Opini

Mengapa Warga +62 Lebih Memilih Menonton Drakor Dibandingkan Sinetron Azab Dan FTV?

Mengapa Warga +62 Lebih Memilih Menonton Drakor Dibandingkan Sinetron Azab Dan FTV?
Bagikan ke :

Oleh : Margareta Merpati Songot

Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak masyarakatnya adalah  penggemar boy dan girl band Korea . Perlahan-lahan bukan hanya dalam hal musik tetapi juga bergeser kepada dunia perfilman, atau lebih khususnya drama Korea. Tayangan-tayangan sinetron di televisi seperti azab dan ftv perlahan ditinggalkan oleh masyarakat, dan mereka beralih ke platform-platform yang menyajikan drama-drama Korea, atau menyediakan VOD (video on demand), seperti Netflix, Viu, Iflix dan lainnya. Lagu-lagu dari boy dan girl band Korea banyak menduduki trending-trending Youtube di Indonesia dan juga serial drama-drama Korea yang semakin diminati dan dicari oleh masyarakat Indonesia.

Meningkatnya peminat drama Korea membuat sinetron-sinetron Indonesia seperti azab dan ftv tidak lagi dianggap menarik untuk ditonton. Dalam ruang-ruang sosial media masyarakat memberikan pernyataan-pernyatan yang negatif  seperti sinetron Indonesia tidak berbobot, tidak mengandung nilai-nilai moral yang baik, bahkan dianggap tidak patut dinonton oleh masyarakat. Berbanding terbalik dengan sinetron Indonesia, drama Korea justru mendapat tanggapan yang positif dalam ruang-ruang sosial media. Hal itu dapat dilihat lewat banyaknya link-link dan cuplikan drama Korea yang banyak dibagikan dalam ruang-rung sosial media seperti Facebook dan Telegram. Begitu juga dengan munculnya banyak platform-platform gratis yang khusus menyediakan tayangan-tayangan drama Korea dan dapat dinikmati oleh semua orang kapan pun mereka mau.

Baca juga : Beberapa Kesalahan Berpikir Bangsa Indonesia Yang Terus Menjebak

 Dilansir dari CNN Indonesia, ada banyak alasan yang membuat masyarakat Indonesia begitu menyukai drama Korea selain karena para aktris dan aktor yang memiliki paras cantik dan tampan. Alasan-alasan tersebut mulai dari ceritanya yang menarik dan mampu membuat para penonton merasakan emosi dalam drama tersebut, terinspirasi dari perjalanan hidup tokoh pemeran, belajar bahasa Korea dan bahasa Inggris lewat subtitle yang tersedia, jumlah episode yang tidak terlalu banyak, lagu-lagu yang enak di dengar, serta tema-tema yang diangkat tidak selalu tentang hubungan percintaan melainkan juga tentang isu-isu sosial seperti intimidasi, kisah persahabatan, keluarga, gender, mental illness, kesehatan, militer, dan lainnya. Hal-hal teknis sinematik seperti sinemotografi, efek, panorama dan nuansa juga sangat mempengaruhi (CNN Indonesia, 2020).

Tidak heran jika banyak masyarakat Indonesia beralih dari sinetron-sinetron Indonesia ke drama Korea. Masyarakat Indonesia penggemar drakor bahkan rela menghabiskan uang dan kuota mereka untuk streaming drama Korea. Tidak hanya itu, mereka bahkan menjadi sangat penasaran dan tidak sabar untuk menunggu penayangannya di tiap minggu, apalagi dalam seminggu hanya dua episode yang ditayangkan. Beberapa drama Korea bahkan menjadi perbincangan masyarakat penggemar drakor walaupun dramanya sudah selesai. Begitu juga dengan para penggemar drakor yang terbawa emosi dengan drama Korea, tidak segan-segan membully aktor dan aktris Korea yang berperan sebagai antagonis dalam drama.

Baca juga : Indonesia? Pemuda Mulai Berpikir?

Hal ini tentu harusnya menjadi perhatian penting bagi para pekerja industri perfilman di Indonesia agar lebih meningkatkan lagi kualitas sinetron-sinetron Indonesia. Jika dibandingkan sinetron Indonesia kalah jauh dari drama Korea, baik dari segi tema yang diangkat, alur cerita, dan lainnya. Para pekerja industri perfilman Indonesia harus bekerja lebih ekstra lagi untuk menghasilkan sinetron-sinetron yang dapat menarik perhatian masyarakat Indonesia, serta mengubah citra sinetron Indonesia yang tidak lagi baik di mata masyarakat. Selain itu agar sinetron Indonesia juga bisa bersaing dengan drama Korea.

Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chang Beom mengatakan bahwa drama Korea bisa menjadi trend terkenal karena ada nilai-nilai umum, khususnya di Asia Tenggara, yang terkandung dalam drama Korea sehingga membuat orang-orang tertarik untuk menonton. Pemerintah hanya mendukung dan menawarkan bantuan dengan mempermudah kondisi bagi para pekerja industri perfilman di Korea agar mereka bisa lebih kreatif dan memproduksi produk yang kreatif. Selain itu kesuksesan drama Korea adalah karena mereka menjadi global, bukan hanya di dalam Korea dan berhubungan dengan pemain lokal (CNN Indonesia, 2018).

Sudah saatnya untuk para pekerja industri perfilman Indonesia bekerja lebih keras dan kreatif lagi agar dapat menghasilkan tayangan sinetron yang berkualitas, serta dapat bersaing secara global bukan hanya di dalam negeri.

Baca juga : BELAJAR DARI KASUS AUREL – KELUARGA SURGA DALAM API


Bagikan ke :

1 thought on “Mengapa Warga +62 Lebih Memilih Menonton Drakor Dibandingkan Sinetron Azab Dan FTV?”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun