Opini

Indonesia Dalam Film The Platform

Indonesia dalam film the platform

Apakah kalian sudah menonton film The Platform? Kalau sudah, apa pendapat kalian tentang film yang bergendre horror dan thriller ini? Pasti ada di antara kita merasa prihatin, kesal, marah, jijik, takut atau bahkan sedih melihat keadaan seperti itu. Itulah yang akan dirasakan oleh penontonnya dari setiap adegan yang ditayangkan.

Sinopsis tentang film The Platform; film ini menceritakan tentang kesenjangan sosial dalam sebuah penjara. Dalam tayangan The Platform, diperlihatkan bagaimana para narapidana diperlakukan tidak adil di sebuah penjara yang berbentuk vertikal. Sebagai bagian dari hukuman yang harus mereka terima, para narapidana ini hanya diberi makanan satu kali lewat sebuah meja yang turun dari lantai paling atas dan berhenti di setiap lantai selama dua menit. Semakin ke bawah lantai penjara, semakin sedikit makanan yang tersisa. Sehingga narapidana yang berada di ruangan bawah, hanya menikmati makanan sisa. Makanan-makanan itu tidak lagi bersih karena telah diludahi bahkan diinjak oleh narapidana lainnya.

Baca juga : Mental Feodal Dan sopan- santun Omong Kosong

Dari film ini menggambarkan bahwa siapa saja memiliki pengaruh dan kekayaan, akan mendapat posisi paling atas dan strategis termasuk kekuasaan sekalipun. Kekuasaan untuk berbuat  sewenang-wenang. Maka mereka di luar kelompok tersebut, akan susah mendapat posisi strategis dan tempat yang layak. Ketidakadilan seperti itu tak asing  lagi pada kehidupan kaum miskin hari ini. Sehingga beberapa kaum miskin hanya bisa berteriak menentang dan meratapi kehidupannya yang serba kekurangan.

Kejadian dalam film The Platform juga menggambarkan suasana yang memprihatinkan sama seperti yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Rakyat mendapat perlakuan tidak adil dari pemangku kekuasaan, petugas keamanan, kaum kapitalis, hingga sesama mereka dalam lingkungannya. Seperti baru-baru ini Indonesia diguncang kejadian yang memalukan dan sangat memprihatinkan, yaitu tindakan korupsi dana Bantuan Sosial (Bansos) yang dilakukan oleh beberapa pemerintah pusat. Beberapa dana bansos Covid-19 yang seharusnya 300 ribu per paket untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM),  mendapat pemotongan sepihak atau dikorupsi oleh menteri sosial, Juliari Batubara bersama  rekannya. Terjadi kesewenang-wenangan pada kasus ini layaknya narapida lantai atas dalam film The Platform. Akibat korupsi besar-besaran ini, banyak bantuan tak tersalurkan sesuai dengan jumlah yang seharusnya.

Baca juga : SELAMATKAN POLITIK INDONESIA

Sebagai hukuman yang diterima atas kebejatan moral yang diperbuatnya, dia dipecat dari jabatannya sebagai menteri sosial, lalu digantikan oleh Tri Rismaharini. Di sisi lain, beberapa menteri juga telah dipecat karena dinilai tidak sip dalam menjalankan tugasnya. Nama-nama baru sebagai pengisi jabatan menteri tersebut dipercaya akan menuntaskan masalah-masalah yang dihadapi indonesia saat ini seperti kesenjangan sosial. Pasti semua orang berharap begitu.

Cita-cita tersebut mungkin saja akan berhasil dicapai oleh nama-nama pengganti menteri yang bermasalah dan dinilai kurang sip itu, tetapi akan sulit pada masalah kesenjangan sosial. Tidak mudah. Alasannya, karena beberapa pemerintah di berbagai daerah sebagai pembantu pemerintah pusat, tidak lagi memiliki nilai tulus pelayanan dan telah terpapar radius feodalisme. Buktinya dapat kita tarik dari kasus yang telah kita bahas di atas, bahwa nyatanya, bukan cuma pemerintah pusat saja yang memotong bantuan sosial itu, melainkan beberapa kepala daerah hingga kepala desa. Sehingga tidak heran ketika banyak rakyat kemudian mengeluh atas bantuan yang tidak sesuai yang dijanjikan. Kesenjangan sosial akan terus ada ketika mental rakus masih terjaga.

Tentang tindakan menghargai sesama yang terpenjara lama ini, membuat rungan penjara The Plafform begitu nyata di kehidupan kita saat ini.

Penulis : Sigit Allobunga’

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun