Opini

Kemerdekaan Yang Membebaskan (Juara 2 Lomba Menulis Titikalinea)

titikalinea.com
Bagikan ke :

Oleh : Alfonso Jaya

Tidak terasa sebentar lagi Negara Indonesia akan merasakan bertambah usia, 75th. Tentu saja usia ini bukan tidak muda lagi, ibaratnya manusia tentu saja sudah tidak bisa lagi organ tubuh beraktifitas layaknya seorang berusia muda. Akan tetapi, bukanlah hal yang mudah untuk Negara ini menjadi merdeka. Lumuran darah dan tetesan air mata tentu saja terdapat pada masyarakat Indonesia. Tidak terasa perjuangan pahlawan sudah memberikan kita udara segar, tidak lagi penuh penindasan, tidak lagi banyak kekerasan, tidak lagi banyak kerja paksa yang dilakukan penjajah kepada masyarakat kita. Namun, kemerdekaan bukan hanya pada saat itu, tugas kita pada saat ini lebih besar dan banyak hal yang harus diteruskan oleh perjuangan para pahlawan pendahulu. Tentu saja, tugas kita bukan lagi berperang! Tetapi bagaimana kita dapat “memanusiakan manusia.

Dalam tulisan ini, saya ingin berefleksi bagaimana memerdekan yang penuh dengan “bebas.” Refleksi saya ini berdasarkan bagaimana perjuangan Bapak Reformator Kristen, Martin Luther. Dalam buku tuanya “The Freedom Of A Chirstian” yaitu sebuah buku yang berbentuk surat untuk melakukan perjuangan, khususnya dalam perjuangan surat idulgensia (surat penghapusan dosa). Pada buku ini ada kalimat yang menjadi pijakan buku dan dasar yang banyakdipakai oleh orang Kristen yaitu
“A Christian is a perfectly free lord of all, subject to none”
“ A Christian is a perfectly dutiful servent of all, subject to all”
Terjemahan secara bebas demikian:
“Seorang Kristen adalah tuan yang bebas sempurna dari segalanya, tidak mengabdi kepada apapun”
“Seorang Kristen adalah hamba yang patuh sempurna kepada segalanya, mengabdi kepada semua”

Pada frasa tulisan ini, Luther ingin menyatakan bahwa “manusia adalah tuan bagi diri sendiri, sekaligus hamba bagi diri sendiri”. Kenyataan ini diutarakan oleh Luther karena pada saat ini, Katolik sudah “menyeleweng” sedikit dari ranah sosial bermasyarakat. Sebagai lembaga keagamaan yang mengajarkan kebaikan dan kebebasan, justru pada saat itu mereka memberikan penderitaan dengan “menjual surat” untuk menebus dosa mereka. Tentu saja surat ini, dijual oleh kalangan Katolik pada saat itu untuk keperluan. Tetapi, Luther melihat ini sudah tidak layak lagi dan bertentangan dengan ajaran Kristus, bahwa untuk meminta pengampunan manusia itu sendiri sudah diampuni dengan percaya kepada Kristus. Oleh karena kasih anugerah Kristus telah menebus dosa manusia. Maka dari itu, ia menyatakan bahwa Kekristenan adalah mempunyai kebebasan. Kebebasan ini bukan berarti bebas sebebasbebasnya, tetapi menolong sesama demi kepentingan bersama.

Seturut dengan tulisan Martin Luther, kita perlu melihat kebebasan ini dalam konteks kemerdekaan. Perjuangan para pahlawan belum selesai, dan masih banyak lagi. Tugas kita pada saat ini memberi kebebasan dan bukan penindasan. Menjelang tibanya kemerdekaan, bangsa kita banyak sekali menghadapi pencobaan, baik dalam ranah anggota DPR khususnya berbagai RUU yang berat sebelah. RUU PKS yang justru memberikan kekuatan untuk mencegah kekerasan seksual malah justru dihapus dari Prolegnas. RUU OmnibusLaw yang memberikan keberatan bagi para pekerja, malah justru RUU ini ingin segera disahkan. Dimanakah hati nurani bangsa ini? Sudahkah kita memberikan kemerdekaan yang membebaskan kepada sesama kita? Apakah kita mensia-siakan perjuangan pendahulu bangsa yang berlumuran darah demi membawa Negara ini merdeka?

Oleh karena itu, untuk menutup tulisan ini saya ingin mengajak kita untuk “memerdekakan kebebebasan” dengan cara “memanusiakan manusia”. Simbol pergerakan inilah yang perlu diglorakan menyambut hari kemenangan. Tugas kita bukan lagi berperang, tetapi bagaimana memberikan kebebasan tanpa penindasan kepada sesama kita. Merdeka!

Baca Juga : MERDEKAKANLAH DIRIMU (Juara 1 Lomba Menulis Kategori Opini )


Bagikan ke :

1 thought on “Kemerdekaan Yang Membebaskan (Juara 2 Lomba Menulis Titikalinea)”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun