• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Covid Dan Diri Kita Adalah Pembunuh

Covid Dan Diri Kita Adalah Pembunuh

Oleh : Sultan Hermanto Sihombing

Nopel Corona Virus atau COVID-19 menjadi permasalahan yang sangat serius di tengah tengah dunia hingga hari ini (17/04/2020). Epidemik global tersebut memporakporandakan tatanan dunia. Mulai dari sektor ekonomi, politik, kesehatan hingga tatanan budaya. Sejak kasus pertama kali di Wuhan, China, kini epidemik mematikan itu menyebar ke banyak benua di eropa dan Benua Asia tentunya. Covid-19 adalah musuh bersama.  Setidaknya ada 213 negara terpapar. Data yang tercatat di dunia, jumlah kasus  Covid-19 sudah mencapai  2.074.529 jiwa dan membunuh 139.378 ribu jiwa. (Covid19.go.id). Indonesia sendiri sampai hari ini 17 April 2020 kasus Covid-19 sudah mencapai 5.923 kasus, meninggal dunia 520 jiwa, dalam perawatan 4.796 dan sembuh sebanyak 607 jiwa (Covid19.go.id diakses 18 April 2020 pukul 00. 18 WIB).

Corona Virus 19 Musuh Bersama

            Melihat situasi kesehatan Indonesia dan peraturan yang dikeluarkan pemerintah sebagai upaya prefentif tidak terlihat memiliki pengaruh signifikan, hal ini bisa dikaji dari jumlah data terpapar virus yang fluktuatif setiap harinya. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pun tidak mampu membendung perkembangan virus ini di tengah masyarakat Indonesia. Himbauan cuci tangan, social distancing, bahkan psycal distancing serta pengunaan disinfektan juga tidak terlihat efektif. Ketidakefektifan tersebut bukan karena kebijakan yang tidak tepat sasaran, akan tetapi karena kurangnya kesadaran masyarakat terkait Covid-19, dan stigmatisasi terhadap pasien positif Covid-19 sampai tenaga kesehatan. Sehingga bagaimanapun baiknya kebijakan pemerintah tetap tidak akan bisa membendung persebaran Covid-19. Seyogyanya kita menjadikan corona virus 19 menjadi musuh bersama masyarakat, pemerintahan, buruh, dan pelajar. Persatuan melawan corona ini disebut solidaritas global melawan corona, bukan alih-alih mengambil keuntungan dari epidemik yang sedang terjadi. Gagasan gagasan baru melawan corona virus harus selalu ita kerjakan bersama. Apabila Corona virus memang merupakan konspirasi dunia, maka secara bersama-sama kita juga harus membongkar konspirasi tersebut, melakukan pencocokan data kematian, dan selalu memperhatikan data yang dirilis pemerintah. Karena kita harus menyadari bahwa Covid-19 adalah musuh bersama. Sebagai contoh data analisa data yang Penulis lakukan adalah terkait data Covid 19 di situs covid19.go.id yaitu terkorfirmasi 79, sembuh 12 orang dan meninggal 9 orang sedangkan data Posko Utama data terbaru covid-19 Sumatera Utara kita  bisa melihat   Pasien dalam Pantauan (PDP) 144 orang, positif 103 orang, meninggal 10 orang, dan sembuh 12 orang. Dari data tersebut kita bisa melihat adanya insinkronisasi data yang menjadikan tidak bisa tercapainya solidaritas nasional penanggulangan covid. Data diatas masih sekedar perbandingan data 1 Provinsi dengan nasional, perbedaannya sudah sampai 22 orang. Sebagai masyarakat yang ingin segera epidemik ini selesai, maka kita harus menjadikan covid 19 dan tidak validnya data sebagai musuh bersama.

Diri kita dan Covid-19 adalah musuh paling besar.

            Pada lapisan masyarakat daerah Covid-19 berubah makna. Dari yang awalnya epidemik berupa virus menjadi epidemik stigma. Kematian dengan berbagai macam kematian sering dinarasikan sebagai Covid-19 serta begitu cepat perkembangannya. Stigmatisasi terhadap pasien positif, Orang Dalam Pantauan (ODP), dan Pasien Dalam Pantauan (PDP) bisa sangat gambling kita temui dalam kehidupan masyarakat, kemudian dijadikan menjadi senjata untuk mendiskriminasi individu atau keluarga. Kita lupa yang paling berbahaya dari  Covid-19 adalah stigma yang kita sampaikan secara tidak sadar. Stigma sendiri berartiberbagai pandangan negatif yang kita/orang lain terima dari lingkungan. Disini letak diri kita yang lebih berbahaya dari Covid-19 itu sendiri. Kita sering melakukan stigmatisasi kepada orang-orang di lingkungan kita ketika ada teman yang mengalami demam, batuk, atau flu. Langsung menarasikan mereka terpapar Covid-19, padahal pihak kesehatan belum mengeluarkan status individu tersebut.Bahkan dalam beberapa kasus, dokter yang membahayakan dirinya untuk penyembuhan Covid-19 sering kali ditolak untuk pulang ke rumah. Bahkan lebih parah, para tenaga kesehatan yang gugur dalam bertempur melawan epidemik ini tidak diterima di beberapa tempat pemakaman. Melakukan stigmatisasi terhadap mereka sebagai orang positif terpapar Covid-19 dan beranggapan mereka menyebarkan Covid-19, walaupun sudah melakukan penanganan sesuai protokoler penanganan Covid-19. Kita dan covid-19 menjadi musuh dari tenaga kesehatan. Diri kita berubah menjadi monster yang lebih berbahaya dari Covid-19 seketika kita melakukan stigmatisasi. Seharusnya kita sadar bahwa penularan itu terjadi karena kita tidak sadar bahwa kita berpotensi membawa virus kemana-manana dan menyebarkannya. Kita harus melawan diri kita sendiri dengan pola hidup bersih, menghentikan stigmatisasi terhadap saudara kita sendiri, bahkan terhadap dokter dan perawat yang berjibaku melawan Covid-19.  

Covid-19 memang berbahaya, tapi lebih berbahaya kebohongan yang diakibatkan Stigmatisasi-

1 thought on “Covid Dan Diri Kita Adalah Pembunuh

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: