Opini

Berani Mengambil Peran

Berani-mengambil-Peran-Opini.jpg

Kapan terakhir kali kamu merasa berjuang banget soal hidup? Berani mengambil resiko yang tinggi tanpa harus memikirkan hal-hal yang akan terjadi seperti kendala, dampak buruk, serta apa kata orang-orang terhadap diri kita. Mungkin hanya pada saat kita masih menginjakkan kaki di Sekolah Dasar (SD). Bahkan, ketika kita sudah beranjak SMP kita sudah mulai ragu pada diri kita sendiri. Kita mulai mengasut diri dengan kata : ‘gimana yah nilai aku nanti’! ‘Mama pasti marah kalau tahu tadi aku telat masuk kelas, Karena aku terpaksa harus membantu si Siti yang sedang kesusahan mengurus jualan titipan ibunya’!

Saya juga merasakan hal yang sama dengan beberapa teman-teman. Motivasi hidup semakin dewasa terasa semakin tawar. Bahkan, kita menjalaninya pun akan terasa nikmat dengan rebahan seharian, dalam kamar sambil mengskroll FYP tok-tok hingga tak terasa hari berganti lagi, yang kadang kala makan dan minum pun kita masih harus di ingatkan oleh orang tua. Rasa-rasanya kita butuh hidup atau suasana baru, apalagi dalam keadaan pandemi saat ini, saat dimana kita benar-benar tertekan bukan hanya disisi pisikolog yang terus-terusan memikirkan kapan bisa sekolah tatap muka, kapan bisa jalan-jalan. Tapi kita juga ikut memikirkan gimana keadaan ekonomi indonesia yang semakin hari semakin menurun derastis. Banyak yang menjerit kehilangan keluarga dan kerabat kerja, rela bekerja hingga larut malam, sampai mesti meninggalkan keluarga kecilnya. Herannya beberapa orang di atas yang mestinya memimpin kita, justru mengambil hak kita lalu menikmatinya dengan keluarga kecil mereka tanpa ada rasa ibah didalam dada yang sesak, serta rasa bersalah pada Tuhan yang menciptakan keadilan. Namun apa yang kita butuhkan untuk bisa bergerak.? Bukankah ini saatnya kita mengambil peran.

Baca Juga : Kritik Sosial Terhadap Sistem Kapitalisme

Ini yang saya maksud keberanian baru. Yahh,… Keberanian kita untuk tidak hanya tinggal diam dan menikmati kesengsaraan hidup ini. Kita mestinya kembali pada masa-masa Sekolah Dasar, bukan untuk kembali bermain kelereng. Tapi, kembali pada keberanian kita, yang selalu berambisi untuk menang saat kita bermain kelereng dengan kakak kelas yang lebih pro. Atau keberanian yang kita lakukan yaitu, bolos pelajaran matematika hanya untuk tawuran dengan sekolah sebela, yang  membuat semua amarah teman kelas terbakar, dengan alasan salah satu siswa pria di SD sebelah menggangu wanita sekolah kita. tidak pernah ada pikiran, bahwa apa yang saksi yang akan kita terima setelah kejadian ini, bahkan pikiran untuk dikeluarkan dari sekolahpun sudah tak pernah tersirat dalam angan. Coba pirkirkan kembali, kebaranian apa yang sudah pernah kita lakukan, selain berbohong untuk meminta uang belanja buku, namun kita gunakan bermain PS.

Keberanian itulah yang harusnya kita terapkan hari-hari ini. yang mana kita harus mengkritik para pemimpin tanpa harus memikirkan apa sanksi yang akan kita dapatkan. Keberanian yang selalu membela kebenaran, tanpa adanya sogokan, seperti binatang buas dalam jeruji besi yang memberi hiburan pada para pengunjung taman safari.

Sadarkah kita dengan keadaan sangat genting sekarang ini, keadaanya yang semestinya menjadikan kita berdampak. Namun sebaliknya, kita hanya tetap menjadi penonton drama tanpa mengambil peran apapun. Padalah, sedikit gerakan saja, kita bisa mengubah banyak hal yang tanpa kita sadari akan menjadi senjata tarampuh untuk meruntuhkan kejayaan para pemimpin-pemimpin yang tidak bertanggung jawab itu. Apa senjata itu? senjanya adalah : Hp atau gawai yang memiliki sosial media. dengan gawai kita bisa membagikan setiap kasus-kasus yang ada. Kita bisa membuat petisi pembelaan dan banyak lagi kegiatan lainnya yang bisa di berikan dengan bermodalkan Hp dan internet.

Baca Juga : Pemimpin Yang Berdaya Cipta dan Bertanggung Jawab

Beberapa kabar yang sangat hot di bahas dalam sosial media belakangan ini. Yaitu ; Keadilan yang sudah pasif dinegara Los Santos. Yang terlihat dari tersangka korupsi dana bansos meminta pemotongan tahanan. Dan seorang ibu yang diberi sanksi tahan 9 tahun karena mencuri susu di sebuah toko. Waww,… Kemanakah kita harus mencari keadilan lagi?

Kasus demi kasus hanya tertutupi dan membusuk bersama korban. Siapa yang akan membela? Kemana 10 pemudah yang katanya akan mengguncangkan dunia? Apakah semua hanya hayalan semata.? “Tidak.” Karena kitalah yang akan menjadi 10 pemudah itu. Kita yang akan mengubah dunia, Anak SD yang pemberani itu, yang tidak takut telat masuk sekolah demi membantu teman sekelas yang kesusahan. Kita, yang tak lupa dengan keadilan bagi saudara-saudara kita yang tertindas. Dan kita, pemudah yang mengambil peran untuk negeri ini. 

Penulis : Herman (Tato)

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun