Opini

ONANISME ORGANISASI – Sebuah Kritik Kesadaran

Onanisme Organisasi
Bagikan ke :

Oleh : Sultan Hermanto Sihombing

Manusia adalah sebuah mesin dalam konstruksi kehidupan sosial. Dengan berbagai macam aktifitas yang dilakukan secara sadar atau tidak sadar. Manusia yang melakukan aktifitas sosial dengan kesadaran, akan membentuk suatu tatanan kehidupan sosial dan berdampak, sedangkan manusia yang melakukan aktifitas dengan tidak sadar, hanya akan menjadi pengikut-pengikut dan menikmati kehidupan yang diciptakan oleh manusia-manusia yang sadar tanpa mengerti esensi dari kehidupan.

Kehidupan sosial dalam hal ini merupakan sebuah sistem yang dibangun berdasarkan kesepakatan dan nilai-nilai yang disepakati oleh sekelompok orang yang sadar dalam berpikir. Dengan kesamaan pemikiran, arah dan tujuan dalam melaksanakan suatu aktifitas, norma dan aturan aturan tersebut, maka akan tercipta suatu keluarga, agama, komunitas, partai, negara bahkan menciptakan suatu konstruksi budaya. Kesamaan pemikiran, arah dan tujuan menjadi semangat dasar manusia berpikir dan sadar membuat mereka mengelompokkan diri. Sebagaimana dalam kehidupan sosial modern, kehidupan manusia tidak lepas dari keluarga, agama, komunitas bahkan partai. Yang semuanya adalah bagian dari konstruksi sosial ribuan tahun lalu  dengan sebutan organisasi. 

Baca juga : Indonesia? Pemuda Mulai Berpikir?

Organisasi sendiri berasal dari kata Yunani, “organon” yang artinya sistem yang dirancang untuk mencapai sasaran dan tujuan tertentu. Seiring perkembangan zaman, kita bisa menganalisa bahwa banyak organisasi berubah menjadi perkumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan dalam mencapai kesenangan dan kepuasan yang tidak bertujuan dan tidak memiliki sasaran. Hanya sekedar berkumpul dan berbicara tentang hal-hal yang memuaskan hasrat tanpa arah dan tujuan. Ketidaksadaran atas apa esensi dan makna organisasi tersebutlah yang menjadikan sebuah organisasi hanya menjadi media menunjukkan eksistensi diri secara individual, mencari jodoh. Dalam mencapai esensi organisasi tersebut tentu harus dipahami bahwa semangat berpikir, membaca, dan berliterasi adalah cara yang paling tepat untuk mengembalikan semangat organisasi, sasaran organisasi, dan tujuan organisasi dalam membentuk suatu tatanan baru. 

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan salah satu contoh organisasi yang besar dalam tatanan sosial yang membentuk visi, misi, dan tujuan. Namun di dalam organisasi tersebut, kita temukan banyak organisasi-organisasi kecil yang mendorong terciptanya suatu organisasi negara ini. Negara Indonesia dibentuk dari sebuah kesadaran bersama dan terorganisir dalam mencapai sebuah sasaran dan tujuan. Budaya organisasi tersebut dimulai dari Boedi Utomo, Sarekat Dagang Islam yang menjadi Sarekat Islam dan kemudian berkembang menjadi partai-partai baru hari ini. Akan tetapi semangat berpikir, berdampak dari organisasi-organisasi dahulu telah mulai luntur. Tidak ada perubahan-perubahan yang terjadi di dalam konstruksi berpikir organisasi-organisasi hari ini, hanya sekedar berkumpul dan bersenang-senang, memuaskan hasrat dan memperkaya diri secara individual dengan mengorbankan lingkungan dan kemanusiaan. Partai-partai besar yang merupakan bagian organisasi kemerdekaan telah terpecah-pecah karena keserakahan dan kepuasaan pribadi.

Baca juga: Puisi : Aku Tak Mau Bayar Hanya Untuk Bernafas

Terlalu jauh jika kita berbicara dalam skala nasional. Karena penulis berasal dari suatu daerah kecil di Tapanuli Utara, maka akan membahas sedikit paradigma perubahan semangat organisasi di daerah terutama Tapanuli Utara. Setelah penulis mendalami secara pribadi dan berdiskusi dengan beberapa orang terkait keberadaan organisasi-organisasi kepemudaan, sayap partai, bahkan orang partai sendiri, penulis mengambil sebuah tesis dan kesimpulan bahwa budaya organisasi untuk memajukan daerah sudah mulai luntur. Organisasi hanya dijadikan sebagai ternak  untuk memperkosa anggaran daerah. Kita bahkan sering bertemu dengan orang-orang yang sama dengan baju organisasi yang berbeda-beda, tetapi masih dalam satu naungan partai. Namun tidak memiliki dampak apa-apa dalam daerah, bisa dikatakan hanya sekedar komedi omong dan aji mumpung untuk memperkosa anggaran, membagi proyek. 

Mereka yang terlibat dalam sebuah pemenangan kepemimpinan hanya sekedar ingin ikutserta menjilati anggaran negara, bahkan untuk mengamankan asset-asset. Apabila kita berkaca pada tertib administrasi sebuah organisasi, maka kita akan menemukan nama-nama yang sama dalam organisasi yang berbeda-beda tanpa gagasan yang berbeda. Hanya untuk meningkatkan popularitas tanpa kekuatan berpikir. Seperti dalam sebuah petikan wawancara kompas tanggal 28 Mei tahun 2000 salah satu narasumber mengatakan

Baca juga : MENILIK KEMERDEKAAN DARI SUDUT PANDANG BACA BUKU

Bagi saya modernity itu state of mind, keadaan berpikir, bukan sekedar lifestyle. Kita hari ini sering kelirukan itu; bagi kita modernity itu lifestyle, bukan state of mind. Mari kita bandingkan dengan Perancis. Mereka membangun tradisi berpikir yang panjang mulai zaman Voltaire, yang diungkapkan lewat macam-macam bentuk sastra. Lalu ketika ada infrastruktur, dalam hal ini café-café tempat mereka nongkrong bertukar pkiran, lahirlah para pemenang nobel sastra seperti Albert Camus, Jean Paul Sartre,. Kalau disini tidak. Tradisi berpikir tidak dibangun, yang dibangun Cuma kafe-kafenya. Makanya kita tak dapat pemenang nobel sastra, dapatnya Cuma perek aja banyak

Tapanuli Utara memasuki keadaan onani berpikir dalam beberapa dekade, sehingga Toba Samosir memisahkan diri, Humbang Hasundutan memisahkan diri. Organisasi yang menjadi wadah-wadah pemikiran hanya tinggal abu api yang ditunggangi penguasa dan ditempati para penjilat serta manusia serakah. Sehingga tercipta budaya-budaya menjilat yang mengakar dan melahirkan anak perempuan yang dieksploitasi menjadi model, yang kemudian akan dipasarkan tanpa pemikiran yang matang. Apakah Tapanuli Utara hanya memandang modernitas sebagai lifestyle, jika seperti itu selamat datang anak perempuanku, dan selamat menikmati budaya perek dan kafe. 

Baca juga : PEREMPUAN YANG DIPELACURKAN

Penulis :
Sultan Hermanto Sihombing. Pemuda Tapanuli Utara. Anak Literasi Siborongborong. Founder Titikalinea.

Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun