• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Covid-19 dan Tradisi Cium Hidung Orang Sumba

Covid-19 dan Tradisi Cium Hidung Orang Sumba

Oleh : Ariyanto Kristian Tena (Kabid Or GMKI Tambolaka)

Meningkatnya Covid 19 yang melanda dunia termasuk Indonesia saat ini, membuat tradisi sebagian daerah seakan lenyap dari bumi Ibu Pertiwi. Sehingga tradisi itu tidak lagi dilakukan dan menjadi hal yang dirindukan. Seperti berjabat tangan yang telah menjadi tradisi turun temurun, hingga cium hidung ala Nusa Tenggara Timur.  

Melihat persoalan pademi covid 19 yang telah memorak-porandakan nyawa manusia bersama kenikmatan duniawinya, menjadi sumber ketakutan manusia untuk melangkah dan berbuat banyak hal. Dipertegas oleh pemerintah hingga terpaku pada beberapa aturan yang telah ditetapkan, seperti diambilnya kebijakan Pemerintah Indonesia, baik pusat maupun daerah untuk meliburkan roda pemerintahan, instansi pendidikan, rumah ibadah dan bahkan di tutupnya beberapa bandara dan pelabuhan serta dibatasinya melakukan perayaan adat istiadat. Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah  Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), baik dari provinsi hingga kabupaten dan desa demi memutus rantai Penyebaran virus Corona yang mematikan itu.  

Lalu bagaimana dengan Pulau Sumba yang merupakan bagian dari provinsi Nusa Tenggara Timur? Mungkinkah tradisinya ikut kena dampak?

Sumba adalah salah satu pulau yang terletak di bagian selatan Indonesia yang sangat terkenal akan keindahan alam, adat istiadat serta budayanya. Keindahan alam dan tradisi yang masih sangat kental menjadikan pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini memiliki keunikan tersendiri. Salah satu tradisi yang saya sajikan dalam artikel ini adalah antara Covid 19 dan tradisi cium hidung orang Sumba.

Tradisi cium hidung adalah salah satu tradisi unik yang bisa ditemukan di Pulau Sumba. Tradisi ini merupakan tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun oleh leluhur orang Sumba.

Tradisi cium hidung bagi Orang Sumba merupakan simbol kekeluargaan dan persahabatan yang sangat dekat. Selain itu, jika ada pihak yang berseteru dan ingin berdamai, maka akan dilakukan cium hidung yang merupakan simbol perdamaian. Konon, dengan mencium hidung sebagai cara untuk pengakuan bersalah, sehingga semua masalah akan dianggap selesai.

Tradisi cium hidung dilakukan dengan cara menempelkan dua hidung yang mengisyaratkan bahwa dua individu seakan sangat dekat dan tidak ada jarak.

Walaupun tradisi cium hidung ini sudah menjadi tradisi dan kebiasaan bagi Orang Sumba, namun tradisi ini tidak dapat dilakukan disembarang tempat dan waktu. Tradisi ini dapat dilakukan hanya dalam acara-acara tertentu, seperti saat proses pelaksanaan tradisi perkawinan, pesta pernikahan, ulang tahun, hari raya besar keagamaan, pesta adat, kedukaan dan acara perdamaian. Di samping itu juga saat penerimaan tamu-tamu yang dianggap terhormat atau agung yang berasal dari wilayah Sumba sendiri. Lantas, bagaimana dengan tamu-tamu yang berasal dari luar Pulau Sumba? Tentunya boleh dilakukan tradisi ini, asalkan diberitahukan terlebih dahulu agar semua baik-baik saja.

Namun setelah covid-19 resmi dinyatakan menjangkit Indonesia, Pulau Sumba yang dikenal dengan  budaya atau kebiasaan cium hidung yang sangat unik ini, terlihat tidak lagi di lakukan guna mencegah penularan Corona Virus (Covid 19) yang walaupun Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini masih dalam tanda hijau (belum ada yang terdeteksi positif Covid 19).

Keputusan tidak melakukan tradisi cium hidung untuk sementara waktu, merupakan salah satu obat yang manjur untuk mencegah penularan virus. Namun, terlihat sebagian Orang Sumba masih saja melakukannya. Kesadaran masyarakat Sumba akan Covid19 sangat minim, sehingga masih banyak masyarakat Sumba yang melakukan tradisi cium hidung ketika bertemu dengan orang lain dan keluarga. Di sisi lain, masyarakat tidak buta informasi mengenai mematikannya virus corona ini, sehingga disayangkan ketika tidak mampu memberhentikan sementara tradisi ini.

Kesadaran mampu membuat masalah ini menjadi steril, hingga kesadaran pemerintah mengantisipasi dengan cara mengeluarkan himbauan memberhentikan sementara tradisi cium hidung adalah hal yang perlu diapresiasi.  

Apakah kondisi saat ini dengan meningkatnya Covid 19 akan menghapus permanen tradisi cium hidung orang Sumba?  Menurut saya, tentu tidak. Sehingga tidak boleh ada ketakutan merelahkan tradisi kita berhenti untuk sementara. Lagian dengan mengindahkan himbauan itu, kita telah berpartisipasi dalam misi kemanusiaan wujud melawan Covid-19.

1 thought on “Covid-19 dan Tradisi Cium Hidung Orang Sumba

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: