menjerumuskan perempuan sendiri dalam masalah. Perempuan harusnya sadar bahwa mereka adalah perubahan dari peradaban. Perlu keberanian untuk sampai pada tahap memerdekakan diri. Evaluasi terus dilakukan oleh segala pihak. Mari bedakan cinta dan kekerasan.  Cinta yang berbasis patriarki tidak akan mensejahterakan kehidupan. Tunduk dan takluk bukanlah kemenangan jika saling menjatuhkan. Perempuan dan laki-laki mari saling mencintai tanpa kekerasan.


Bagikan ke :

1 thought on “Perempuan Diam Lalu Mati?”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun