• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Backpacker Di Tengah Pandemi

Backpacker Di Tengah Pandemi

Oleh : Herman

Perjalanan saya kali ini pada masa pandemi adalah suatu hal yang dapat diterima dan bisa juga tidak. Diterima karena perjalanan itu menjadi sebuah hak setiap orang. Juga bisa tak diterima mengingat himbauan tetap “di rumah aja” telah berlaku. Namun yang perlu saya tegaskan, bahwa melakukan perjalanan saat itu ketika situasi belum parah dan telah mengantongi surat sehat dari dokter.

Saya berangkat dari kota Surabaya tempat dimana saya merantau mencari ilmu. Berangkat dengan rasa senang yang telah meluap tak terbendung lagi, karena pikirku libur telah tiba. Oh iya, penamaan libur itu dari benakku sendiri, yang nyatanya adalah pembelajaran dialihkan ke online alias belajar dari rumah.  

Saya pulang karena kampus lockdown. Dari kampung halaman aku mampu menyelesaikan tanggung jawabku sesuai sistem yang telah berlaku, pikirku. Kampus tutup akibat virus Corona  yang semakin hari semakin menular di Indonesia. Singkat perjalananku dengan tantangannya saya tuliskan sebagai berikut:  

Awalnya berasal dari rasa bosan dan sedih yang semakin menjadi-jadi melihat kampus seperti bangunan tua tak berpenghuni hingga suasana lingkungan tempat  tinggal yang semakin sepih seperti tak bertuan. Tidak hanya itu, beberapa bangunan-bangunan besar yang lama ramai pengunjung seperti mall, tempat ibadah, tempat wisata, kafe, juga sepih.

Berangkat dari alasan itu, keputusan akhirnya bulat memilih pulang kampung. Saya mulai merayu orang tua melalui telepon, semoga sudi memberi ijin untuk anaknya ini.
“Halo ma“ Obrolan ku mulai.
“Iya, halo.. Ada apa nak?” Jawan mama.
“mama nonton tv kan? Tau tentang virus corona?” dengan sengaja aku bertanya supaya dapat menjelaskan suasana yang aku rasakan.
“iya, kenapa ?” mama menjawab, yang artinya telah membuka kesempatan kepadaku anaknya untuk merengek meminta ijin.  
Aku pun mulai menjelaskan suasana yang saya rasakan, hingga mendapatkan restusnya.
“Hummm.. Iya nanti mama transferkan uang“ kata mama membuktikan restunya.

Dengar ucapan restu itu, perasaanku bahagia namun tidak sepenuhnya. Aku tahu, dalam perjalanan pasti akan banyak kendala karena telah melanggar himbauan dilarang pulang. Perasaanku berkata demikian.  Kututup telfonku dan mulai mempersiapkan segalanya.

Saat kebanyakan orang mulai memikirkan bagaimana terhindar dan memutus rantai virus ini yaitu dengan tetap di rumah, Saya tetap bersikeras ingin pulang walaupun saya tahu ini akan beresiko tinggi. Tak selesai pikir, mungkinkah aku akan aman-aman saja dalam perjalanan? Dan lalu bagaimana ketika saya sendiri mencelakakan keluargaku dengan membawakannya mereka virus? Kembali sangat dilemah saat itu. Namun tetap memilih untuk pulang. Aku percaya bahwa restu orang tua akan menuntunku.
Setelah tiket perjalanan sudah aku kantongi, aku berangkat dengan penuh ragu menuju Kota Daeng, Makassar. Saya tiba, dan teringat kata yang ku ucap dalam pesawat saat itu “buset, ini sudah pertengahan malam”. 

Setelah pesawat take off, semua penumpang digiring pada pintu khusus di bandara. Saya mulai menyangkah, kami akan dikarantina. Setelah masuk pintu antarian, saya memperhatikan dan terlihat jelas orang-orang mengantri menuju box biru dengan pintu transparan dan basah. Oww… Ternyata itu hanya sebuah proses penyiraman disinfectan pada penumpang agar tetap steril. Atau bisa di sebut sterilisasi, agar dapat memotong rantai penyebaran Covid 19, wabah yang sedang melanda dunia. 

Tidak sengaja, saya melihat sebuah monitor di pojok tiang, tertulis jelas dengan warna font berwarna kuning dan background biru. “PENDATANG JAKARTA DAN SURABAYA WAJIB STERILISASI”. Saya tidak kaget saat kota tempatku berpaling tertulis jelas, namun membuat saya kaget dan sekaligus bertanya-tanya adalah kenapa cuma untuk Jakarta dan Surabaya, bukankah beberapa kota lain berpotensi terjangkit? Dari hasil penasaran akan kalimat perintah itu, kusimpulkan bahwa bandara yang megah ini telah kecolongan. Banyak orang bepergian dari beberapa kota ke kota ini, tapi hanya dari Surabaya dan Jakarta mendapat bagian disterilkan.

 Setelah melewati pemeriksaan dan dikatakan steril, kembali memikirkan gimana dan kemana saya akan pergi malam ini?
Malam itu menjadi tantangan dan jawaban atas nafsu tidak mengindahkan himbauan “di rumah saja”. Ya, karena cerita telah berbanding terbalik, tidak sesuai dengan ekspetasi yang saya sudah rencanakan. Semua keluarga sudah tidak mau menerima saya di rumah mereka, karena saya berangkat dari Surabaya. Kejadian itu membuat saya kecewa pada keluarga, namun disisi lain tidak. Dan saya maklumi. 

Saya mulai bingung, sudah tengah malam tak tahu mau kemana. Saya mencoba hubungi siapa saja yang saya kenal, nemun mereka tidak juga mngindahkan. Hingga akhirnya teman SMA yang cukup akur dengan saya, mau menerima saya dan mengajakku beristirahat di kamar hotelnya. Dia adalah Rahmat, mahasiswa kota Istimewa Jogjakarta.  

Hingga matahari mulai menjajaki bumi, saya terbangun dan kemudian berpisah dengan temanku yang sangat baik ini. Dia melanjutkan perjalanannya dengan jalur udara, dan saya dengan jalur darat.

Karena keberangkatan hanya sore, memaksaku untuk menunggu. Rasa suntuk pull dalam pikiran, penyesalan sudah mulai merasuk dalam pikiran, di tambah keluarga yang tidak mau menerima aku lagi. Sedih rasa hati, namun semangat dalam jiwa masih bisa melawan keadaan. Semua sudah saya ikhlaskan, saya makan seadanya. Merenung sepanjang hari di pinggir jalan, tak ada yang mau menegur dan semua seperti mengasingkan saya. Begitu parahnya pandemi.

Hingga tiba saatnya berangkat menuju rumah yang dirindukan. Setibanya di sana, keadaan kembali membuat saya sedih. Tidak boleh bersalaman dengan mama papa, apalagi pelukan. Rasanya sangat mengecewakan. Setelah sekian lama menahan rindu dan tiba saatnya ingin melepasnya namun terhalang keadaan. Saya akhirnya sadar, dan tak perlu meninggikan ego, demi mencegah penularan covid. 

Pesan terpenting adalah ketika di tengah masalah yang besar dan berbahaya, kita hanya perlu menurunkan sedikit ego, agar bisa melupakan, meringankan, dan melihat semua baik-baik saja.

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun