• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Karya
Coretan  Anak Rantau Dari Pusaran Pendemi

Coretan Anak Rantau Dari Pusaran Pendemi

Oleh : ezytis

Ijinkan aku beradu kata
Meskipun setiap baitnya tidak enak dibaca,
Tapi mengertilah,
Sepata kata akan membuat aku rela.

Aku mulai..

Sepintar-pintarnya melakukan penghematan,
Tapi masa tak akan pernah belok haluan
Ada masa dimana harus bertahan
Bertahan nyawa tanpa selembar rupiah

Oh perantauan,
Seganas inikah engkau pada buah kandungmu sendiri ?

Ketika sakit datang bertamu,
Begitu jarang ku berterus terang
Kepada yang menunggu aku pulang
Ayah-ibu kami tersayang.

Kami tak ingin orang tua gelisah,
Oleh situasi dan rasa dahaga
Hingga tak mampu memaksa
Walau terbalik yang jiwa rasa

Jika ditanya tentang kabar,
Kadang jawab harus mengada-ada
Setia kulantunkan baik-baik saja
Walau juga terbalik yang jiwa rasa

Haruskah ku akui punya mental yang jauh lebih
Dibanding mereka yang masih setia 
Tinggal satu atap dengan orang tua ?
 
Setiap masalah yang mendatangi,
Ku lawan dengan keteguhan yang hebat.
Jika rindu mengetuk hati,
Kadang hanya tangis menunggu mentari kembali terbit.

Dengan kondisi seperti ini,
Dalam resah merah-putihku digoya pandemi
Ingin rasanya ku habiskan tenagaku untuk berteriak
Kepada wahai penguasa negeri ini.
 
Arahkanlah matamu
Kepada kami  yang di rantau
Yang kini mesrah rasa lapar,
Dan sistem ajar yang menyiksa
 
Sungguh terlalu,
Keadilan rapuh di atas pandemi ini
Kami yang terpaksa mengikuti
Belajar dari kediaman sendiri, tak dapat sentuhan hati
 
Dulu..
Kala kami hadir dalam palung kesederhanaan
Dengan tangis imut seimut bayi mungil nan gagah
Hingga membuat hati tetangga tertawan
 
Jam dinding tua terus berdetak
Memacu langkah ke rumah bahagia
 
Sepertiga perjalanan pada simpang tiga
Jalan sepertinya menjeda, menguras otak memaksa pikir.
Jalan mana yang harus kami pilih?.
 
Jam dinding tua terus mendetak,
Mendekatkan waktu pada penghabisan akal
Sambil menyeka lahar keringat
 
Tangan terayun, kaki melangkah pada pilihan jalan yang lurus,
Terhitung mulai kini
Saat kaki berdiri sendiri asam asin di rasa dini,
Hingga sukses makin kesini.
 
Itulah cerita perjalanan hidup
Dan asal yang dirindu
 
Namun kondisi wabah kini,
Menjeda dan memaksaku mengikuti
Segala aba-aba yang kuasa
“di rumah aja” katanya
 
Kami tetap tersenyum dalam kepahitan
Adalah cara tepat yang kami harus lakukan  
Lucu bukan??
 
Dunia kini menuntut berdamai dengan keadaan,
Namun keadaan itu membunuh dengan perlahan.
Meski otaku dibanting, hatimu ditikam, tapi harus tetap bahagia

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun