• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Anak Millenial VS Mama Kolonial

Anak Millenial VS Mama Kolonial

(Edisi ke 2 : Catatan Perjuangan Untuk Cita-Cita)

Keluarga adalah harta yang paling berharga, keluarga adalah istana yang paling indah. Keluarga adalah  puisi yang paling bermakna. Sama seperti lirik lagu dengan judul : Harta Berharga yang diciptakan oleh : Harry Tjahjono & Arswendo da menjadi (OST “Keluarga Cemara”).

Kembali lagi bersama saya Tomo, seperti sedia kala catatan perjuangan untuk cita-cita,  saya sekarang sudah menjalani tanggung jawab sebagai cita citaku. Seorang terpelajar di salah satu perguruan tinggi swasta yang jauh dari gubuk kecilku. Tepatnya di Kota yang mewah dan megah. Surabaya sebutannya, kota yang penuh dengan sejarah perlawanan dan pembebasan Indonesia. Kehidupan sehari-hariku sebagai perantau harus bisa menyesuaikan. Saya tinggal bersama beberapa teman dalam satu rumah pemondokan. Dengan jarak yang sangat jauh, dipisahkan oleh samudra dan lautan yang luas, tentu ada rasa rindu untuk berlabuh pada pelukan mama. Mama yang polos, lugu dan tidak mengikuti zaman. Yang membesarkanku hanya dengan semangat bekerja di ladang garapan. Saat saya merindukannya, saya melakukan sebuah panggilan. Agar rindu dalam diri ini terobati dan tidak meronta-ronta dalam batinku. Hanya ada satu hal kecil yang bisa mengobati luka rindu. Mendengar suara lembutnya melalui saluran telepon. Setelah semalaman suntuk saya beristirahat, pagi-pagi sekali saat matahari masih berusaha bangkit dari tidurnya dan masih menguap, saya melakukan panggilan telepon dengan mama. Panggilan masuk, bunyi suara Tuuttt….  Tuttt,…… tuttt.  deringnya terdengar merasuk di dalam tilangaku seakan berbisik. Namun tidak ada jawaban, saya berpikir positif dan bergumam, “mungkin mereka masih tidur”

Saya berusaha menghubung satu-satuya nomor yang bisa saya hubungi sebagai perantaraku dengan keluarga, jadi aku menelponnya berulang kali. Sebanyak 5 kali aku menghubunginya, dan akhirya di angkat.  “Halo selamat pagi ma” ucapku pada nada pertama di telepon, saya mengandai andai mama sudah menekan tombol hijau, tanda telepon masuk terhubung. Namun nyatanya, suara anak kecil yang menyahut, dan menjawab iya nak, katanya dalam telepon. Ternyata anak itu adalah adekku yang berperan sebagai mama. Mama sengaja menyuruh adek kecilku mengangkat telepon itu. “Hah .. kamu ini bercanda saja” sahutku. “Mama dimana?” tanyaku

Sikecil menjawab “mama loh tidak bisa menerima panggilan, mama tidak bisa menggunakan telepon genggamnya, apalagi versi android” jawabnya dengan lugu. “Walau sudah sering di ajarkan mama masih saja belum bisa menggunakannya”. Kemudian aku sampaikan ke adekku “coba berikan ke mama”. Dia menjawab, nak katanya sambil tertawa dan memberikan telepon pada mama. “Halo nak, jawab mama.  “Tumben kamu Nelpon” sambungnya. “aku sudah nelpon beberapa kali ma” jawabku dengan nada manja.

“iya tadi mama masih di dapur buat sarapan, dan adekmu juga masih tidur” jawab mama dengan nada seperti kelelahan.

Dalam benakku, aku bertanya-tanya “kenapa mama yang saya telepon, tapi masih nunggu adek bangun”.  Dengan rasa penasaran saya bertanya langsung  bertanya.

“ma kok harus nunggu adek bangun sih?”.

“ah..kayak kamu tidak tahu aja, mama kan tidak bisa menggunakan telepon genggam nak” jawabnya dengan yang saya tahu dia sedang malu.

“oalah ma..ma saya pikir ada apa, mama belajar lagi dong main telepon genggamnya” saya mengarahkan dengan nada hati hati.

“iya saya juga sudah sering belajar, tapi belum bisa-bisa juga nak”

“hum… iyalah ma” balas ku sembari menghela napas.

“ma aku lagi butuh hemmmmm hemmmmm ” dengan ucapan teka- teki sulit yang aku berikan  isyarat pada mama.

“apaan sih nak” Tanya mama dengan kebingungan.

“aihh,. saya lagi butuh uang mama” dengan suara agak sedih, agar mama paham keadaan anak kost di akhir bulan.

 “emang kamu butuh berapa lagi nak” tanya mama,

“yah seperti biasa ma” jawabku. Saya  bermain teka-teki dengan mama, tapi kali ini mama paham dan saya tertangkap basah dalam teka-tekiku sendiri karena dia sudah ahli serta terbiasa mengenali kemauanku.

Saya sudah paham nak, nanti mama kabarin lagi, sambutnya.

“Okelah kalau begitu ma, jangan lupa ya” seruku pada mama.

“oh iya satu lagi ma, belajar main gawai yang giat, biar tidak gaptek,”  seperti memberi motivasi.

“iya nak, iya. Sudah dulu ya. Sebentar nak, sebentar mama mau nanya, gimana cara matiin teleponnya?” tanya mama sambil tertawa.

saya tertawa terbahak bahak dan menjawab “biar saya saja yang matikan teleponnya ma. Sampai nanti ma”

Orang tua yang gaptek, bukanlah sebuah halangan yang menganggu peningkatan kapasitas diri seorang anak dan memudarkan semangat anaknya dalam menempuh pendidikan di tempat yang jauh. .

 “If you were born poor it’s not your mistake but if you die poor it’s your mistake” -Bill Gates-

(/her)

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun