Opini

Humanisme dalam Preman Pensiun 1 & 2 – Titikalinea.com

humanisme
Bagikan ke :

Oleh : Alfonso Jaya

Tentu saja ketika mendengar judul ini, kita akan mencoba berprasangka bahwa tulisan ini mempunyai bobot akademis, karena terdapat sebuah kata “humanisme” yang tidak semua orang mengetahui ini. Sedangkan ada juga setelah kata “humanisme” terdapat “Preman Pensiun” yang mungkin juga banyak orang tidak mengetahui ini. Dalam tulisan kecil ini saya hanya ingin membagikan refleksi bagaimana seperti judul di atas. Perlahan akan saya jelaskan apa maksud tulisan ini.

            Secara umum kata humanisme adalah pengertian tentang “kemanusiaan”. Humanisme (Ing: Humanism) berakar pada kata “humane” yang berarti tentang manusia/kemanusiaan. Kata humanism dalam bahasa Inggris bertetangga dengan humanitarian dan humanities. Humanitarian dimaksudkan praktik pada kesejahteraan sosial ataupun reformasi sosial, sedangkan humanities dimaksudkan studi ilmu-ilmu sosial dan kebudayaan yang disebut humaniora. Singkatnya, dapat dijelaskan bahwa humanisme berbicara tentang aspek kemanusian dan nilai-nilai kemanusian itu sendiri. Apabila ingin mengetahui lebih lengkap dapat dibaca melalui buku ”Humanisme dan Sesudahnya karya F. Budi Hardiman.” Sedangkan “Preman Pensiun” di sini adalah drama sinetron yang akan menjadi refleksi untuk melihat nilai-nilai kemanusian itu sendiri. Sinetron ini dimulai sejak tahun 2015, dan sudah memasuki jilid IV (bagian ini hanya mengambil kisah I dan II). Akan tetapi, belum ada kejelasan apakah akan berakhir hanya sampai jilid IV atau masih ada sambungannya, kita tunggu saja bersama.

Baca juga : Mengapa Warga +62 Lebih Memilih Menonton Drakor Dibandingkan Sinetron Azab Dan FTV?

            Secara singkat film ini menceritakan bagaimana kisah seorang yang pergi merantau untuk membantu keluarga. Seorang ini pergi tidak bermodalkan materi apapun, hanya keyakinan dan tekad juang. Seorang ini dari Garut pergi merantau ke Bandung, dari sinilah cerita ini dimulai. Dari awalnya yang hanya sebagai seorang anak rantau dan sampai di terminal Bandung yang tidak tahu untuk apa dan dengan tujuan apa. Dia berjualan. Dan pada satu kali ketika dia berjualan harus memberi pajak, bukan kepada pemerintah tetapi kepada preman di terminal itu. Seorang ini, tiba-tiba berpikir daripada dia memberi pajak, lebih baik dia mengambil pajak. Ketika dimintai pajak, dia melawan dan semua preman dikalahkan oleh seorang tersebut yang mempunyai ilmu bela diri silat. Singkat cerita, seorang ini disebut oleh orang-orang, preman. Ada juga yang menyebutnya sebagai orang yang sering membantu di pasar, di terminal, di jalanan yang sebagai kekuasaan dia. Seorang itu menyatakan usahanya sebagai “bisnis” yang saling memberi keuntungan. Seorang itu adalah Kang Bahar (disingkat KB) yang diperankan oleh Almarhum Didi Petet. Dan ketika itu KB mempunyai anak buah kepercayaannya yaitu Kang Mus (disingkat KM) yang diperankan oleh Epy Kusnandar. Suatu kali, KB pensiun dan bisnis ini diteruskan oleh anak kepercayaannya KM.

            Kira-kira sedemikian cerita singkat synopsis film ini, masih banyak yang dapat dituliskan, akan tetapi pada kali ini saya hanya mengambil point positif dari film ini. Kita dapat kembali menonton film ini, dari berbagai platform media. Refleksi ini hanya mengambil dari jilid I dan II, demikian ada enam point penting. Pertama, hidup adalah perjuangan. Kedua, harta paling berharga adalah keluarga. Ketiga, solidaritas harga mati. Keempat, sikap mendengar dan kritis. Kelima, licik boleh tetapi jangan bodoh. Keenam, kerja keras.

            Hidup adalah perjuangan. Dalam konsep humanisme, hidup adalah sebagai perjuangan. Perjuang ini memberikan gambaran bagaimana kita perlu menghargai apa itu hidup, tentu saja dengan cara menghargai kemanusian itu sendiri. Dalam masa kini atau masa lampau, gagasan tentang humanisme ini adalah “untuk menghargai manusia itu sendiri”, Dalam bukunya F. Budi Hardiman, menyatakan “Namun, manakala doktrin keselamatan berubah menjadi alat control atas kebebasan individu yang penting tidak lagi manusia nyata, melainkan agama”. Kritik ini sangat tajam bagaimana manusia pada saat ini melihat manusia itu bukan dari diri manusia itu sendiri, melainkan hanya karena agama. Bagian film ini, menjelaskan makna perjuangan tidak memandang agama apapun, tetapi mementingkan sisi kemanusian itu sendiri. KB dan KM yang sebagai tokoh utama yang berjuang demi kehidupan, mereka membantu sesama di Bandung tanpa melihat apa agamanya dan apa latarbelakangnya. Membantu manusia adalah wujud nyata bagaimana hidup adalah perjuangan, memanusiakan manusia adalah tujuan utama.

Baca juga : Manusia Khayalan Kembali?

            Harta paling berharga adalah keluarga. Film ini walaupun berjudul preman, tetapi sangat kental sisi kekeluargaan. Dimana pada film ini, KB sangat mencintai istri dan ketiga anaknya, walaupun di luar ia dipandang sebagai binatang buas, tetapi ketika bersama keluarga ia menjadi sosok yang lembut, begitupun juga KM. Pada film ini, siapapun yang tergabung dalam bisnis di terminal, jalanan, pasar bukan hanya sebagai pekerja biasa ataupun hanya anak buah, akan tetapi sudah dianggap keluarga sendiri. Kesenangan seseorang harus dirayakan bersama, kesedihan seseorang harus dirasakan bersama. Pada film ini, keluarga bukanlah hanya keluarga inti, ayah ibu dan anak. Akan tetapi, bagaimana teman kerabat juga sebagai keluarga. Gambaran dalam film ini memberi makna yang sangat besar tentang apa itu keluarga.

            Solidaritas harga mati. Tentu saja dalam film ini ada juga sebuah skenario “perang” yang berarti membersihkan kejahatan. Dalam bagian ini, ada gambaran dimana manusia masih tertutup oleh egoisme sendiri, sehingga menimbulkan aspek keserakahan, kekuasaan, yang membuat gelap kemanusian itu sendiri. Bagian film ini, menceritakan kepada kita bahwa aspek kejahatan selalu ada dimana-mana, pada film ini kejahatan digambarkan sebagai pencopetan, jambret, ataupun memuaskan keinginan seseorang (menjadi tukang pukul). Solidaritas adalah sebagai bentuk kekompakan yang diceritakan pada film ini, bagaimana KB melalui KM satu suara memberikan perintah kepada keluarga yang ada di jalanan, pasar, terminal untuk bertindak menyapu bersih kejahatan yang meresahkan kemanusian itu sendiri.

            Licik boleh tetapi jangan bodoh. Satu pembelajaran yang menarik dalam film ini adalah bagaimana bergerak licik (main cantik) untuk mengatur strategi melawan kejahatan ataupun eksekusi dengan cara yang baik tanpa merugikan berbagai pihak. Dalam kelicikan ini, kita melihat bagaimana kelebihan manusia yang diberikan oleh Sang Liyan untuk membuat manusia itu berpikir sebagaimana baiknya dan dengan apapun caranya. Akan tetapi, gambarkan film ini bukan hanya kelicikan saja tetapi ada juga kebodohan. Bagaimana sebuah sikap bodoh terkadang selalu membawa petaka bagi si bodoh itu sendiri. Kebodohan dalam arti ini adalah bagaimana kurang kritis, tidak bisa melihat lapangan, dan gegabah.

            Sekiranya dalam film Preman Pensiun I dan II mengajarkan kepada kita betapa pentingnya menghargai kemanusiaan. Tolong menolong menjadi point film ini, dan perjuangan kehidupan berarti untuk merayakan kehidupan yang baik untuk manusia, dan demi memanusiakan manusia itu sendiri. Hidup humanisme!

Baca juga : Intoleransi Dalam Diri


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun