Opini

Bagaimana Seni Dan Cara Untuk Berkhotbah Secara Ekspositori?

Berkhotbah Ekspositori

Bagaimana seni dan cara untuk berkhotbah secara ekspositori? sebuah tema menarik dari diskusi yang diadakan oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Surabaya komisariat Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) bersama komisariat Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS). Diskusi yang diadakan pada Jumat, 14 dan 28 Mei ini, mengundang Pdt. Rudi R. Sirait sebagai pemateri.

Ketertarikan tentang tema diskusi yang mengajarkan sebuah cara berkhotbah dan pada dasarnya tentang semangat mengabarkan firman Tuhan, membuat penulis tertarik untuk menuliskannya.

Baca juga : Sebuah Kajian Perspektif Kristen Bagi Pemuda Untuk Menjadi Pendamai

Ekspositori adalah sebuah proses dan teknik penyampaian yang sumbernya berdasarkan kenyataan atau sebuah fakta. Jadi, berkhotbah secara ekspositori adalah penyampaian didasarkan pada nats Alkitab yang dan pokok-pokok besar serta pokok-pokok kecilnya diambil dari nats Alkitab.

Dalam diskusi yang berlangsung masing-masing selama 3 jam ini, Pdt. Rudi R. Sirait sebagai pemateri menyampaikan ucapan terima kasih dan bangga kepada dua komisariat yang membuka ruang diskusi tentang teknik berkhotbah. Menurutnya, diskusi-diskusi tentang teknik berkhotbah sangat jarang menemui ruangnya bahkan di gereja sekalipun. “Gereja kurang memfasilitasi jemaatnya tentang teknik berkhotbah, padahal berkhotbah untuk menyampaikan kebenaran kitab suci adalah tanggung jawab semua warga Gereja” kata Pdt. Rudi R. Sirait dalam diskusi sesi pertama, jumat (14/5/2021).

Dari kurangnya fasilitas tentang cara berkhotbah, membuat beberapa warga Gereja kehilangan semangatnya menelusuri ayat per ayat dalam Alkitab untuk mencari kebenaran yang harus diberitakan, sehingga membaca Alkitab terkesan hanya menunaikan kewajiban tanpa penafsiran yang matang. Kurangnya fasilitas tentang cara berkhotbah membuat beberapa warga Gereja memandang bahwa berkhotbah dan menjelaskan isi Alkitab adalah tanggung jawab seorang pendeta.

Khotbah Ekspositori bukanlah khotbah yang menjelaskan seluruh teks atau khotbah yang diambil dari ayat-ayat yang panjang atau lebih sehingga kedengaran Alkitabiah. Tetapi suatu komunikasi dari suatu konsep atau gagasan Alkitabiah yang dapat diambil melalui penafsiran yang benar (penafsiran yang bersifat sejarah, tata bahasa dan bentuk tulisan) dari ayat-ayat Alkitab.

Khotbah ekspositori menjelaskan tentang satu ayat Alkitab yang ditafsirkan dengan benar. Dikatakan sebagai penafsiran yang benar ketika melihat lalu menghubungkan kisah-kisah yang bersifat sejarah, karena kejadian dalam Alkitab terjadi pada masa lampau. Juga harus mampu menafsirkan tata bahasa dan tulisan dalam ayat yang diangkat sebagai bahan bacaan.

Baca juga : Kuliah Teologi, Wajibkah Menjadi Pendeta?

Karena prosesnya akan menafsirkan dengan benar, maka alangkah baiknya berkhotbah ekpositori cukup menafsirkan satu ayat. Mencari fakta dalam ayat menggunakan metode 5W + 1H (What, Where, When, Why, Who dan How) dalam melakukan investigasi dan penelitian.

Persiapan Khotbah Ekspositosi

Dalam persiapan membuat khotbah ekspositori maka ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu kebutuhan rohani dan keterampilan berkhotbah. Kebutuhan rohani artinya bahwa point khotbah yang disampaikan dapat memotivasi mereka yang mendengar sehingga mengalami lonjakan iman menuju kedewasaan iman. Sedangkan keterampilan berkhotbah adalah keterampilan seseorang dalam memahami ayat yang dibawakan serta tahu secara pasti bagaimana menyajikannya. Pengkhotbah ekspositori setelah mengertahui kebutuhan rohani maka selanjutnya ia harus memikirkan bagaimana menyajikannya.

Point penting yang harus diperhatikan seorang pengkhotbah ekspositori adalah menemukan tema yang menarik, singkat, populer dan mudah diingat. Selanjutnya melakukan menyelidikan pada nats yang telah ditentukan dengan metode 5W + 1H. Sasaran utama dalam penyelidikan nats adalah menemukan maksud penulis dan bukan maksud pengkhotbah dengan senjata buku-buku referensi. Dari hasil penyelidikan kemudian dikembangkan konsep dalam sebuah garis besar dan membangun point utama serta point kecil yang nantinya menjadi dasar gagasan khotbah.

Khotbah secara ekspositori membutuhkan kreatifitas dan hikmat sehingga dalam penerapannya sesekali bercerita kisah Alkitab, menginformasikan kejadian faktual dan terpercaya, memberikan ilustrasi supaya mudah dimengerti, sesekali berlawak yang tidak menyinggung seorang pun dan juga bacalah puisi yang dapat mencuri perhatian.

Penulis : Sigit Allobunga’

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun