• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Catatan Perjuangan Untuk Cita-Cita

Catatan Perjuangan Untuk Cita-Cita

Malam ini hujan turun lagi, bersama kenangan yang indah luka di hati. Luka yang harusnya dapat terobati, yang ku harap tiada pernah terjadi, ku ingat saat ayah pergi dan kami mulai kelaparan hal yang biasa buat aku hidup dijalanan.

Lantunan lagupun sering saya nyayikan, ketika rindu kepadanya kembali merasuk jiwa. Karena hanya dengan itulah kubahasakan cinta untuk sosok yang tak pernah ku pandang secara langsung dan tak dapat kubayangkan paras wajahnya.

Kisah hidupku selama ini banyak mengalami problema, sama seperti yang saya tuangkan dalam kisah ini.

Aku bernama Jos alex, disapa Jos. Saya berasal dari keluarga petani yang hidup di desa, jauh dari pelataran kota. Sekarang saya sedang menjalani tanggung-jawab sebagai terpelajar di salah satu ibu kota terbesar, yang ada di Indonesia. Tepatnya di Surabaya, Jawa Timur. Saya tidak pernah menyangkah akan dicatatkan nama Jos sebagai salah satu terpelajar di Kota ini.

Aku adalah anak ke-3 dari seorang ibu yang menjalani hari-hari dengan kesendirian. Semuanya terjadi ketika ayah pergi menghadap sang jarak yang tidak tahu rimbanya, dia pergi selamanya meninggalkan saya dan mama. Dikala itu saya masih seumur jagung, 9 bulan tepatnya. Mama tinggal seorang diri dan menanggung anak kecil yang tak berdaya dengan takdir, Aku. Saya tidak mampu membayangkan kisah hidup perempuan kuat itu, namun di sisi yang lain saya hanya bisa dan harus bers’yukur kepada yang Kuasa atas semua kisah hidup yang mampu mama lalui.

 Saat ini, mama sudah memperoleh kebahagiaan yang baru. Menikahi laki-laki yang bisa dikatakan dekat dengan kehidupannya. Bernasib sama dengannya, dialah tetangga yang juga adalah seorang lelaki yang ditinggalkan bersama pilu. Pilihan mama adalah pilihan kebahagiaan juga bagiku. Semua itu selalu menjadi syukur dan semangat kebangkitanku dari keroyokan pedih, berjuang,  dan merasa bahwa keluarga saya memiliki kisah yang keras dan penuh lika liku hidup.

Setelah saya berumur, saya memilih untuk melanjutkan pendidikan. Tidak seperti membalikkan tangan. Saya berlari lari mengejar cita cita. Mulanya saya lulus dari SMA di Tahun 2018. Perasaan manusia pada umumnya saat menuntaskan masa siswanya, pasti bahagia. sayapun merasa sangat bahagia. Saya yang masih belum genap seperempat abad sudah cukup merasa dewasa, merasa sudah siap melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Saya sadar bahwa “tidak mungkin akan mencari kampus yang jauh, kerena saya hanya hidup bersama seorang duda yang menikahi mama saya. Itu yang membuat pikiran menimbang nimbang kesakitan, kepikiran lagi dengan finansial keluarga yang hanya sekedar cukup. Untuk mengucapkan permintaan saja sudah dihantui rasa tidak tega. Apalagi untuk melanjutkan pendidikan. Dan ayah saya, yang sejatinya kandung dan sedarah tak kunjung memberi kabar. 

            Disuatu sore, saat senja sedang ingin berpulang, Mama sedang melakukan keahliannya di dapur menyiapkan santapan untuk makan malam. Sayapun duduk santai menikmati kopi dan senja dibumbui dengan makanan khas yang biasa disebut gorengan penyet. Dihidangkan oleh mama di atas meja makan dengan penuh kebahagiaan. Saya kemudian dengan kejailan bertanya padanya dengan hati yang ragu-ragu. Saya ragu mama akan menjawab  

“kamu taukan kalau kita hanya hidup di nafkahi ayah tiri kamu”. Kemudian keraguan itu saya keroyok dengan keberanian dan bertanya

“ma.. saya sudah lulus SMA, saya punya rencana mau melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Apakah mama setuju?” tanyaku dengan percaya diri.

Sambil meliuk liukkan jemarinya memotong sayur, mama bertanya balik

“Kamu rencana lanjut dimana?”

“saya berencana mau melanjutkan pendidikan di Surabaya mengambil jurusan Teknik” Jawabku dengan jantung yang berdegup menarik nafas.

Dan kali ini jawaban mama membuat saya sangat terkejut dan kepikiran. Apa yang telah saya duga di lontarkannya. Sambil menundukkan kepala dan fokus pada sayuran yang dipotongnya, menjawab

“Mama tahu nak mimpi kamu sangat besar, tapi kamu juga tahu kalau kita hanya hidup dengan cukup saja, itupun dinafkahi ayah tiri kamu”

Sontak seperti anak kecil yang mainannya dirampas, saya berlari kedalam kamar dengan perasaan sesak menangis tak bersuara. Kala itu kekuatanku sebagai anak lelaki, remuk. Aku menangis.  

Hari-hariku pun  berlalu namun suasana hari kemarin belum berganti. Masih menjadi bayang-bayang, seperti hantu yang hendak mencengkram. Dua minggu setelah percakapan itu saya mencoba bebicara lagi dengan mama dan menyampaikan keinginanku. Untuk berbicara dengan ayah, saya tidak kepikiran sama sekali, kalau mungkinpun suasananya akan sangat berbeda ketika berbicara dengan yang kandung dari pada yang lain.

Dalam kesempatan itu saya melakukan percapakan sebagai orang dewasa yang menginginkan masa depan. Saya mengacarai

“ma.. saya tahu apa yang ada dalam pikiran mama, mama takutkan kalau suatu saat saya tidak bisa lagi melanjutkan kuliah karena tidak ada biaya?”

Kemudian perempuan tulus itu menyahuti dengan lembut dan penuh kasih sayang. “iya sayang kamu tahu sendirikan kalau kita hanya petani, dan seorang ayah  yang satu atap dengan kita bukan Ayah kandungmu?.”   

Saya terdiam, terdengar detik jam sangat dekat dengan telinga dan berfikir  tetapi kosong dan tak berdaya.

Saya tahu bahwa mama memiliki hati kecil yang tidak ingin melihat saya, anaknya ini larut dalam kesedihan. Kemudian terdengar ucapan sayup sayup dari bibir mama dengan pelan dan penuh perasaan mengucapkan kata-kata yang membuat aku menjadi raja yang tiada tandingannya.

“Baiklah nak, kalau memang kamu mau serius, mama setuju kamu melanjutkan pendidikan di luar kota,” bisikannya dengan suara halus dan lembut seperti tutur katanya yang selama ini aku kenal.  

Saya menjadi raja dan tidak ada yang bisa membendung kebahagiaanku. yeahhh…  ucapku sambil melompat dan mencium pipi keriput mama “makasih ma, aku sayang mama”

Setelah beberapa minggu sejak pembicaraan itu, saya sudah menyiapkan semua kelengkapan untuk melangkahkan kaki dan menantang zaman, berangkat menuju  Kota Surabaya. Hingga saat saya membuat coretan ini saya masih berada di Surabaya dan menjalani pendidikan di semester 3.

Banyak hal yang membuat saya selalu ingin jatuh, menyerah. Tantangan demi tantangan yang perlu dihadapi demi sesuatu yang bernilai. Sama seperti emas yang mengalami proses yang begitu banyak benturan sehingga bisa terbentuk dan memiliki nilai. Manusiapun demikian, butuh tantangan dan masalah agar mampu memahami kehidupan yang sesungguhnya.

“Jangan pernah merasa sedih ketika kamu berasal dari keluarga yang kacau, tetapi ber’Syukurlah dengan semua itu. Karena hati yang kuat untuk menjalani hidup tanpa kasih sayang ayah, tetaplah merupakan hidup yang bernilai dengan kehadiran mama”.  

A good family is a family that can be grateful whatever happens in his life

(/Her)

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun