Puisi

Beberapa Puisi Jong Rambo Yang Indah Dengan Penuh Kritikan

Puisi Jong Rambo
Bagikan ke :

Karya : Jong Rambo

WAHAI! PELACUR-PELACUR INTELEKTUAL

Penghamba pendidikan yang mulai ter-Lengserkan dan di-Lengserkan…
Norma tak lagi menjadi bagian penting dalam mengabdi…
Pendidikan semacam gerbang penindasan bukan menjadi kritis tapi miris!
Gelar tak lagi menjadi acuan, tapi kekuasaan
Mungkin, menjadi semacam alat pengaman untuk mengamankan yang diamankan…
Kau hidup seolah menjadi Tuan?
Menjual idealis untuk Kekuasaan…

Bagimu! menjadi kerbau adalah kebanggaan
Bibir merah?
Merahkah alis tebal aspal kau lukiskan?
Baju Batik celana goyang kau kenakan!
SIAP LAKSANAKAN PERINTAH…

Suaramu tegas seperti petir yang menggelegar bersautan
Lalu kau busungkan dada dan tersenyum
Namun, kau lupa!
Untuk apa kau mengenyam pendidikan?

Katanya maha sebagai siswa?
Kelas elit pada struktur sosial
Tapi, teori dan lokal mematikan akar- akar syarafmu…
Sia-sialah orang tua memegang kulit di bawah matahari
Hanya untuk seorang kerbau di kota

Pantas saja Soe-Hok Gie berkata:
Lebih baik diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan
Tapi Aku bukan pelacur yang menjual tubuh untuk jabatan
Aku adalah si-jalang yang kau marjinalkan!
Lebih baik aku hidup di jalanan
Tapi MERDEKA

Daripada hidup di Istana tapi terpelihara,
Dipelihara…
Karena aku tak takut hidup dalam kesederhanaan…
Sebab, ketakutannya akan mengerdilkan Tuhan
Yang Sabang Hari Aku Sembah…

Baca juga : Puisi : Aku Tak Mau Bayar Hanya Untuk Bernafas

JANGAN ASAL RASA

Kadang dirimu dan dia terjebak dengan rasa yang asal-asalan
Semua karena berasa
Yang menjadi asa
Dan dalam asa

Dia diharapkan kelak menjadi sebuah rasa
Yang memang Tuhan titipkan.
Ketika, dirimu dan dia sudah basah
Baru sadar bahwa ternyata dia bukanlah asa
Akan tetapi dia hanya rasa yang asal-asalan

Harus sadar bahwa ekpetasi tak pernah sesuai kenyataan!

Carilah sebuah rasa
Yang memang Tuhan pun turut rasa dan merasa
Bahwa rasa itu adalah asa
Yang memang Tuhan turut campur tangan dalam itu rasa…

AROMANYA

Carilah segelas kopi hitam panas
dengan kehangatan aromanya yang mampu mengantarkan dia
ke tempat yang paling liar dan aman di muka bumi ini.
Dan jangan lupa!
Bacakan dia puisi-puisi
Yang mampu mengantarnya ke tempat-tempat yang dia inginkan
agar dia Aman dan Bebas sebebas-bebasnya…

Baca juga : Puisi Tentang Patah Yang Tak Lagi Terucap Kata


Bagikan ke :

5 thoughts on “Beberapa Puisi Jong Rambo Yang Indah Dengan Penuh Kritikan”

  1. Slamat sore
    maaf sebelumnya.
    Beta hanya mau klarifikasi sedikit tentang tulisan beta. Yang berjudul “wahai pelacur-pelacur intelektual”.
    Pada bagian ke 2 yang berbunyi: pendidikan menjadi semacam gerbang penindasan bukan lagi menjadi kritis tapi miris. Kata “krisis” seharusnya diubah menjadi “kritis”.

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun