Opini

MERDEKAKANLAH DIRIMU (Juara 1 Lomba Menulis Kategori Opini )

Roberto Buladja
Bagikan ke :

Oleh : Roberto Duma Buladja

“Apa arti merdeka bagi Anda?” Sebuah pertanyaan simpel, tetapi membutuhkan serangkaian jawaban mendalam. Ya, kalimat tanya tersebut seakan menggiring masuk setiap pembaca dalam ruang perenungan reflektif-filosofis. Kandungan pertanyaannya menantang sekaligus menstimulus setiap orang untuk terlibat aktif dalam pencarian makna luhur. Demikianlah bentuk undangan dari kawan-kawan titikalinea.com kepada segenap masyarakat Indonesia. Mari sambut dan meriahkan undangan mulia ini!

Di atas kertas sejarah kemerdekan Indonesia, tercatat jejak-jejak juang para pahlawan. Oleh karena situasi keterjajahan, setiap orang merasa terpanggil untuk berjuang secara bersama. Mengangkat senjata dan berdiplomasi adalah pilihan-pilihan strategis yang ditempuh. Tidak sedikit orang yang rela berkorban, dimasukkan dalam ruang sunyi (penjara), bahkan gugur di medan perang. Seluruh daya dan upaya dikerahkan demi meraih kebebasan dan kemerdekaan. Singkatnya, teks proklamasi kemerdekaan yang diserukan oleh Soekarno- Hatta pada 17 Agustus 1945 menjawab gumulan panjang perjuangan rakyat Indonesia.

Kini, telah 75 tahun Indonesia merayakan kemerdekaannya. Bentuk penjajahan yang notabenenya melibatkan benturan fisik dan genjatan senjata rasanya tak mungkin terulang lagi. Namun, setiap warga negara Indonesia diperhadapkan oleh pekerjaan besar untuk memerdekakan dirinya sendiri. Amati saja perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang kian menggila. Praktik politik identitas dan money politic yang semakin merajalela. Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terjadi di mana-mana. Kerja-kerja kapitalistik yang merusak lingkungan, serta bentuk-bentuk kejahatan lainnya yang sewaktu-waktu dapat menyeret Indonesia dalam jurang kehancuran. Bukankah sederetan permasalahan kebangsaan itu merupakan cerminan diri manusia yang rakus, serakah, amoral, dan jauh dari kata merdeka? Mengelak atau tidak, semua problematika itu berakar baik dalam diri manusia.

Memerdekan diri sama dengan menemukan dan mengenal potensi diri sejati. Salah menemukan potensi diri, maka konsekuensinya akan keliru memperlakukan diri dan orang lain. Dengan pengenalan dan pemberdayaan potensi diri secara baik, maka tiap individu diproyeksikan dapat memerdekakan kehidupan keluarga, sekolah, kampus, perusahaan, dan komunitas sosial. Termasuk mentransformasi Indonesia menuju pada pencapaian cita-cita kemerdekaannya. Lantas, bagaimana memulainya?

Pada prinsipnya, setiap manusia memiliki potensialitas diri yang khas dan unik. Semuel Lusi (2013) mengetengahkan gagasan besarnya seputar proses penemuan potensi diri sejati (the real self) yang idealnya dilakukan oleh masing-masing orang. Dengan berdiri pada sudut critical thinking serta menyelami realitas hidup keseharian manusia, sang pemikir dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) itu menawarkan semacam blueprint yang sekiranya membantu setiap orang untuk menemukan keotentikan atau keutamaan dirinya. Adapun tahapannya yaitu, pengenalan diri dan potensi (self-knowing), transformasi diri (self transforming), mentransformasi orang lain (others transforming), dan pemberdayaan dan komitmen untuk transformasi (empowering and transforming).

Diri ideal (sejati) yang dimaksudkan disini bukanlah embel-embel eksterior (bagian luar) yang dilekatkan oleh masyarakat. Misalnya harus menduduki jabatan strategis dalam sebuah perusahan, mengenyam strata pendidikan setinggi-tingginya, atau memiliki harta yang melimpah ruah. Hal tersebut belum cukup menjelaskan kesejatian diri seseorang. Namun, temukanlah dimensi interior (kualitas) yang merujuk pada talenta dan keunikan diri. Dengan menemukan potensialitas diri, langkah selanjutnya adalah mengonsepsikan visi ideal diri. Kemudian berupaya untuk mengaktualisasikannya sedemikian rupa, hingga mengikat komitmen untuk mengubah hidup masyarakat luas.

Sebagai contoh, seorang penulis profesional tentu terlebih dahulu mengenali diri dan potensi yang dimilikinya. Ia tidak tunduk pada standarisasi yang dibuat oleh masyarakat, melainkan menyadari dan mendalami keunikan dirinya. Lihat saja para penulis profesional yang melalui jalan sunyi di tengah keramaian pilihan yang ditempuh oleh orang banyak. Memantapkan visi dan rumusan taktis untuk menjadi seorang penulis handal. Memberdayakan otentisitas dirinya menuju titik optimal. Lalu, menyatukan totalitas dirinya menuju pada pencapaian tujuan.

Untuk membentuk profesionalitasnya, seorang penulis harus mampu mentransformasi dirinya secara sungguh-sungguh. Mengakrabkan dirinya dengan berbagai aktivitas membaca dan menulis yang membuatnya kian produktif dan ‘sempurna’. Seluruh aktivitas itu dijalani secara senang, gembira, dan bahagia. Rasanya menulis adalah dunianya. Lewat tulisan, ia mampu mencurahkan seluruh kegelisahan, kegalauan, serta harapan-harapan yang tak bisa ia ungkapkan secara lisan. Dan pada gilirannya, tulisan-tulisannya mampu mentransformasi kehidupan orang lain di sekitarnya.

Anda kenal dengan tokoh-tokoh ternama dunia, seperti James Watt, Thomas Edison, Albert Einstein, Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckerberg? Ya, orang-orang yang sukses menemukan keunikan dan keutamaan diri. Atau silahkan tambahkan sendiri daftar nama-nama tokoh kebanggaan Anda yang mampu mengubah wajah dunia. Mereka sadar dengan potensi dan passion-nya, lalu berusaha untuk memberdayakannya secara penuh. Dalam prosesnya, nama dan karya mereka tidak hanya terkenal, tetapi mampu mengubah kehidupan orang banyak (dunia).

Setiap diri manusia ibarat seorang penulis profesional yang hendak membuat karya tulisan. Dengan demikian, kenalilah karakter dan gaya menulismu. Tuagkanlah gelisah dan harapmu pada lembaran kertas kosong. Jangan pernah merasa bosan dan berhenti. Lalu, editlah semua bagian tulisan sampai mewujud pada sebuah tulisan terbaik yang menginspirasi orang banyak. Demikian halnya dengan passion yang dilakoni sehari-hari. Apakah Anda adalah seorang pelukis, petani, nelayan, atau apapun itu. Temukan dan berdayakanlah keunikan dirimu. Hasilkanlah lukisan indah dan menyegarkan jiwa. Produksilah beras, sagu, umbi-umbian, ikan, serta kebutuhan pokok lainnya yang mencukupi perut keluarga dan negara.

Di era yang kian milenialistik ini, informasi dan teknologi berkembang canggih membuka ruang-ruang baru bagi pengaktualisasian potensi diri sejati. Menjadi seorang intelektual muda, entrepreneur, youtuber, konten kreator, novelis, penulis buku, serta sejumlah passion milenial lainnya merupakan pilihan-pilihan strategis yang dapat dirujuk dan dikembangkan. Tidak menutup kemungkinan juga, bahwa setiap orang dengan kemampuannya mampu membuka saluran-saluran inovatif sebagai wujud kreativitasnya. Semuanya tergantung pada potensi dan sumber daya yang dimiliki seseorang.

Disadari atau tidak, wajah keindonesiaan tampak ‘murung’ karena terkungkung oleh sederetan permasalahan. Hendaknya setiap warga negara sadar dan memerdekakan dirinya. Buatlah pernyataan ‘kemerdekaan diri’ sejak dini untuk melepaskan seluruh embel-embel yang disematkan oleh orang lain. Rebutlah hak dan tanggung jawabmu. Berdayakanlah secara konsisten potensi dirimu demi menggapai impian terbesarmu.

Peradaban dunia yang kita nikmati hari ini merupakan buah karya dari lapisan masa dan generasi sebelumnya. Hal serupa juga sejatinya disadari dan diseriusi oleh setiap orang yang hidup di negara bangsa-bangsa (nations state) ini. Bahwa kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan berdarah-darah oleh para founding parents, sekiranya menjadi catatan aksi-refleksi bagi generasi masa kini. Yakin dan percaya bahwa dalam diri warga yang merdeka terpancar sederetan karya hebat yang niscaya memajukan Indonesia.

Baca juga : Puisi-Puisi Para Pemenang Lomba Menulis Titikalinea “Arti Merdeka”


Bagikan ke :

1 thought on “MERDEKAKANLAH DIRIMU (Juara 1 Lomba Menulis Kategori Opini )”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun