Resensi Buku

Tentang Peter A Rohi Pada Buku Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis

Jurnalis pejuang, pejuang juralis
[wp_dark_mode style=2]

Oleh : Sigit Allobunga’

Judul Buku                   : Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis

Penulis Buku         : Abdul Manan | Albert Kuhon | Alui Marundruri | Andreas Piatu | Amadji Sumarkidjo | Bambang DH | Eka Budianta | Gandjar Gede Artha Widodo | Hari Nugroho | Ignatius Gunarto | Krisman Purwoko | Kristin Samah | Roro Daras | Roy T. Pakpahan | Tri Agus S. Siswowiharjo | Josep Adi Prasetyo | Zed Abidien | Zesopol Caminha

Penerbit Buku  : IKA Stikosa AWS & Padma Media

Tebal Buku       : 110 Halaman

Tahun terbit     : 2020

Buku dengan judul Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis adalah buku yang diterbitkan untuk mengenang sosok jurnalis sejati yakni Peter A. Rohi atau Oom Peter. Peter A. Rohi adalah seorang figur di mata para jurnalis muda generasi baby boomers dan generasi X, aktivis, sahabat, dan keluarga. Ketekunan akan profesinya dan merupakan seorang yang idealis, membuat dia disegani banyak orang. Idealisme yang kuat untuk membongkar kejahatan, ketidakadilan dan penindasan, membuat hasil investigasinya mampu mengubah pola pikir dan menjadi sumber pengetahuan bagi siapapun yang membacanya.

Dalam buku Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis, memuat pandangan keluarga dan beberapa jurnalis senior, sahabat, para pimpinan redaksi, teman seperjuangan, sutradara, aktivis, komikus dan kartunis hingga pemerintah tentang sosok Peter A. Rohi.

Pandangan-padangan itu kurang lebih seperti berikut :

  • Pandangan Keluarga

Albert Einstein pernah mengatakan bahwa “Kenangan yang kita buat bersama keluarga adalah segalanya.” Maka kenangan yang telah dibangun oleh Peter A. Rohi selama hidupnya adalah sebuah harta yang sangat bernilai harganya bagi Istri dan anak-anaknya. Peter A. Rohi di mata keluarga adalah sosok yang sangat sederhana. Seperti yang dikatakan oleh anaknya Joaquim Rohi dalam buku Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis “Tak ada harta yang ditinggalkan. Papa hanya mewariskan kami rumah kecil di sebuah perkampungan padat, di Surabaya. Di rumah tersebut, papa mewariskan banyak buku, dokumen, juga kenangan. Di gang sempit itu, Papa mewariskan kami, teteladanan, nama baik, dan jaringan pertemanan”. Selain kesederhanaan, Peter A. Rohi juga berhasil membuat ukuran lain dari makna hidup menjadi berkat. Dalam perjungan seorang Peter A. Rohi bukan semata-mata mengandalkan dirinya sendiri, melainkan ada sosok Istri yang tangguh selalu menemani dan mendukung setiap langkah perjungannya. “Namun, tidak lengkap bercerita tentang Papa tanpa menyebut bagaimana perjuangan Mama mendukung kehidupan Papa” lanjut Joaquim Rohi. Sosok Peter A. Rohi adalah manusia yang tidak akan diam saja melihat sesamanya menderita dan meminta bantuannya. Terbukti selama hidupnya selalu berbagi di atas keterbatasannya. “Kadang uang sekolah kami dipakai Papa untuk membantu teman atau keluarga temannya yang sakit” Kata Joaquim Rohi. Keluarga terutama istri dan anak-anaknya, tak akan berhenti mengucap syukur kepada Tuhan atas berkat seorang Ayah yang telah menjadikannya manusia merdeka, yang disegani banyak orang lewat intelektualitas.

  • Padangan Abdul Manan (Sahabat Sekaligus Teman Seperjungan Mengembangkan AJI)

Peter A. Rohi adalah sosok yang menginginkan kebebasan atau tidak nyaman dengan aturan yang mengikat. Itulah makanya menolak bergabung menjadi anggota AJI, (Aliansi Jurnalis Independen) padahal turut andil dalam membentuk dan membangun organisasi tersebut. “Itulah kenapa saya tak ingin masuk AJI, apalagi PWI. Saya ingin Independen” kata Peter A. Rohi. “Meski sudah menggunakan label independen seperti AJI, akan membuatnya merasa terikat” kata Abdul Manan. Selain memiliki jiwa yang independen, Peter A. Rohi juga merupakan sosok yang memiliki semangat, militansi yang berkebalikan dengan umurnya. Tentang kesederhanaan Oom Peter juga merupakan point yang mengesankan baginya. Menurutnya, sekelas mantan marinir dan wartawan yang sudah malang melintang di berbagai media, pastinya mampu membangun rumah yang besar dan memiliki harta yang cukup. Namun memilih hidup sederhana di gang yang hanya bisa di lalui motor di kampung Malang, Surabaya.

Baca juga : PAHLAWAN BATAK YANG TERLUPAKAN

  • Pandangan Albert Kuhon (Jurnalis diberbagai media yang disebut memiliki kesuksesan yang sama dengan Oom Peter, serba bisa di lapangan)

Sosok Peter A. Rohi di mata Albert Kuhon adalah seorang wartawan yang “Jago”. Dijuluki sebagai Jagoan karena memiliki semangat jurnalistik yang luar biasa. Terbukti dari banyaknya organisasi jurnalistik tempat dia berkarir. Itu jelas karena semangatnya dalam menekuni kewartawanannya. Sehingga tidak heran ketika Oom Peter dipandang sebagai Jurnalis yang kaya akan pengalaman. Menurutnya, Peter A. Rohi juga adalah jurnalis pemberani. Bukan tanpa alasan, Oom Peter banyak membongkar kasus yang bertentangan dengan rasa keadilan. Sebagai sosok yang mengedapankan rasa keadilan, membuatnya ingin selalu menyaksikan nilai keadilan dimanapun dengan situasi apapun. Sehingga ketika berhadapan dengan ketidakadilan, maka dia akan menuntutnya. Seperti pada pertengahan dekade 1980-an, Peter A. Rohi mengamuk di redaksi Sinar Harapan tempatnya bekerja, karena tidak mendapat fasilitas dan perbaikan gaji seperti yang telah dijanjikan kepadanya. Ia keluar sebagai bentuk protes terhadap redaksi.

  • Pandangan Alui Marundruri (Jurnalis dan Sahabat Yang Terlibat Penulisan Buku “Riwu Ga, 14 Tahun mengawal Bung Karno; Koko Lami Angalai?”)

Keberhasilan Peter A. Rohibersama Atmadji Sumarkidjo (terakhir Pemred RCTI) melakukan liputan ivestigasi bahwa Daerah Kepulauan Riau, Natuna merupakan wilayah kedaulatan R.I, menggugah hati pemerintah mendirikan mercusuar yang menandakan wilayah tersebut adalah wilayah kedaulatan R.I. Hasil investigasinya itu memberi gambaran bahwa Peter A. Rohi adalah sosok yang selalu berjuang menyuarakan dan mengungkap kebenaran. Namun sekarang, wilayah itu kembali hangat dengan konfliknya yang semula. Pertanyaannya, apakah ada Peter A. Rohi lain yang akan menyelesaikan konflik itu dengan kekuatan literasi? Semoga saja. Sosok Peter A. Rohi juga mampu mengangkat persoalan yang besar dalam negeri, yang kemudian menjadi persoalan atau isu bersama. Seperti hasil liputannya yang mengangkat kelaparan massal di Sumba, presiden Indonesia Soeharto, langsung menuju Sumba untuk penanganannya. Itulah salah satu contoh dari beberapa bukti keterlibatan Peter A. Rohi mengungkap kebenaran, yang dituliskan Alui Marundri dalam buku Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis. Selain kegigihan mengungkap kebenaran, sosok Peter A. Rohi juga memiliki tutur lembut dan tatapan bersahabatan sebagai cara memelihara jaringan. “Semarah apapun tak pernah membanting pintu saat pulang sebab suatu saat mungkin pintu itu akan dia ketuk kembali” kata Alui Marundruri.

  • Andreas Piatu

     Dalam tulisannya, ia menceritakan tentang perjuangan dan semangat yang dimiliki oleh Peter A. Rohi dalam dunia kewartawanan. Sosok Peter A. Rohi di mata Andreas sebagai sahabat, dan rekan kerja di media sinar harapan adalah pekerja keras, fokus, jujur, adil, peduli dan sangat sederhana. Ia juga menganggap Peter A. Rohi adalah seorang guru baginya. Dia mengatakan bahwa banyak pengalaman dan ilmu yang didapatnya dari sosok jurnalis pejuang ini. Dia juga tak henti-hentinya mengungkapkan rasa kagum akan kesederhanaan dan kepintaran yang dimiliki sahabatnya, Peter A. Rohi. “Oom Peter mengisi hidup dengan perbuatan baik, tidak sombong, dan tak menumpuk kekayaan” kata Andreas

  • Atmadji Sumarkidji (Jurnalis Harian Umum Sinar Harapan selama 21 tahun)

     Berbeda yang diungkapkan oleh beberapa sahabat, teman, dan rekan kerja, Peter A. Rohi dimata Admadji adalah sosok yang “Keras Kepala”. Dalam artian, selalu ingin menuntaskan segala sesuatu yang dikerjakannya. Selain itu, menurutnya, Peter A. Rohi juga adalah sosok yang telah membuktikan bahwa ketajaman pena lebih tajam dari senjata seperti yang pernah diucapkan oleh Napoleon Bonaparte, “Mata pena lebih tajam dari ujung bayonet”. Menurutnya, ada yang menarik dari Peter A. Rohi yaitu pada liputannya. Dia kurang tertarik meliput soal politik atau pemilu pada masa itu, melainkan penanya difokuskan pada isu lingkungan atau kemanusiaan. Di mata Atmadji, sosok Peter A. Rohi juga adalah orang yang cerdas, ahli dan penuh pengalaman, terbukti dari keahliannya berhasil memperbaiki tank yang rusak.

  • Bambang DH (Walikota Surabaya 2002-2010)

     Dia mengakui kehebatan dan kesaktian pena seorang Peter A. Rohi. Pengakuan itu datang dari keberhasilannya meluruskan sejarah kelahiran Soekarno yang telah lama keliru. Dia meluruskan sejarah bahwa Soekarno, presiden pertama RI, lahir di Surabaya bukan Blitar. Saat ini, penemuannya itu telah diakui bahwa Surabaya adalah tempat kelahiran Soekarno.

  • Eka Budianta (Penulis dan Kolumnis)

     Sahabat sejati Peter A. Rohi ini dalam buku Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis, lebih banyak menceritakan pengalamannya bersama Oom Peter. Dia menceritakan bahwa mengenal Oom Peter sudah sangat lama yakni lebih dari 40 tahun yang lalu. Dia mengatakan bahwa sosok Peter A. Rohi selalu memberinya pengetahuan-pengetahuan baru dan dengan tulus membuka jaringan kepada sahabat-sahabatnya. “Begitulah watak Peter yang saya kenal. Ia suka mengajak saya bertemu dengan teman-teman baru maupun teman lama” kata Eka Budianta.

Baca juga : MERDEKAKANLAH DIRIMU

  • Ganjar Gede Artha Widodo (Kartunis, Komikus, Creative Director di Bloomberg Indonesia, Wapimred Majalah B-One Indonesia)

Dalam buku Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis, Ganjar menceritakan awal mengenal Peter A. Rohi. Sekilas melihat wajahnya, Ganjar langsung mengambil kesimpulan bahwa orang ini “sangar” karena berambut gondrong, berkulit coklat, dan wajah yang terkesan kurang bersahabat. Di balik keseriusan dan ketekunan dalam pekerjaan sebagai jurnalis, sosok Peter A. Rohi ternyata memiki karakter yang sangat temperamental. Itu spontan muncul ketika berhadapan dengan ketidakadilan dan masalah kemanusiaan. “Saat anak buahnya mengeluhkan masalah manajemen maka Pak Peter tak segan mengherdik pihak manajemen guna membela kepentingan anak buahnya” kata Ganjar. Di mata Ganjar, sosok Peter juga adalah seorang yang telah berperan penting dalam kehidupan dan karirnya. Dia terang-terangan mengatakan bahwa berkat Peter A. Rohi, sketsa buatannya terkenal dan mulai dilirik banyak orang. “Setelah sketsa itu selesai, saya sering diminta membuat sketsa oleh sejumlah panitia seminar dan para pejabat publik. Itu semua gara-gara rekomendasi Pak Peter”. Dia baru menyadari bahwa orang yang “sangar” itu ternyata manusia yang berhati mulia yang senang membantu. “Kesan pertama saya tentang Pak Peter salah. Saya jadi ingat pepatah ‘Don’t jugle the book by cover’ ”.

  • Hari Nugroho (Pembuat film dokumenter)

     Menurut Hari, sosok Peter A. Rohi adalah seorang jurnalis Elang dan bukan jurnalis Emprit. Artinya bahwa dalam meliput berita lapangan, dia tidak ikut berbondong-bondong dengan wartawan lain seperti burung Emprit. Melainkan seperti Elang yang selalu terbang tinggi sendiri, dengan mata tajam menatap ke bawah mencari mangsa. Sehingga dalam meliput berita di lapangan, sering bepergian sendirian dengan bermodalkan ketajaman analisa pemikirannya menatap persoalan yang akan diliputnya. Hari juga mengatakan bahwa hati nurani Peter A. Rohi bergejolak untuk memperbaiki ketika hasil liputannya tak mememberi dampak yang besar kepada orang lain. Bahkan dengan kerendahan hati akan meminta maaf bagi banyak orang. Sungguh sifat yang mulia yang tak banyak dimiliki kebanyakan jurnalis lainnya.

  • Ignatius Gunarto (Jurnalis Jayakartanews.com)

     Peter A. Rohi adalah sosok wartawan yang sederhana, kaya pengalaman, wawasan luas, penulisan yang mendalam dan tak kenal menyerah, juga dibenarkan oleh Ignatius. Selain itu, sosok Peter A. Rohi menurutnya adalah seorang wartawan yang memiliki sifat yang sangat teliti dalam memilih liputan, yakni aktual dan bisa berdampak banyak bagi orang lain. Dia tidak memikirkan timbal balik yang akan diterimanya ketika meliput kejadian, karena profesi wartawan baginya sebagai jalan pengabdian yang tulus kepada masyarakat. Peter A. Rohi adalah “kamus berjalan” di mata sahabatnya. Tak henti-hentinya mengusulkan liputan-liputan besar dan bermanfaat yang belum dipikirkan oleh rekan kerjanya sebelumnya.

  • Krisman Purwoko (Sahabat/Belahan Jiwa)

     Dalam buku Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis, Krisman seorang sahabat atau belahan jiwa Peter, menuliskan pengalaman suka duka dan perjungan bersama sahabatnya. Sebagai orang yang lama dekat dengan Peter, dia menyaksikan dan menilai sejauh mana Peter A. Rohi bersikap, sisi pengalaman, kecerdasan, hingga karakter. Dia mengatakan bahwa Peter memiliki pisau analisa dan hitung-hitungannya yang tajam. Mampu menganalisa sesuatu dan tak melenceng sedikitpun dari kebenarannya. Selain itu, juga memiliki sifat yang profesional dan sangat serius “Kita jangan pernah menyajikan berita sampah” kata Peter A. Rohi kepada beberapa temannya. Dia juga menyaksikan hidup Peter yang heroik, memperjuangkan sikap, martabat dan kemanusiaan. Dan yang paling melekat dalam diri seorang Peter A. Rohi adalah sikap gotong-royong dan rasa peduli yang tinggi terhadap masa depan bangsa Indonesia. “Makanya ketika menyodorkan soal semangat membangun Indonesia dan menegakkan kebenaran, matanya menyala-nyala” kata Krisman.

  • Kristin Samah (Penulis Buku, Jurnalis Suara Pembaruan, Suara Bangsa, Sinar Harapan)

     Pandangan Kristin tidak berbeda seperti yang diungkapkan sahabat-sahabat Om Peter lainnya, bahwa memiliki analisa yang tajam sehingga berita-berita yang disajikan selalu aktual dan kontroversial. Itu datang dari semangatnya yang semakin hari menggebuh-gebuh, jelas berbalik dengan umurnya yang tak lagi muda. Dia juga mengungkapkan bagaimana kecintaan seorang Peter Rohi terhadap sejarah kehidupan Bung Karno. Peter A. Rohi memiliki naluri jurnalistiknya yang mengalahkan kekhawatiran pada keselamatan diri sendiri. Itu yang selalu menjadi dirinya luar biasa di mata teman-temannya. Selain itu, Oom Peter juga tak mau menyaksikan juniornya atau wartawan muda terpaku pada kehidupan pejabat sebagai sumber utama pemberitaaan. Melainkan isu kemanusian adalah utama.

Baca juga : Indonesia? Pemuda Mulai Berpikir?

  • Roso Daras (Pemred Jayakartanews.com dan Penulis Buku Bung Karno)

Dalam buku Ini, Roso Daras menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Peter A. Rohi dan sifat yang dimiliki oleh Oom Peter sendiri, yakni suka berbagi pengetahuan. Tak lain adalah sejarah perjalanan hidup Soekarno dan sejarah kemanusiaan yang selalu dibagikannya. Sehingga ketertarikan dengan isu sejarah Seokerno, membuat dia berhasil menuliskan kembali buku karya Im Yang Tjoe dengan judul Soekarno Sebagai Manoesia.

  • Roy T. Pakpahan dan Tri Agus S. Siswowiharjo

Sebagai rekan kerja yang pernah turun bersama meliput berita referendum Timor Leste, Roy dan Tri Agus menyaksikan keberanian dan kepedulian seorang Peter A. Rohi. Kata Roy, dia tak takut meliput suasana yang terjadi padahal Timor Leste saat itu telah menjadi lautan api dan sangat chaos. Padahal keberadaan wartawan yang meliput kejadian yang terjadi di Timor Leste saat itu, nyawanya terancam. Setidaknya dua wartawan dibunuh saat itu. Suasana semakin chaos, sehingga semua wartawan Indonesia yang ada di Timor Leste kecuali Peter, kembali ke Indonesia. Peter A. Rohi memilih tetap ada di tempat kejadian sebagai bentuk simpatinya dengan rakyat yang pro kemerdekaan. Bukan tanpa alasan mendukung referendum, dia ingin mengungkap kebenaran tentang Timor Leste dan memperjuangkan keadilan “Timor Leste dicaplok Indonesia adalah hasil kerja Soeharto dan Amerika Serikat” kata Peter. Dia menegaskan bahwa Timor Leste tidak pernah tercatat dalam peta Indonesia saat Soekarno memproklamirkan kemerdekaan.

Sedangkan sosok Peter A. Rohi di mata Tri Agus, tak beda jauh dengan pandangan Roy, yakni pemberani, rendah hati, jujur, dan mudah berbagi “Tuhan bersama orang-orang yang berani dan jujur” kata Tri menutup tulisannya.

  • Yosep Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers 2016-2019)

Peter A. Rohi di mata Yosep adalah wartawan yang menganut prinsip “boleh miskin tapi sombong”. Artinya bahwa sederhana namun begitu bangga dengan profesinya sebagai wartawan. Sehingga kata-katanya tentang “boleh miskin tapi sombong”, menjadi terkenal dan menjadi slogan beberapa wartawan se-Indonesia. Selain itu, dia juga memiliki naluri kritis yang berapi-api sehingga tak heran ketika tulisannya banyak mengkritisi pemerintah orde baru, meskipun dia tahu resikonya tinggi. Menurutnya, Peter A. Rohi adalah sosok wartawan sejati yang hingga tua tetap turun lapangan, mengabdikan diri sepenuhnya untuk kepentingan publik.

  • Zen Abidien (Jurnalis Tempo)

Kalimat yang selalu dilontarkan Peter yang tak pernah dilupakan oleh Zen adalah “Wartawan harus membela yang lemah”. Terbukti pada tulisan-tulisannya selalu memperjuangakan nilai kemanusiaan dan keadilan. Tulisan-tulisan Peter A. Rohi selalu tajam dan mengungkap fakta dan menjadi sumber pengetahuan baru, karena menurutnya, tulisan yang bagus adalah tulisan menyajikan pengetahuan baru ke publik. Dengan kekonsistenan menyajikan berita yang aktual, beberapa tulisannya diakui dan diterbitkan beberapa media luar negeri, dan beberapa tulisannya juga menjadi ancaman bagi kesewenang-wenangan pemerintah Indonesia. Contohnya pembunuhan misterius (Petrus) terhadap preman, penjahat, dan semacamnya. Berkat tulisan Peter A. Rohi yang selalu mengangkat topik tentang pembunuhan itu, pemerintah mengakui bahwa berada di balik pembunuhan itu. Masih banyak bukti hasil ketajaman dan berartinya tulisan sosok Peter lainnya yang telah dijabarkan dalam buku Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis.

Baca juga : Manusia Khayalan Kembali?

  • Zesopol Caminha (Aktivis Kemerdekaan Timor Leste)

Kenangan yang dituliskan Zesopol tentang Peter A. Rohi adalah pertemuan di medan konflik, yakni Timor Leste. Peter A. Rohi yang selalu memperjuangkan hak kebebasan masyarakat Timor Leste, dijuluki sebagai “pahlawan bagi keluarga”. Di mata Zesopol, Peter A. Rohi memiliki semangat dan jiwa kewartawanannya yang tinggi, dan telah berhasil menumbuhkan hingga berakar kuat pada diri keluarga, junior, dan kerabatnya hingga saat ini. Demikian rangkuman tentang pandangan keluarga, sahabat, pemerintah dan rekan kerja sosok jurnalis Peter A. Rohi berdasarkan buku Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis.

Ini hanyalah sebagian kecil pandangan tentang sosoknya, untuk lebih rinci mengenai hasil tulisan dan pengalaman-pengalamannya dalam dunia jurnalistik, penulis sarankan mambaca tuntas buku Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis. Peter A. Rohi telah membuktikan ketajaman tulisan lebih dari pisau. Dia telah tiada, tapi karyanya menjadi api baru bagi para jurnalis.

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun