Opini

Catatan Perjuangan 2 Mei 2021 “HARI PENDIDIKAN NASIONAL”

Pendidikan Kaum Tertindas

Ketika tidak ada lagi keadilan di bumi Pertiwi ini, maka turun jalan menjadi salah satu jawabannya. Hal ini dilihat dari semangat pemuda hari ini yang masih menunjukkan eksistensinya. Sebagaimana Bung Karno pernah menyebut bahwa “Pemuda adalah tiang negara, manakala pemuda itu rapuh maka hancur pula negara itu, tetapi manakala pemuda itu kuat, maka baik pula negara itu”. Semangat perjungan para pemuda tercermin dari beberapa organisasi kepemudaan yang terus bertanggung jawab untuk menyampaikan aspirasi masyarakat.

Tepat di momentum Hardiknas ini, Biru Benhur (Sapaan akrab IPPEMSI) berkibar melawan arah mata angin kota Makassar. Sejenak, dalam menulis paragraf ini, saya tiba-tiba tersentak beberapa menit, kembali mengingat dan tersenyum haru, ahh campur aduklah pokoknya. Semua perasaan itu muncul karena berkibarnya bendera organisasi berskala kecamatan yakni kecamatan Simbuang dan Mappak bersama organisasi nasional, kota dan kabupaten. Tentunya, di IPPEMSI terdapat semangat pemuda yang membara dan dipupuk idealisme serta penanaman nilai-nilai perjuangan kader, sehingga sampai hari ini menghasilkan kader yang tak gentar melihat situasi dan kondisi yang terjadi. Hal ini juga tak lepas dari salah satu dari tiga fungsi organisasi yakni kontrol sosial. Sehingga suatu keanehan besar yang dirasakan setiap kadernya jika diam dan tunduk melihat segala bentuk ketidakadilan. Mungkin bagi pembaca kedengarannya sedikit berlebihan, tetapi ini adalah kejujuran dan fakta.

Baca juga : Pandemi Menguji Pendidikan Yang Lagi Uji Coba Teknologi

Dalam momentum ini, kita diingatkan bahwa komersialisasi pendidikan bangsa saat ini, sangat carut marut. Mengapa? Karena masih banyak masyarakat di luar sana yang tidak mengenyam pendidikan. Tentunya hal ini disebabkan oleh biaya yang mahal, infrastruktur yang tidak memadai, tenaga didik yang minim dan merajalelanya kaum-kaum kapitalis. Itulah alasan saya berani mengambil kesimpulan bahwa kualitas dan kuantitas pendidikan hari ini sangat krisis dan darurat.

Dalam hal ini, rasa kemanusiaan juga perlu ditanamkan kepada semua orang untuk melihat komersialisasi pendidikan yang ada, meski selama ini masalah humanisasi (pertumbuhan rasa kemanusiaan) selalu dilihat sebagai masalah pokok dari sudut pandang aksiologi. Terkait masalah ini, pernah dituliskan oleh salah satu senior saya di IPPEMSI dengan judul Pendidikan, Masalah Atau Solusi – Anwar Tandi

Bagi saya, momentum Hardiknas bukan hanya sekedar merefleksikan kondisi pendidikan saat ini, tetapi juga untuk merefleksikan diri kita, apakah fungsi dan tujuan kita sebagai pemuda sudah seperti yang dicita-citakan para leluhur kita terdahulu?

Eko Prasetyo dalam buku “Bergeraklah mahasiswa” menekankan persoalan ini bahwa “makin banyak kamu terlibat dalam soal-soal kemanusiaan, maka kamu akan terlatih untuk berfikir dan merasa. Secara mudah dalam istilah yang berbau bourjuis ‘desainer terbaik adalah yang telah memikirkan mengenai pengalaman mereka lebih daripada orang-orang lain’.

Baca juga : Kondisi Pendidikan Di Dusun Kasambi

Mari sibukkan diri untuk larut dalam persoalan lebih besar ketimbang urusan kuliah, ujian dan pacaran!. Saya meyakini, ketika masih ada geliat anak muda yang saat ini berani, kreatif dan imaginatif, maka segala bentuk penindasan baik itu pendidikan, ekonomi dan penindasan dalam wujud lain akan hancur secara perlahan.

Mengutip ucapan salah satu kawan saat menyampaikan orasi ilmiahnya setelah aksi di kantor gubernur Sul-Sel “Sekali lagi saya tekankan, ketika masih ada penindasan bangsa atas bangsa, manusia atas manusia maka pemuda akan terus mengawal sampai titik darah penghabisan”. Mari menjadi pemuda yang terus mengawal bangsa ini.

Penulis : Daniel Grand saputra

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun