• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Belajar Dari Kasus Floyd. Stop Diskriminasi

Belajar Dari Kasus Floyd. Stop Diskriminasi

Oleh : Margareta Merpati Songot

Di tengah krisis akibat pandemik Covid-19, dunia maya digemparkan dengan berita-berita tentang diskriminasi yang terjadi di Amerika. Banyak aksi yang dilakukan oleh masyarakat di Amerika, bahkan terjadi kerusuhan antara masyarakat dengan polisi dalam aksi yang dilakukan. Berbagai hastag #blacklivesmatter dan #blackouttuesday menghiasi dinding-dinding sosial media, baik facebook maupun instagram.

Banyak masyarakat dari berbagai negara turut menyoroti dan berkomentar terkait masalah diskriminasi ini. Tidak terkecuali Indonesia. Walaupun aksi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia melalui dunia maya dengan memberikan hastag #blacklivesmatter dan #blackouttuesday. Masyarakat Papua dan juga sebagian dari masyarakat Indonesia menggunakan kesempatan ini dengan menggunakan hastag #papualivesmatter sebagai bentuk protes atas diskriminasi yang sering terjadi terhadap orang Papua di Indonesia.

Diskriminasi bukan hanya terjadi di Amerika tetapi di Indonesia juga sering terjadi, baik itu diskriminasi terhadap orang-orang Indonesia Timur yang memiliki warna kulit gelap, terhadap suku Tionghoa yang ada di Indonesia dan juga terhadapat perempuan. Beberapa contoh diskriminasi yang terjadi di Indonesia seperti pada tahun 2019 lalu, Indonesia di hebohkan dengan kasus diskriminasi terhadap mahasiswa Papua di Surabaya yang menyebabkan masyarakat Papua melakukan aksi demo di beberapa wilayah. Suku Tionghoa yang berada di Indonesia sering dikatakan pendatang, bukan orang pribumi, bahkan sebagian diantara mereka sering dibully karena memiliki bentuk mata yang sipit. Sedangkan diskriminasi yang dilakukan kepada perempuan salah satunya ada standar kecantikan yang diciptakan oleh masyarakat.

Baca juga : Intoleransi Dalam Diri

Standar kecantikan terhadap perempuan yang diciptakan oleh masyarakat bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang berkulit putih, rambut lurus, sexy dan lainnya juga merupakan salah satu bentuk diskriminasi yang tidak disadari oleh banyak masyarakat Indonesia. Hal ini sering dianggap biasa saja akan tetapi tanpa disadari memiliki efek yang besar kepada banyak perempuan yang secara fisik tidak memenuhi standar kecantikan tersebut. Beberapa perempuan bahkan harus menjadi korban bullying dan bodyshaming dari masyarakat karena standar yang diciptakan.

Naomi Wolf menyatakan bahwa penentuan standar kecantikan dalam suatu masyarakat telah menyebabkan penderitaan bagi sebagian perempuan yang dianggap berada di bawah garis kecantikan. Ketika seorang perempuan tidak dapat memenuhi standar kecantikan yang diterapkan dalam masyarakat, besar kemungkinan mereka dihinggapi rasa tidak nyaman, kesepian, terasing, dan rasa percaya diri yang rendah. Kenyataan tersebut menegaskan bahwa kita sedang berada dalam pertentangan melawan salah satu bentuk diskriminasi yang menggunakan citra kecantikan sebagai senjata untuk menentang kemajuan perempuan (Wolf, 2004)

Baca juga : Perempuan Lingkaran Setan Misoginisme

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak perempuan berusaha mempercantik dirinya dengan berbagai macam perawatan kecantikan hanya untuk memenuhi standar kecantikan yang ada dalam masyarakat. Tidak sedikit perempuan bahkan mengalami diskriminasi dan body shaming ketika mereka tidak mampu memenuhi standar kecantikan. Hal ini secara tidak langsung membuat sesama perempuan saling bersaing untuk menjadi cantik sesuai dengan ekspektasi masyarakat, dan juga mematikan mental sebagian perempuan yang tidak mampu memenuhi ekspektasi masyarakat.

Zozibini Tunzi dalam pengukuhannya sebagai Miss Universe 2020, ia menyatakan bahwa, kita tumbuh dan hidup di dunia dimana seorang perempuan yang memiliki jenis kulit gelap dan rambut keriting seperti dirinya tidak dianggap cantik dan dengan kemenangan dirinya sebagai Miss Universe merupakan waktu yang baik untuk menghilangkan standar kecantikan yang seperti ini (Zozibini Tunzi, 2020)

Baca juga : Tulisan Margareta Merpati Lainnya

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun