Puisi

RINDU DAYITAKU | PUISI DI TENGAH PANDEMI

Bagikan ke :

Oleh : Albertina Petrosina Rahayaan

RINDU DAYITAKU

Rinai hujan membasahi buana, anila malam menyentuh daksa
Rindu kini mulai rasuki atma nan sepi, sendu pun kian terasa
Relung kalbu merintih aksama, karena keadaan tak seperti biasa
Rekaman pandemik yang termaktub kembali melayang diangkasa
 
Ilustrasi dalam bentuk narasi mulai dipublikasi, Indonesia terinfeksi
Isolasi dan vaksinisasi diberikan bagi mereka yang positif reaksi
Itulah sebabnya tetap di rumah dan jaga jarak menjadi urgensi
Ingin sekali kuberlari mendekap dayita tapi kita masih diberi sangsi
 
Nostalgiaku dengan potretmu bukan dengan daksamu karena
Nafas dari sebuah rindu yaitu hanyalah berjumpa dan cumbana
Namun keadaan membuat kita terus merana dan berkelana
Nestapa ku duduk termenung, anggaplah ini sebuah sampena
 
Dayitaku, sabarlah sebentar sebab ini hanyalah masalah waktu
Dekapku lebih diperat lagi ketika saatnya untuk kita bertemu
Dalam Doa ku rapalkan namamu, biar Tuhan menjadi penentu
Damaku, Harsaku, Buanaku semuanya telah diisi oleh kamu

Baca juga : Beberapa Puisi Jong Rambo Yang Indah Dengan Penuh Kritikan

Untuk anila tolong hembuskanlah rindu yang sedari lama tertanam
Ucapkanlah tentang sepi dan rasa pahit yang kian menikam
Ukirkanlah seberapa besar rindu dan sendu yang mencerkam
Usapkanlah bilur-bilur rindu yang sendu dipenghujung malam
 
Dayitaku, sunyi dipenghujung malam terus menghampiri
Dinginnya mencekam dan membuatku ingin berlari
Daksaku seakan-akan ingin ditusuk oleh duri-duri
Dalam redup kumenanti hadirnya sang mentari
 
Atmaku nan sepi ingin sekali dihangatkan
Aku rindu akan sebuah pelukan dan ciuman
Apakah ini suatu ritme dalam kerinduan?
Ataukah jarak yang sudah keterlaluan?
 
Yah kusadari semua hanya masalah waktu
Yang mengatur kapan kita akan bersatu
Yakinlah, kamu berasal dari suatu ketiadaan
Yang kemudian dihalalkan oleh manusia dan Tuhan

Baca juga : Puisi Tentang Patah Yang Tak Lagi Terucap Kata

Instruksi untuk jaga jarak dan tetap di rumah
Itu aturan dari pemerintah untuk cegah wabah
Inilah tantangan dan jangan sampai kalah
Intinya waktu yang harus menyerah dan lelah
 
Tidak baik jika kita yang mengalah hanya karena kebosanan
Teruslah menanti sampai kita tiba pada suatu kebahagiaan
Tersenyumlah dayitaku, sampai saatnya kita dipertemukan
Tetaplah di rumah, tetap berdoa dan tetaplah jaga kesehatan
 
Aku tetap menolak waktu dan terus memahat senyummu
Alih-alih berharap akaramu yang baswara dapat bertamu
Atmaku terus merindu tak lupa kunikmati segelas jamu
Agar tetap kuat dan sehat hingga saatnya bertemu
 
Kuatkanlah kalbumu dan tetaplah bersyukur
Karena cinta kita abadi dan tak mampu diukur
Kesepian yang dirasakan akan segera dikubur
Ketika saling percaya maka kesetiaan terus subur
 
Urgensi dalam hal rindu ialah saling memberi kabar
Usahakanlah untuk cinta kita akan tetap berakar
Untuk itu tetaplah setia sampai semuanya kelar
Untukmu dayitaku, damaku akan selalu mekar

Baca juga : Puisi : Jalan Damai

Penulis :
Albertina Petrosina Rahayaan. Seorang Sarjana Pendidikan. Berasal dari kota Tual, Maluku.


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun