• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
CATATAN PENDIDIKAN SEORANG PEMUDA

CATATAN PENDIDIKAN SEORANG PEMUDA

Oleh : (/SHS)

Malam hari pada tanggal 17  Februari 2020 saya melakukan diskusi tentang menulis dengan dua orang adik. Pembahasan dimulai ketika salah satu adik bernama E, mempertanyakan tentang sistem pendidikan. Dengan pertanyaan singkat. Kenapa guru merasa selalu benar? Kenapa siswa dipaksakan menyukai semua mata pelajaran? Dan kenapa seolah-olah siswa adalah robot yang selalu harus benar?

Pengalamannya tentang pendidikan sedikit berbeda dengan teman-temannya di sekolah. E selalu terasing karena dianggap sedikit nakal dari teman-temannya. Tetapi dia merasa tidak pernah dipahami dan digali kehidupannya tentang alasan mengapa dia menjadi siswa yang nakal.

Dengan paradigma bahwa guru selalu merasa paling benar dan tidak bisa dikomentari, maka untuk menggali setiap tindakan siswanya adalah mustahil. Kecenderungan itu membuat si E selalu merasa diasingkan dari lingkungan sekolahnya.

Kalau kita melihat dari aspek bahasa, Guru merupakan subjek pendidik yang mengarahkan, membimbing dan mengajarkan siswa dengan penuh kesabaran. Namun berbeda dengan praktek yg terjadi yang dialami oleh seorang siswa bernama E tersebut. Guru selalu membedakan perlakuan terhadap siswa dengan akademik tinggi, patuh dan gampang diperintah, dibandingkan dengan siswa akademik biasa yang susah diperintah. E adalah siswa yang berbeda dengan siswa lainnya dibidang akademik sekolah, dia tidak seperti siswa pada umumnya sehingga guru menganggapnya nakal. Sementara niat dan kedalaman berpikirnya jauh berbeda dengan anak pada umumnya. Nilai akademik dan kenakalannya dijadikan sebagai sasaran untuk membunuh karakter di depan teman-temannya dan dijadikan tolak ukur penilaian akademik. Bukan terbilang rendah, namun dia hanya memiliki sedikit kenalakan remaja yang tidak biasa. Mempertanyakan hal-hal yang luar biasa.

Saya mengutip dari cerita E. Dia pernah bertanya kepada guru “apakah Tuhan itu ada?” secara spontan guru mengatakan bahwa E telah gila dan berdosa. Begitupun teman-temannya yang lain menanggapi, sama seperti gurunya. Ketika sang guru tidak mampu menjawab pertanyaan dari siswa, maka guru akan menyalahkan siswa dengan dalih-dalih untuk mengamankan diri dari pertanyaan-pertanyaan mematikan. Apakah ada yang salah dari siswa ketika bertanya? ataukah memang manusia hari ini di didik menjadi budak yang harus menerima sesuatu hal yang tidak dipercayainya tanpa harus di buktikan?

Indonesia susah bangkit. Apa hubungannya Indonesia susah bangkit dengan kasus E?

Indonesia dengan sistem pendidikan yang minim diskusi akan membendung dan memenjarakan pikiran siswa seperti E dalam menjalani kehidupan. Alhasil siswa-siswa lain yang mengalami nasib seperti E akan menjadi sapi perahan yang selalu membayar biaya pendidikan tanpa mengerti apa itu pendidikan, dan tidak suka dengan pendidikan. Seraya menjelajahi alam berpikir athena pada zaman klasik, sistem pengajaran dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini mirip dengan Zaman Sofis. Sistem pendidikan Indonesia dengan orientasi pembayaran yang mahal mengembalikan sekilas cara pandang kita terhadap kaum sofis. Kaum yang berpengaruh besar terhadap peradaban filsafat secara pandangan positifnya, akan tetapi Kaum sofis tidak mengajar/mendidik untuk membebaskan manusia, melainkan untuk menerima upah pembayaran atas pengajarannya. Pengajaran kaum sofis sendiri menjadikan manusia sebagai objek penelitiannya. Hampir sama dengan yang dialami sistem pendidikan Indonesia hari ini.

Sistem pendidikan Indonesia yang hari ini menghabiskan  49.232,8 milliar namun tidak sepenuhnya tepat sasaran dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Secara Infrastruktur gedung dan bangunan bisa dikatakan 80 % sudah terpenuhi, tetapi apakah pendidikan itu sendiri sudah mengajarkan siswa untuk mengenali potensi diri dan membebaskan manusia dari kebodohan kolektif? Ternyata tidak. Tidak hanya E, banyak siswa E yang lain yang merasakan hal serupa. Mengalami diskriminasi karena kegagalan akademik, mengalami kegagalan karena kenakalan remaja.

Kebodohan akademik bukan secara tiba-tiba timbul dari otak manusia, tetapi bisa karena tekanan lingkungan yang tidak bisa menerima kekurangan seorang manusia. Begitu pula cara pandang kenakalan siswa, kenakalan siswa bukan muncul dari diri sendiri tetapi ada beberapa faktor penyebab. Penyebab tersebut tidak bisa dilepaskan dari bagaimana pendekatan orang tua terhadap anak, pendekatan tenaga pendidik terhadap anak, dan pengawasan orang tua terhadap anak.

Mengutip pernyataan menteri pendidikan Nadiem Makarim, “Guru seharusnya membuka ruang dialog dan diskusi di kelas, membuka kreatifitas menjadi harapan baru dunia pendidikan Indonesia yang lebih maju. Guru seharusnya menjadi orang tua kedua siswa dalam menghadapi perjalanan hidup, menyelesaikan masalah dalam keluarga inti dan menjadi teman berdiskusi siswa”.

Jadikanlah Siswa sebagai manusia, bukan sebagai domba

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun