• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Bahagiaku yang Menyebalkan

Bahagiaku yang Menyebalkan

Kicauan burung pagi terdengar indah dan bernada, hangatnya fajar merangsang pori-poriku yang baru siuman.

Dering telepon terdengar keras tepat di samping telingaku, yang tak sadar kulepas saat mataku mulai lelah memandangi layarnya. Dialah yang menemani mimpi-mimpi indahku di kala gelapnya malam, entah apa mimpi terakhir ku pagi itu.

Saya terbangun dengan penuh semangat, karena hari ini adalah kuliah perdanaku. Tak sabar ingin bertemu dengan sahabat karibku yang terpisah selama sebulan yang lalu, serasa mulut ini tak akan henti berdongeng dengannya diatas hubungan mesra persahabatan yang telah lama kami jahit.

Secara tak sadar kakiku sudah melayang dan menapak menyentuh dinginnya batu keramik, bibirku tak berhenti bergumam “otw mandi”… sambil senyumanku merekah.

Seusai membersihkan badanku yang masih berlumuran mimpi, saya mulai bersiap mempertemukan kancing bajuku dari bawah hingga ke atas, saya merasa hari ini cukup indah bagaikan kado ulang tahun untukku.

Oww… iya saya perkenalkan diri dulu “perkenalkan nama saya Artomo, saya biasa dipanggil Tomo. Saya salah satu mahasiswa Universitas Terbuka (UTE), kampung halamanku adalah sebuah kota yang dikenal dengan ribuan kerbau yang menjadi keimanan alam dan adat yang indah.

Saya seorang dengan kejailan yang tak bisa dipisahkan, sering saya lakukan kejailan sampai membuat wajah temanku yang sedang belajar memerah seperti tomat.

Kembali lagi pada keceriaanku yang tiada habisnya, saat itu pukul tujuh pagi saat matahari mulai tersenyum, saya berangkat ke kampus dengan durasi yang cukup menyita waktu, tiga puluhan menit lamanya.

Tak seperti hari-hari yang lalu, hari ini cukup berbeda. Dalam perjalanan saya diberhentikan oleh seorang bapak-bapak dengan seragam berwarna coklat, berkumis tebal dan bertubuh tinggi, sambil meniupkan peluit serta mengangkat tangan kemudian berkata “menepi mas!” dengan nada yang sedikit tegas.

Sontak hatiku kaget dan gemetar serasa berada dalam permainan roller coaster. Kuikuti perintah itu seperti orang linglung “mau diapakan saya?” (ucapku dalam hati). Roda besiku tak berputar lagi, dan kudengar ucapan :

“Selamat pagi mas, mohon maaf menggangu waktunya sejenak’..  Ucap bapak berseragam coklat itu. “Selamat pagi juga pak”… Jawab ku. Lalu kami bersahut-sahutan di mulainya dengan kalimat.

“Bisa liat STNK dan SIMnya mas?” sambil memperlihatkan senyuman yang menindas di bibirnya.

Detak jatungku semakin tak beraturan membayangkan petaka apa yang akan terjadi selanjutnya padaku. Dengan nada bergetar keluar dari mulutku “iya pak tunggu ya pak” jawabku.

Kemudian saya mengeluarkan dompet  dari kantong yang hanya berisi STNK dan lipatan uang kertas bergambar pahlawan Mohammad Moesni Thamrin.

“Waduhh” kataku dalam hati. Dengan pikiran yang kacau, kusodorkan tanganku yang berisi STNK pada bapak berkumis tebal tadi. Apa yang akan dikatakannya ketika mengetahui saya tak memiliki SIM?

”Ini pak”.. kataku

“saya periksa dulu ya mas”  ucapnya.

Beberapa detik kemudian ketika saya termenung, kemudian di hujam pertanyaan. Bapak itu menanyakan kembali,

“SIMnya mana mas?”

Sayapun menyahut dengan bibir yang bergetar..  “aaa…aaa…” 

“Ayo mana..” kata bapak itu dengan nada semakin tegas sekaligus mempermainkanku.

Kutundukkan kepalaku dan kutarik nafas dalam dalam, dengan pasrah ku jawab  “Tidak ada pak.. hehehe…”  
Bapak berseragam coklat itu mengajak saya masuk dalam kantornya

“Ayo mas kita bicarakan dalam kantor saja” pekiknya.

“iya pak” jawabku sembari menurunkan kaki besi sepeda motor yang kutunggangi tadi dengan senyuman yang berpura-pura bahagia. Kami berjalan beriringan seperti seorang adek-kakak memasuki kantor.

Sesampai di dalam bapak berkumis tebal bertanya lagi, “Mau bayar disini atau selesaikan di persidangan mas?” 

Saya sedikit kebingungan untuk menjawabnya, humm..  “saya bayar disini saja pak. kalau disini, bayar berapa pak?”.  tanyaku dengan suara yang semakin samar-samar.

“Sekarang kamu punya berapa mas?” dengan raut muka tersenyum menggelikan.

“saya cuma punya dua puluh ribu pak”. Jawabku dengan muka memelas.

Ditimpalinya dengan kata-kata tanpa rasa malu “kurang mas, tambahin lagilah”

“Saya hanya ada uang lima puluh ribu rupiah saja pak, itu pun buat isi bensin dan makan hari ini?”kataku

“Saya tidak mau tahu mas, itukan urusan kamu kalau tidak STNKnya saya tahan saja”, jawabnya tanpa ada belas kasihan.

Dengan rasa kesal, saya langsung memberikan saja semua isi dompetku agar urusan selesai. Dalam waktu sesingkat itu hari-hari bahagiaku berubah menjadi hari suram yang dihantui bapak berseragam coklat dan berkumis tebal tadi.

Kemudian saya diperbolehkan melanjutkan perjalanan.
Rasa kesal masih menggentayangi ubun-ubunku, dalam hati saya bersungut-sungut “ternyata bukan hanya preman saja yang menjadi tukang palak, orang berseragam juga ikut-ikutan, kampretttt”.

(/Her)

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun