Opini

Budaya Antri dan Jurusan Orang Dalam Di Vaksinisasi

kegiatan vaksinisasi covid-19

Kegiatan vaksinisasi yang ditargetkan bisa mencapai 1 juta dosis per hari pada Juli 2021 masih terus berlanjut dan diklaim telah sesuai target. Kendati demikian, keberhasilan mencapai target tersebut tidak luput dari permasalahan dan praktek kurang menyenangkan yang telah menjadi kebiasaan.

Ada beberapa permasalahan dan praktek kebiasaan sangat kentara dalam kegiatan tersebut. Permasalahan yang paling kentara adalah membludaknya antrian calon penerima vaksin, hingga menimbulkan kerumunan yang bisa saja menjadi salah satu titik penyebaran Covid-19.

Kegiatan vaksinisasi massal dilakukan di berbagai kota salah satunya kota Surabaya. Vaksinisasi massal kolaborasi antara Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan Gerai Vaksin Presisi Polrestabes Surabaya dilakukan mulai pada tanggal 10 Juli 2021 yang berlokasi di Polrestabes Surabaya, mengundang ketertarikan berbagai kalangan untuk menerima vaksin.

Baca juga : PENDIDIKAN DI TENGAH COVID-19

Pada prosesnya, vaksinisasi yang dilakukan di Polrestabes Surabaya sesuai dengan dugaan bahwa akan membludaknya antrian calon penerima vaksin seperti yang terjadi di kota-kota lainnya. Di dalam antrian yang panjang terdapat juga orang-orang yang nyaman dengan kebiasaan buruknya, yakni tidak mau mengantri.

Sehingga dari kebiasaan itu memunculkan perdebatan di antara calon penerima vaksin. Dari kejadian itu seorang pemuda terlihat marah dan menugur beberapa wanita yang tidak antri. Mirisnya, wanita-wanita itu tidak menerima teguran dan merasa yang dilakukan adalah benar sehingga menyerang balik pemuda yang menegurnya.

Bukan cuma itu, kebiasaan lainnya yang sangat kentara dalam kegiatan vaksinisasi tersebut adalah praktek “Orang Dalam”.

Orang Dalam

Jurusan orang dalam bukan hanya berlaku di bidang strategis seperti pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan bidang strategis lainnya, tetapi juga telah merampat ke dalam kegiatan vaksinisasi. Apa itu jurusan orang dalam? Jurusan orang dalam merupakan sebuah kalimat yang cukup tenar di kalangan rakyat Indonesia saat ini. Tenar bukan tanpa sebab melainkan karena praktek ini sudah sering dijumpai dan seakan tabu di lingkungan kita.

Jurusan orang dalam memperlihatkan praktek tentang seorang yang memiliki kemampuan, kesabaran, berperilaku baik dan berpotensi masuk bidang tertentu, kadang ditumbangkan orang yang memiliki keluarga, teman, maupun kerabat lainnya yang telah bekerja pada bidang tersebut. Jalannya mulus dan tidak serumit beberapa pelamar kerja, calon mahasiswa yang berjuang masuk kampus impiannya, seorang karyawan yang dibedakan dalam hal upah, seorang politikus yang berjuang mencapai kekuasaan, dan lainnya yang mengandalkan kemampuan dan kepintaran mengedepankan etika.

Baca juga : Indonesia Dalam Film The Platform

Bagaimana “Orang Dalam” di kegiatan vaksinisasi? Mereka yang menggunakan jurusan orang dalam mendapat perlakuan yang sangat istimewa. Terhindar dari antrian panjang yang sangat melelahkan. Mereka yang mendapat perlakuan khusus adalah mereka yang punya kenalan dan keluarga penyelenggara vaksinisasi. Kegiatan yang dilakukan di Polrestabas Surabaya itu terlihat sangat jelas dipraktekkan.

Banyak calon penerima vaksin menempuh jalur ini dan salah satunya adalah seorang wanita yang tidak mau antri dan telah menimbulkan perdebatan dengan beberapa calon penerima vaksin. Detik-detik perlakuan istimewa itu didapatkan setelah perdebatan redam beberapa menit. Wanita itu menghubungi seseorang lewat handphone “Ndan, dimana ndan? Aku sudah di lapangan ini” kata seorang wanita itu. Setelah beberapa menit, seorang datang menjemput wanita itu menuju ruangan penyuntikan vaksin.

Beberapa diantara mereka dijemput di tempat parkir, lalu dituntun menuju rungan penyuntikan vaksin. Mereka berjalan melewati ratusan calon penerima vaksin yang telah mengantri beberapa jam di bawa terik matahari yang begitu menyengat.

Baca juga : Beberapa Kesalahan Berpikir Bangsa Indonesia Yang Terus Menjebak

Beberapa rakyat Indonesia yang melihat kejadian tersebut tidak kaget karena praktek ini sudah berulang-ulang kali terjadi dan seakan telah tabu.

Kendati demikian, jurusan orang dalam di kegiatan vaksinisasi menyayat hati calon penerima vaksin lainnya karena merasa perjungannya mengantri beberapa jam tidak dihargai. Mereka berhak keberatan karena telah mengantri panjang dengan rata-rata lama antrian per orang kurang lebih 6 jam.

Penulis : Sigit Allobunga

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun