Opini

PAHLAWAN BATAK YANG TERLUPAKAN

Bagikan ke :

Akan tiba masanya kita sebagai manusia. Sebagai orang yang mengaku beragama, hanya akan bisa merasa “bahagia” apabila kita mampu seperti Kristus, menjadi miskin bersama orang miskin!( Amir Sjarifoedin 1947 HKBP Yogjakarta)

Sangat banyak kejadian memilukan yang terjadi di Indonesia sejak Zaman Penjajahan oleh Belanda selama 350 Tahun dan Jepang selama 3,5 Tahun hingga Zaman Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Begitu banyak juga konflik Horizontal yang memakan banyak korban jiwa setelah kemerdekaan. Baik mereka yang berjuang untuk Indonesia sebagai negarawan sejati ataupun sebagai pejuang peperangan. Tatkala juga pembelokan sejarah dan penghapusan Fakta Sejarah dalam beberapa Rezim.

Amir Sjarifudin Harahap, dialah orangnya, salah satu pahlawan yang tidak diakui keberadaan dan jasa jasanya bagi Bangsa Indonesia. Dari marganya kita sudah tau bahwa dia adalah orang batak. Orang batak yang awalnya dilahirkam dari keluarga islam. Pemuda  revolusioner ini lahir 27 April 1907 di Tapanuli selatan dengan ayah Djamin Gelar Baginda Soripada dan Ibu Basunu Siregar. Namun Pada usia 24 Tahun, Amir sjarifudin Harahap mengambil keputusan dan jalan yang berbeda dari keluarga. Dia Baptis Menjadi Seorang Kristen dan mengimani iman Kristen sebagai agamanya.

Amir Sjarifudin merupakan lulusan dari Recht Hooge School (Sekolah Tinggi Hukum) Batavia. Dari sana dia berangkat dan sering berdiskusi dengan orang orang Kristen tentang bagaimana nabi nabi bahkan Yesus melakukan pembebasan pembebasan kaum kaum tertindas. Amir mempelajari kekristenan melalui CSP op Java, Organisasi kekristenan yang menjadi cikal bakal Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Sehingga amir menjadi salah satu tokoh yang ikut serta dalam peleburan CSV op Java dengan PMKI sehingga menjadi GMKI. Walaupun dia merupakan lulusan hukum tetapi dia adalah orang yang pintar berpolitik dan banyak mengikuti organisasi. Mulai dari organisasi kemahasiswaan, organisasi massa sampai pada partai politik. Sehingga dia tumbuh menjadi orang yang berpengaruh dalam lingkaran Kristen, Lingkaran buruh dan lingkaran politik kemerdekaan.  Konsep “Harapan” yang selalu dia bawa menjadi kekuatan dan memberikan nafas baru bagi perjuangannya dalam memerdekakan Indonesia.

Prestasi yang ditorehkannya dalam bidang politik di Indonesia sempat membawanya dalam kursi kursi penting di Indonesia. Pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia yang Ke-2 (3 Juli 1947-29 Januari 1948), Menteri Pertahanan Indonesia ke-2 (14 November 1945-29 Januari 1948), Menteri Penerangan ke-1 (2 September 1945-12 Maret 1946).

Dalam Perjalanan hidupnya setelah menjadi Kristen, Amir sering menjadi Pengkotbah di Gereja gereja untuk menunjukkan bahwa pentingnya revolusi dan kemerdekaan. Seperti salah satu kotbahnya di Gereja HKBP Yogjakarta dia mengatakan “Akan tiba masanya kita sebagai manusia. Sebagai orang yang mengaku beragama, hanya akan bisa merasa “bahagia” apabila kita mampu seperti Kristus, menjadi miskin bersama orang miskin!

Tak bisa dipungkiri bahwa amir pemuda Kristen yang taat sekali dengan agamanya. Setiap pagi dia membaca alkitab dan berdoa. Dengan modal itu dia mampu bertahan menjadi sosok yang teguh dan memiliki pendirian. Bahkan sampai matipun dia memeluk alkitab ditangannya. Dia berharap masyarakat Kristen pada saat itu mencontoh kehidupan sederhana yang diajarkan Yesus. Begitu juga Indonesia dengan konsep harapan dan kasihnya. Tidak hanya itu, amir merupakan salah satu tokoh yang disepakati oleh masyarakat pada saat itu untuk melakukan pembacaan proklamasi kemerdekaan, beliau juga disebut sebut sebagai pemimpin muda. Sedangkan yang saat ini kita ketahui sebagai founding father Indonesia yaitu soekarno menjadi pemimpin tua bagi Indonesia. Soekarno mengakui bahwa Amir sjahrifudin merupakan rival dari dirinya. Tidak mungkin ada dua matahari kembar. Walaupun amir sangat berpengaruh dan memiliki jasa yang sangat besar bagi bangsa, Amir tidak pernah diakui menjadi pahlawan. Dia adalah sosok politikus Kristen sosialis yang hilang ditelan bumi  bersama sejarah sejarah yang diciptakannya.

Dalam salah satu dari ceramahnya yang terakhir (Choises and Circumstances, 1988) Soedjatmoko berbicara tentang Amir: “orang yang tinggi pengetahuannya, dengan kehangatan dan pesona pribadi yang luar biasa”. Para penginjil yang dalam tahun 1941 pernah minta bantuan kepadanya mengatakan, bahwa mereka memerlukan seseorang yang “berpikir horisontal”.Orang-orang yang pernah mengunjungi Amir di rumahnya di Menteng Pulo, sebuah kawasan di Jakarta yang sangat sederhana, teringat pada sambutannya yang langsung dan lugas. Sesama pelajar teman temannya dari Gymnasium di Haarlem juga mengenangnya sebagai seorang yang sangat senang bergaul.

Tulisan : Sultan Hermanto Sihombing, S.H

Sumber bacaan:

Amir Sjahrifuddin : Antara Negara dan Revolusi Mendayung antara dua karang


Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun