• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Cekdam dan Kematian

Cekdam dan Kematian

Oleh : Honing Alvianto Bana

Makanan di piring itu belum juga habis. Ketika saya mendengar suara yang samar-samar dari kejauhan.

“Awuaa..wuaaa. Awuaa..wuaaa.”

Saya berhenti mengunyah nasi, mengarahkan telinga ke arah jendela, dan …suara itu tak terdengar lagi. Kecuali suara dua ekor babi dibalik dapur yang entah kenapa tak pernah kenyang.

Saya kembali mengunyah nasi, mengambil sepotong ikan, menggigitnya, lalu melemparkan tulangnya kebawah. 2 ekor anjing saling gigit, berebut tulang di bawah meja.

“Usir itu anjing,” teriak ibu dari uembubu [1].

“Huuuss..Asu la’i (anjing ini)”. Saya berdiri sambil menendang anjing-anjing itu. Ketika saya hendak kembali duduk, suara itu kembali terdengar.

“Awuaa..wuaa. Awuaa..wuaa.”

Kali ini suara itu terdengar jelas. Saya mengenal suara itu. Itu suara Tinus. Ia memberi isyarat agar saya segera menemuinya di ujung setapak.

Saya lalu berdiri sambil melangkah ke dinding yang membatasi ruang makan dan dapur. Saya membungkuk, menutup salah satu mata, dan melihat kearah dapur melewati sebuah lubang sebesar ibu jari.

Dari celah dinding, saya melihat ibu sedang sibuk meniup api. Mata-nya sedikit tertutup. Kepulan asap membuatnya keolahan. Potongan-potongan kayu itu seakan sedang mempermainkannya. Beberapa kali asap mengepul, tapi kayu-kayu itu tak hendak menyala. Setiap ia menarik napas dan menghembuskannya ketengah tungku, selalu terdengar suara batuk beberapa kali. Disebelah ibu,terlihat seekor ayam sedang menatap ibu dengan rasa iba.

Saya memang perlu memastikan bahwa ibu tidak sedang mengawasi ketika saya hendak keluar dari rumah.

Saya lalu berbalik ke arah meja makan, mengangkat tudung saji, memasukan sisa makan lalu menutupnya. Kemudian saya berjalan kearah pintu depan, memegang gagang pintu, menariknya, dan…

“Enos?” terdengar ibu memanggil dari dapur. Saya tak menjawab. Hanya diam. Saya bimbang antara harus menjawab ataukah berpura-pura tuli. Seketika terlintas pesan guru sekolah minggu saya:”Kalau ingin masuk surga, kalian harus mengikuti setiap perintah orang tua. Tidak boleh melawan. Tuhan tak suka anak yang nakal!”

Guru sekolah minggu saya bernama Ibu Meri. Rambutnya lurus seperti penggaris. Ia sangat baik. Ia menganggap kami seperti anaknya sendiri.

Ibu Meri telah menikah 4 tahun lalu, tapi belum juga memiliki anak. Entah apa penyebabnya, tapi kata orang-orang disini, suaminya mandul. Suaminya bernama Om Domi Nabliu, seorang guru olah raga lulusan Unkris Kupang.

Mereka telah mengikuti banyak saran perihal itu, mulai dari pergi ke dokter spesialis kandungan, melakukan naketi[3], pergi ke tim doa, hingga pergi ke seorang dukun dikaki Gunung Mutis. Tapi selalu tak membuahkan hasil. Ibu Meri tak pernah hamil. Mereka seakan dikutuk untuk saling mencintai dan hidup bersama tanpa memiliki keturunan.

“Enos?” ibu memanggil sekali lagi.

“Iya?” Saya menjawab sambil menutup kembali pintu dengan perlahan.

“Bawa minyak tanah kesini dulu.” Ibu berkata dengan setengah berteriak. Sepertinya ibu telah putus asa berurusan dengan masalah api.

“Dimana?” saya bertanya.

“Disekitar kolong meja.” ibu menjawab.

“Tidak ada”, saya kembali menjawab.

“Lihat dulu sebelum bertanya”, suara ibu semakin meninggi.

Saya menggaruk kepala, menggeser sebuah kursi plastik lalu menunduk disekitar kaki meja. Ada empat buah botol disini, tapi hanya satu yang terisi. Yang lain kosong, seperti hatinya Pe’u- pemuda yang setiap hari berdiri diujung gang, tapi belum pernah memiliki kekasih.

Saat saya hendak memegang botol itu, sepasang kecoa berlari diantara kaki saya. “Wuhuhu”, saya terkejut sambil setengah melompat. Di ujung salah satu kaki meja, terlihat sebilah parang terlentang seperti minta diperkosa.

Saya kemudian mengambil botol berisi minyak tanah, berjalan kearah dapur, menyodorkannya kepada ibu dan ikut duduk disitu. Saya membantu ibu menaruh bebera belahan kayu ditungku dan sesekali melihat ke tanah. Disebelah kanan tungku, terlihat semut-semut merah berpapasan, lalu kembali berjalan, berpapasan lagi, begitu seterusnya.

Tiba -tiba terdengar bunyi klakson sepeda motor di depan rumah, ayah baru saja pulang dari kantor. Saat bunyi sepeda motor ayah berhenti, dua ekor babi terus berteriak dibalik dapur. Keras sekali. Entah karena lapar ataukah kerasukan.

“Cepat kasih makan itu babi. Ayah akan marah kalau mendengar mereka berteriak seperti itu “, ibu berbicara sambil menuangkan minyak tanah ke beberapa potong kayu.

Saya benci sekali babi-babi itu, ayah pernah memukul saya hanya karena lupa memberi makan. Saya menangis tersedu-sedu dibalik dapur. Ayah sepertinya lebih mencintai babi dari pada anaknya sendiri.

Saya kemudian berjalan kearah babi-babi itu, mengambil setumpuk daun lamtoro dan menaruhnya didalam palungan. Tapi mereka tak juga ingin makan. Mereka terus berteriak. Seakan tak sudi makan dari hasil pemberian musuh. Saya tak peduli. Saya lalu menyelinap diantar beberapa rumpun pisang kemudian diam-diam berlari ke arah setapak, tempat Tinus menunggu.

“Awuaa..”, Tinus berhenti berteriak ketika melihat saya muncul dari ujung jalan. Ia berdiri didekat bahan [2] sambil memegang sebuah ember berwarna hitam. Disampingnya terlihat sebuah pancing bersandar dengan gagah pada sebatang pohon gamal.

*

Ketika bayangan meninggi di tanah, saya dan Tinus baru saja pulang sekolah. Kami berjalan sambil menendang-nendang kerikil. Tinus bercerita tentang ikan yang ia dapat saat saban minggu memancing di Cekdam [3].

“Ikan gabus disana besar-besar, Enos. Kemarin saya dapat 5 ekor. Besarnya seperti ini,” Tinus menunjuk betisnya yang penuh bekas luka sebagai ukuran. Saya mendengar cerita Tinus dengan seksama. Mata saya nyaris tak berkedip.

Sebetulnya, sudah lama saya ingin sekali memancing ikan Cekdam. Tapi tak bisa. Ayah dan ibu selalu melarang saya.

“Jangan pernah pergi ke Cekdam itu, Enos!” kata ayah disuatu sore. “ Kau hanya akan di tangkap makluk-makluk halus penunggu tempat itu,” ayah berbicara sambil memasukan sebuah pinang ke mulut-nya. “6 tahun lalu,” lanjut ayah sambil menaruh kapur di telapak tangangan-nya. “Dua orang kakak beradik pernah tenggelam di Cekdam itu,” Ayah berhenti sejenak, meludah ke tanah, lalu kembali melanjutkan. “Sehari kemudian, tubuh mereka ditemukan terapung seperti batang pisang. Mereka bukan tenggelam. Mereka sebetulnya ditarik oleh makluk halus penunggu Cekdam.”

Sejak mendengar cerita ayah, keinginan untuk pergi ke Cekdam itu saya pendam dalam-dalam. Tak ada yang tahu. Kecuali Yefta Amonot, teman sebangku saya di sekolah.

“Sebentar saya mau ke Cekdam lagi. Kalau kau mau, kau boleh ikut,” Tinus berbicara sambil mengusap matanya.

“Tempatnya jauh?”, Saya bertanya.

“Tidak! Dekat saja!” Tinus menjawab sambil mengikat tali sepatunya yang terlepas.

“Kalau begitu saya ingin ikut! tapi sebelum matahari tenggelam, kita sudah harus kembali ke rumah.” Tinus mengangguk tanda setuju. “Saya takut jika ayah dan ibu tahu. Mereka pasti akan memukul saya,” lanjut saya.

“Tapi caranya bagaimana, biar saat dari rumah, ibu tidak curiga kalau kita hendak ke Cekdam?” saya kembali bertanya. Kami kemudian merencanakan cara untuk bisa mengelabui ibu saya.

“Begini saja. Setelah makan siang, saya akan memanggil kau dari ujung setapak,” Tinus berkata sambil menarik ingus kental yang hampir menyentuh mulutnya.

“Tapi kalau kau langsung memanggil nama saya, ibu pasti akan curiga,” sambung saya.

“Kalau begitu, saya akan berteriak seperti ini: awuaa wua..awuaa wua,” Tinus mencontohkan dengan kedua tangan membentuk corong di depan mulut-nya. Saya setuju. Kami berjalan lebih cepat.

“Tinuuuus”, Melky Aus’ana meneriaki Tinus dari atas motor sambil berlalu dengan ojek langganan orang tua-nya.

*

Tampak awan bergerak pelan seperti kapas. Seekor elang berputar-putar dan sesekali melengking. Kami berjalan melewati jalan setapak, kemudian memasuki hutan dan beberapa kebun milik warga, sebelum akhirnya tiba dipinggir Cekdam.

Dari kejauhan, tampak beberapa orang sedang memancing di seberang Cekdam. Tinus lalu mengeluarkan setumpuk cacing dari ember. Ia kemudian menaruh seekor cacing sebesar lidi diatas telapak tangannya. Cacing itu menggeliat seperti ular. Tinus bangkit mengambil sehelai daun keladi, menaruh segenggam tanah, dan memindahkan cacing-cacing itu ke dalamnya.

“Pegang ini.” Tinus menyeka keringat dengan lengan kirinya. Ia mengambil seekor cacing dan memotong tubuhnya dengan kukunya yang hitam. Ia lalu meludah beberapa kali pada mata kail.

“Enos, kita pindak kesebelah sana saja,” kata Tinus sambil menunjuk kearah tembok setinggi setengah meter.

Dekat pinggir Cekdam ada sebuah tembok bekas penghalang air yang sebagiannya telah jebol. Tinus menyuruh saya memegang kail. Ia lalu memanjat tembok itu. Saya menyusul di belakangnya. Kami duduk berdampingan. Angin berhembus menerpa rambut dan wajah kami. Air di sini tampak tenang. Tinus bersiul dan melempar kailnya. Jauh di seberang Cekdam tampak beberapa ekor sapi sedang minum.

Di sebelah kami ada dua orang sedang memancing. Sepertinya mereka juga baru saja memancing. Ember mereka terlihat belum terisi ikan. Kami menunggu kail bergerak dengan lamunan masing-masing. Entah tentang apa. Hanya diri sendiri yang tahu.

“Dua orang itu pernah mati disini.” Sekilas dalam pikiran saya berkelibat cerita ayah tentang dua orang yang pernah mati ditarik setan. Tapi saya tidak merasakan apa-apa. Tidak ada yang menarik saya dan Tinus. Tidak ada setan disini. Ayah sengaja menakuti agar saya tidak datang ke Cekdam.

“Enos, kau pernah memancing sebelum ini?”

Belum sempat saya menjawab, kail Tinus ditarik oleh sesuatu. Benang kail semakin dekat. Jantung saya berdegub tak beraturan. Tinus mencoba menariknya tetapi gagal. Napas saya tertahan di tenggorokan sampai kemudian seekor ikan gabus sebesar betis orang dewasa menggantung di udara.

“Awih! besar sekali.”

Saya melepasnya dari mata kail. Satu per satu ikan-ikan terperangkap. Saya memasukkannya ke dalam ember berwarna hitam. Tinus kembali membuang mata kailnya ke dalam air dan kami kembali duduk. Tali-temali terdiam diatas permukaan air. Bila ada riak berarti itu awal kegembiraan.

Sebelum matahari terbenam,ikan-ikan sudah memenuhi Ember. Mereka terkelepar-kelepar. Saya senang sekali. Sudah lama saya tidak melihat ikan-ikan sebesar ini.

*

Malam jatuh dengan ubun-ubun terluka. Gelap telah menombaki senja yang terkenal manis itu. Saya berjalan mengikuti Tinus dari belakang. Saya dan Tinus pulang dengan perasaan bangga. Seperti pahlawan yang baru saja pulang dengan kemenangan di medan tempur. Awalnya saya senang sekali, tapi kemudian rasa itu berubah menjadi rasa takut. Saya mulai memikirkan tentang ayah dan ibu yang pasti sedang cemas. Mereka mungkin sedang mencari saya kemana-mana.

Ketika mendekati rumah, ketakutan itu semakin menjadi-jadi. Saya dan Tinus kemudian berpisah diujung setapak.

Dari ujung jalan, terlihat ibu sedang berdiri sambil melihat kearah setapak. Ia sepertinya sedang gelisah. Saya pasrah. Saya memasuki halaman rumah seperti tak terjadi apa-apa. Ibu hanya melihat saya dengan wajah cemberut, sedangkan ayah hanya duduk di muka pintu. Ayah hanya diam, namun saya paham bahwa itu adalah marahnya yang paling dalam. Saya menuju kamar mandi, membersihkan badan lalu berjalan menuju kamar. Saat memasuki rumah, tak ada suara apa-apa. Saya heran , ayah dan ibu belum juga mengeluarkan sepatah kata pun. Kami seakan sedang berdebat dalam diam dan bertengkar dalam sunyi.

Beberapa saat kemudian terdengar suara ayah bertanya dengan nada yang meninggi.

“Kau dari mana sampai pulang malam-malam?”

Belum sempat saya jawab, sebuah tangan mendarat tepat di pelipis saya. Ayah telah menumpahkan amarah yang ia simpan entah sejak kapan. Ia meninju seperti sedang memukul orang dewasa. Darah keluar dari lubang-lubang disekitar kepala. Saya mulai merasa kunang-kunang mulai menyerang. Bumi seakan berputar seperti gasing. Mata saya masih terbuka, melihat darah saya sendiri. Kental merah kehitaman.

“Nobah nai (Sudah lagi)”, ibu berteriak menggunakan bahasa dawan.

Selanjutnya saya tak ingat apa-apa.

*

Keesokan harinya, saya tersadar di rumah sakit, tapi hanya sebentar. Mata dan mulut tak bisa di buka. Saya merasa ayah memegang pundak saya. Sepertinya ia menyesal atas apa yang ia lakukan.

Saya kemudian mendengar suara tangisan ibu. Ia menangis sambil bertanya-tanya tentang masa depan saya menggunakan bahasa dawan. Tiba-tiba tubuh saya dingin dan terasa beku. Itu terakhir kali saya mendengar suara ibu untuk selama-lamanya.

Keterangan:

[1] Uembubu:Rumah tradisional orang Timor.

[2] Naketi: Proses pengakuan kesalahan dalam tradisi orang Timor.

[3] Bahan:Pagar dari kayu.

[4] Cekdam: Tanggul sejajar dengan arus air untuk mencegah pelebaran sungai, tanggul pengaman.

[5] Bahasa Dawan: Bahasa lokal orang Timor.

Surabaya, April 2020

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun