• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
BELAJAR DARI KASUS AUREL – KELUARGA SURGA DALAM API

BELAJAR DARI KASUS AUREL – KELUARGA SURGA DALAM API

Oleh : Ekravilo Amfotis

Setiap kita terlahir dalam keluarga yang berbeda. Ada yang hidup dalam kelimpahan harta,  hidup berkecukupan sampai pada strata terendah yaitu hidup yang tidak diinginkan. Keluarga adalah pintu utama segala pengetahuan. Sebelum ilmu pengetahuan mencampurkan diri dalam wadah belajar, keluarga menjadi tiang kekuatan pertama bagi seorang anak. Keluarga hadir memberi penafsiran dan ketetapan dalam perjalanan kehidupan seorang anak. Maka dunia akan memberi respon terhadap seorang anak berdasarkan asal usul, prestasi, keharmonisan, perbedaan, cinta, keburukan dan karakter dari sebuah keluarga.

Menjadi baik dimata dunia membutuhkan pembuktian yang mematikan. Bahkan dalam keluarga, orangtua adalah pegangan hidup seorang anak. Namun perlu diakui bahwa kehidupan setiap anak tentunya berbeda. Ada yang hidup dalam kebahagiaan karena memiliki orangtua yang utuh, hidup berkecukupan dan menikmati masa kecil seutuhnya adalah keberuntungan. Beda halnya dengan mereka yang dalam masa kecilnya telah kehilangan kebahagian karena perceraian orangtua.

Baca juga : PEREMPUAN SEBAGAI MANGSA TRADISI KAWIN TANGKAP

Beberapa pekan lalu, status seorang anak artis Indonesia sebut saja Aurel Hermansyah menyita perhatian semua orang. Dan sebagian masyarakat tahu bahwa Aurel memiliki masa kelam bersama orangtua. Walau kehidupan secara materil bisa dikatakan sangat cukup, namun tidak untuk kasih sayang. Hal ini terkait dengan kehausan seorang anak akan perhatian, kasih sayang dan cinta dari orangtuanya. Anak yang meminta kebahagiaan dan kehadiran seorang ibu. Anak yang mengemis dalam kehampaan dari setiap pertanyaan dalam memaknai cinta dan keegoisan.

Hidup sebagai seorang anak dari keluarga yang broken home bukanlah hal yang menyenangkan. Dan sebagai anak yang tumbuh dalam kehausan kasih sayang, mereka menilai diri sebagai sampah dari keegoisan cinta orangtua. Motivasi, perhatian, pujian dan sekalipun kritikan dari sesama manusia, tentu tidak akan membantu. Semakin kita menyebut rasa empati kepadanya, maka semakin dalam luka batin yang mereka rasakan. Keluarga surga bagi dunia namun api bagi yang merasakan.

Baca juga : Tembok Pemisah Kekerabatan

Anak dari keluarga yang telah bercerai, secara umum memiliki satu penyakit yang sama. Haus kasih sayang dan kehadiran orangtua. Siapapun tidak bisa menggantikan orangtua, sekalipun telah menghadirkan keluarga baru. Beberapa anak sebagai korban perpisahaan kedua orang tua, memprotes dengan melakukan tindakan anarkis dan mencoba mencari kebahagiaan yang abstrak baginya. Sebagian juga bahkan memilih diam. Akhirnya tindakan mereka itu, dinilai oleh dunia dan standarnya sebagai penganggu yang tidak bermoral dan empati yang penuh kebohongan. Mirisnya lagi, banyak orangtua yang malu dengan perbuatan anaknya yang sebenarnya akibat dari perceraian mereka.

Seorang anak yang hidup dalam keluarga broken home dan secara materil rendah, dituntut untuk lebih dewasa.  Mereka harus bekerja kebih keras dari biasanya. Sehingga yang telah diakui dunia bahwa anak-anak selalu dekat dengan bermain, adalah mustahil bagi mereka. Gambaran dunianya adalah tentang hidup hari ini atau makanan apa yang harus disajikan untuk hari ini. Mereka sendiri yang  membentuk karakter dan masa depannya . Berjuang dengan ambisi tanpa tahu akan berakhir dimana dan seperti apa. Mengandalkan sekolah sebagai pusat pendidikan secara penuh adalah nihil. Lantas siapa yang patut disalahkan? Dunia dan aturannya? Orangtua? Perpisahan ? Atau cinta?

Baca juga : Sampah Yang Telah Menjadi Harta

Mencari jawaban atas pertanyaan di atas, justru akan menambah masalah. Semuanya memiliki peran dan tanggung jawab. Orangtua dan keluarga memiliki tanggungjawab untuk perkembangan setiap anak. Kehadiran dalam mengisi waktu dengan melakukan hal bersama anak-anak adalah yang paling dirindukan. Perpisahan adalah pilihan dan keputusan. Dan orangtua berhak memilih jalannya tanpa melupakan anaknya. Beban moral dan psikis yang dialami setiap anak dalam keluarga broken home adalah kepatahan dan kekuatan mereka. Orangtua bahkan tidak akan pernah tahu. Mereka sangat pandai menyimpannya.

Berempati tentunya adalah hak setiap orang,  namun janganlah berlebihan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan netizen Indonesia. Mereka menyalahkan satu pihak tanpa mencari kebenaran. Anak yang secara mandiri dan telah berjuang dalam keterbatasan adalah kemajuan. Anak yang terbuang, mereka mampu menilai dan sangat paham dengan siapapun yang hanya berempati sekedar kata-kata. Bahagia adalah janji yang wajib diciptakan setiap orang untuk diri sendiri. Jangan meminta dunia untuk memberi bahagiakan. Orangtua dan tanggung jawab pantas dicari tapi bukan dituntut.

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun