Cerpen

Seruan Mengkhayal cinta – Cerpen Karya Achmad Rony

Bagikan ke :

Oleh : Achmad Rony

Hatiku berderu. Dia kelihatannya gelisah. Matanya seakan menggelitik memperhatikan sekujur tubuhku. Aku membalasnya melirik, seakan penasaran apa maksud dan tujuannya melakukan itu. Perlahan aku mendekatinya, gemertak angin dan dedaunan jatuh terhempas dia yang berlari menjauhiku. Aku sama sekali tak tahu bagaimana awal dia melakukan itu, memandangiku dari kejauhan dan mengirimkan pesan singkat yang aku yakin dia pengirimnya. Laki-laki sebaya yang peranannya masih belum jelas, tingkahnya membuatku tersanjung sekaligus bingung. Ketika dalam pesan singkat pertamanya memuji lingkaran hitam di sekitar mataku.

Sekarang  dia dihadapanku, bersama teman SMP ku dulu. Dia membawa buku. Berniat menawarkan buku itu, namun aku tidak tertarik. Mulutnya mulai terbuka berbicara dengan nada yang terbata-bata, tingkahnya kaku, wajahnya sedikit menunduk. Merasa kasihan melihat tingkahnya, aku pun pamit pergi, dengan menahan tawa atas tingkahnya terhadapku.

Aku masih belum bisa menyimpulkan jika dia menyukaiku, seperti apa kata teman-temanku. Ragu? Bukanlah, agaknya aku suka dengan tingkah lucunya ketika berhadapan denganku. Aktivitasnya memandangiku beberapa hari ini. Aku ingin membiarkannya melakukan itu, sampai mungkin ada perbuatan yang lebih lagi darinya.

Hari-hari berikutnya, dia masih saja memperhatikanku. Aku acuh saja. Mungkin dia hanya sibuk memandangiku tanpa berani mendekatiku. Aku bergumam. Namun kali ini dia datang tidak seperti biasanya, dia datang sendirian. Oke! Mau apa dia sekarang datang sendiri dengan wajah yang gusar? bisikku menantang.

“Aya… bisa bicara sebentar?” Aku tersentak, baru kali ini dia memanggilku,

“Bentar ya teman-teman” aku permisi kepada teman-temanku.

“Kali ini ada apa?” tanyaku.

“Hmmm,” ia mendesah, “Ada yang harus aku katakan kepadamu, ini tentang dunia duniamu saat ini.” Lanjutnya…

“Hah?” Aku sedikit bingung dan tidak mengerti dengan apa yang ia katakan.

“Dengerin dulu,” sergapnya, seolah  aku tidak diizinkan untuk berbicara. “Aku datang dari dunia nyata.  Aku mau mengatakan bahwa sebentar lagi kamu dan mereka ….,” ia mengatupkan bibirnya dan menghembuskan napasnya berat. Seperti ada yang berusaha ia keluarkan dengan terpaksa. “Kalian akan menghilang,” lanjutnya. Aku mengernyitkan keningku.

“Maksudnya?” tanyaku.

“Kalian sebenarnya hanya khayalan seorang lelaki dari dunia lain, dan saat ini lelaki iu sudah hampir meninggal.” Aku mendengarnya dengan mengikuti gerak bibirnya. Ya, aku tahu di saat sepert itu memang lebih indah jika memandang kedua matanya yang selama ini mengikutiku, tapi gerak bibirnya lebih membuatku tertarik.

“Kalau kamu tidak percaya, ikut aku sekarang!” ia menarik tanganku tanpa menunggu keputusanku.

Ia berhenti di sebuah ruangan, masih memegang tanganku. Kedua matanya menatap tajam apa yang ada di balik jendela ruangan itu. Ia tidak membawaku masuk. Kami hanya berdiri di luar ruangan dan memandangi dari luar jendela apa yang di dalam ruangan itu. Aku melihat seorang lelaki yang sedang sekarat dengan infus dan alat bantu pernafasan.

Baca juga : Kisah Buaya Penunggu Cekdam

“Dia…,” Aku menyipitkan mataku, ingin tahu lebih jelas wajah sosok lelaki yang terbaring itu. Nampak tidak asing, dan aku ingin memastikannya. “Kamu?” tanyaku setelah aku yakin bahwa lelaki itu adalah lelaki yang membawaku kesini dan tengah berdiri di sampingku. Aku menatap wajahnya. Sama.

“Kamu?” aku terlalu bingung untuk bertanya. Tapi seharusnya dia tahu apa maksudku.

“Ya, benar. Dia adalah aku. Dan kamu hanyalah khayalanku. Aku datang menemuimu untuk mengatakan bahwa aku sudah benar-benar jatuh cinta kepadamu. Kepada khayalanku sendiri” 

“Jadi? setelah ini aku dan teman-temanku, dunia yang aku lalui bakal tidak ada?” tanyaku garang. “Benar, maafkan aku” dia menunduk tidak berani melihatku.

“Tidak mungkin!”

“Seperti kamu mencintaiku, aku pun sudah mencintai mereka, aku pun sudah mulai mencintai dirimu”. Sembari memagang tanganya yang mulai dingin. “Maafkan aku, selama aku masih diberi kesempatan mengingatmu, aku akan terus mengkhayalkanmu” dia mencoba menenangkanku. Secara tidak sadar aku bersandar di badannya yang kaku, dia membalas memelukku.

Tidak lama, dokter datang memeriksa keadaannya, teman-teman dan keluarganya juga sudah datang setelah mendengar berita bahwa kanker yang dideritanya sudah menyerang paru-paru. Tepat pukul 12 siang dia meninggal, dengan selembar kertas yang dipegang ditangannya bertulis “Tetaplah Mengkhayal Cinta”

Baca juga : PEREMPUAN DAN NIRWANA JATUH CINTA


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun