Opini

Penataan Ulang Organisasi Dan Manajemen Berkualitas Modern

Almara Dwiputra sitompul

Oleh : Almara Dwi Putra H.M Sitompul

Setiap saat, organisasi dapat terjebak dalam mendesain kembali organisasinya dengan hanya menjiplak gagasan waktu lalu, padahal tantangan dan konteks yang dihadapi setiap masa, jelas berbeda. Organisasi pergerakan mahasiswa terbesar di Indonesia, salah satunya adalah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) masih eksis hingga saat ini dengan semangat amatir dan eksperimental hingga 70 tahun sejak berdirinya. GMKI saat ini sudah memiliki 105 cabang yang aktif dan tersebar di seluruh Indonesia.

Namun realitanya, GMKI saat ini bukan lagi menjadi penentu. Perencanaan dan kesinambungan GMKI tidak dapat diintegrasikan antar periode kepengurusan. Kegagalan organisasi terletak pada dipakainya perangkat organisasi yang sudah lapuk dan tidak mampu menjawab kebutuhan zaman. Tantangan konteks telah berubah. Sehingga menjadi tugas besar dalam Kongres GMKI ke-37 di Manokwari, GMKI harus mampu mengubah diri menjadi organisasi pergerakan yang unggul, disegani dan menentukan, serta bermanfaat bagi para anggota dan ketiga medan layannya.

“Organisasi yang unggul ditandai oleh orang-orang yang mempunyai komitmen yang tinggi serta mengetahui cara menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungannya”, ungkapan Philip Kotler menekankan kepada organisasi, agar mampu menyesuaikan terhadap lingkungan organisasi yang dilakukan melalui penataan secara terus-menerus. Pengembangan kultur organisasi dalam menciptakan keunggulan bersaing, harus dipadukan dengan penerapan manajemen yang berkualitas modern. Dengan pengembangan kualitas manajemen, maka dampaknya tidak hanya sekedar pada penataan strategi, struktur atau program, namun kualitas juga menjadi kultur dan menjadi jiwa dari organisasi itu sendiri.

Muara dari setiap organisasi adalah pemenuhan kebutuhan dan ketertarikan anggotanya. Konsekuensinya adalah paradigma dan manajemen dalam organisasi harus bergeser dari yang berorientasi pada program menjadi manajemen yang berorientasi kepada anggota. GMKI sebagai suatu gemeinscaft yang berarti kohesivitas, bergerak dan beraksi, serta bertumpu pada ikatan emosional dan solidaritas, sehingga mengarah pada kepentingan bersama. GMKI ke depan harus mampu menjadi kelompok yang memiliki superioritas roh dan jiwa, sehingga mampu mempengaruhi massa pasif menjadi penganut yang aktif.

Dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, Positioning GMKI sebagai gereja incognito dijawab dengan konsepsi berdiri di atas dua proklamasi, yaitu proklamasi Injil Kristus dan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kedua konsepsi tersebut membentuk paradigma organisasi GMKI yaitu Oikumenisme dan Nasionalisme. Sehingga bagi GMKI, nasionalisme dan oikumenisme sifatnya sudah final.

Dalam arah gerak GMKI secara organisasi, juga menjadi penting dan mendasar yaitu konsolidasi organisasi dalam rangka aksi partisipatif dan aksi partisipatif dalam rangka konsolidasi organisasi. Sehingga GMKI mengenalnya dengan istilah “aksi-refleksi-aksi-refleksi” dan begitu seterusnya.

Melihat kondisi lingkungan eksternal organisasi yang sedang dihadapi GMKI diantaranya yaitu Globalisasi, Perkembangan Generasi, Revolusi Industri, Digitalisasi, Automatisasi dan Artificial Intelegence serta Bonus Demografi, menjadi tantangan ke depan. Dari segi kondisi internal organisasi, realitasnya adalah macetnya kaderisasi, kegagalan dalam manajemen support system organisasi dan dis-orientasi visi pelayanan. Kondisi ini disebabkan oleh pemahaman terhadap organisasi yang menurun, komunikasi dan koordinasi yang lemah, strategi dan pendekatan program yang usang serta keterlambatan beradaptasi. Sehingga saat ini GMKI berada di ambang batas “red tape crisis” yaitu potensi terjadi konflik dan perbedaan yang makin tajam dan tanpa disadari oleh baik antar unit maupun antar organisasi. Sehingga komponen organisasi menjadi tidak terkonsolidasi dan performa organisasi akan terus menurun.

Dalam kepengurusan 2 tahun kedepan, GMKI harus fokus dalam konsolidasi sistemik organisasi. Tiga hal turunan yang menjadi fokus dalam 2 tahun ke depan adalah; pertama, manajemen organisasi berorientasi pada pengembangan kader, optimalisasi pelayanan dan konsolidasi sumber daya organisasi; kedua, mengembalikan budaya untuk melayani yang terfokus pada anggota; ketiga, perekrutan kader secara besar-besaran dan model yang kreatif dan inovatif.

Fondasi filosofis GMKI menuntut agar dalam situasi apapun, GMKI harus menjadi kekuatan yang menentukan perubahan menuju kemajuan. Karena Bobot dan Kualitas aksi dan pelayanannya yang menentukan perubahan itu sendiri, maka kehadiran GMKI tidak dapat diabaikan dan justru selalu diperhitungkan. Sesuai Rencana Strategis dan Rencana Jangka Panjang GMKI 2045, menjadikan GMKI sebagai gerakan pelopor dan gerakan pemikiran yang menentukan.

Oleh karena itu, pada Kongres ke-37 GMKI di Manokwari, GMKI harus mampu mengoptimalkan forum tersebut dalam rangka konsolidasi internal organisasi dan memilih pengurus yang memiliki keterpanggilan yang sungguh-sungguh untuk melayani, yang mampu membawa GMKI untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman yang semakin pesat.

Penulis :
Almara Dwi Putra H.M Sitompul. Bakal calon Sekum GMKI Periode 2020-2022.

2 thoughts on “Penataan Ulang Organisasi Dan Manajemen Berkualitas Modern”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun