• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
EKPLOITASI TUBUH DILUAR SADAR

EKPLOITASI TUBUH DILUAR SADAR

Pergerakan perempuan yang dimulai sejak abad ke-18 silam, semenjak dari bangsa Eropa sampai Indonesia telah mencapai titik tertinggi dari tujuan pergerakan perempuan itu sendiri. Perempuan menggapai kesetaraan dalam menentukan kehidupannya sendiri sebagai cita-cita. Pendidikan yang layak, pemerataan upah kerja, kebebasan mengemukakan pendapat, kesempatan berkarier serta  terbebas dari lingkaran dapur, sumur dan kasur. Sebagian besar perempuanpun telah berjuang menghancurkan  setumpuk sistem dan budaya yang memenjarakan pikiran dan tindakan yang tidak adil.

Semakin besar perkembangan pergerakan perempuan yang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentunya menimbulkan dampak yang sangat besar pula dalam kehidupan perempuan di lingkungan masyarakat. Hal ini tidak bisa menutup fakta bahwa standar kehidupan untuk  perempuan menjadi sangat tinggi, sehingga tanpa disadari perempuan membentuk kelas-kelas sosial yang berbeda dan akhirnya berpengaruh pada gaya hidup.

Media  massa hadir sebagai benda ajaib yang secara langsung memainkan  imajinasi dan membentuk konstruksi berpikir semua orang hingga mampu merubah pola pikir manusia, terutama perempuan. Pada dasarnya media massa sebagai sarana dan pusat informasi untuk sebuah bangsa atau komunitas yang bersifat mendidik, membangun dan  sebagai pedoman dalam perkembangan dunia. Tak luput juga media massa saat ini semakin banyak melibatkan perempuan. Keterlibatan perempuan yang semakin menonjol di dunia media, dilihat sebagai salah satu bentuk tercapainya kesetaraan antara laki laki dan perempuan. Namun yang menjadi keresahan penulis, apakah keterlibatan perempuan dalam media massa sebagai bentuk penyetaraan ataukah sebagai bentuk eksploitasi terhadap perempuan sendiri?

Melihat pembagian kelas karena standar kehidupan perempuan sendiri, maka kaum pemodal jeli dalam melihat perkembangan pasar dan tidak ingin membiarkan kesempatan yang menguntungkan ini terlewatkan. Tubuh perempuan sebagai modal yang dapat menjadi hal berharga ketika dieksploitasi. Perempuan akhirnya hidup dalam sistem kapitalis, sebagaimana dalam buku Robert Lekacham menjelaskan bahwa kapitalisme bergantung pada sistem pasar yang menentukan distribusi, mengalokasikan sumberdaya-sumberdaya dan menetapkan keuntungan dari kelas-kelas sosial yang berbeda.

Dalam dunia pekerjaan, kaum pemodal melihat perempuan sebagai objek yang dapatkan menghasilkan uang. Perempuan disetarakan dengan barang yang dapat ditransaksi, dibarter,  diekplotasi keindahan tubuhnya, sensualitas kewanitaan dipertonton sampai perempuan dijadikan pelaris untuk meningkatkan keuntungan dari produk yang di distribusi oleh kaum pemodal. Dengan sistem kelas yang dibentuk, pemodal mengambil peran dengan menawarkan kepuasaan atas sikap kehedonan perempuan

Media massa maupun media elektronik, kini seakan telah mengalami pergeseran makna menjadi sarana yang dimanfaatkan pemodal untuk menjalankan peran eksploitasi perempuan. Hal ini penulis nilai sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan secara simbolis. Dimana bentuk eksploitasi perempuan tersebut dilakukan dengan membangun narasi dan ujaran yang menyinggung lekukan tubuh perempuan. Sering sekali dijumpai dalam media massa seperti iklan komersial. Perempuan yang bekerja sebagai model iklan memeragakan gerakan yang menampilkan bentuk tubuh bernuansa sensual, yang terkesan menggairah laki-laki ketika melihatnya. Sehingga tanpa disadari hal ini menjadi salah satu alasan timbulnya penindasan terhadap perempuan. Bentuk tubuh perempuan dimanfaatkan untuk memenangkan produk kaum pemodal demi meraih keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperdulikan aspek psikologi perempuan.

Salah satu contoh eksploitasi perempuan adalah munculnya standar kecantikkan bagi seorang perempuan. Bermata lebar, bibir tipis memerah, alis melengkung 180 derajat, berkulit putih, rambut lurus, lensa mata berwarna pelangi, gigi putih berkilau, pinggang tanpa lemak, dan buah dada yang besar. Seperti itulah sekilas tentang visualisasi kecantikan bagi kaum lelaki. Indikator ini sebagai kontruksi sosial yang dibentuk masyarakat yang menunjukkan kesempurnaan perempuan. Melalui konstruksi kecantikkan muncullah berbagai produk kecantikan sebagai jawaban bagi perempuan yang ingin menyamakan kecantikan dengan standar yang ada. Perempuan menjadi sangat  konsumtif dengan benturan siaran atau tampilan media terkait produk-produk tersebut.

Kaum pemodal menjadikan perempuan seperti kelinci percobaan untuk meningkatkan keuntungan dari produk-produk kecantikan. Kelas sosial yang telah dibentuk perempuan, mendorong perempuan berkompetisi satu sama lain untuk menjadi cantik dalam standar yang ada. Perempuan dari kelas atas, kelas menengah, sampai kelas bawah memperjuangkan kecantikkan dengan mengkonsumsi produk yang dapat mengubah bentuk tubuh, bahkan sampai titik tertinggi yakni  memotong bagian tubuh tertentu. Bukankah hal ini sangat mengerikan ?

Tak dapat dipungkiri di era millenial, laki-laki sendiri cenderung akan memilih perempuan cantik berdasarkan standar yang ada. Hal itu mendorong perempuan untuk terus merubah bentuk tubuh. Tontonan diberbagai media kini seakan bersatu mempermainkan organ tubuh perempuan. Masyarakatpun ikut berbondong-bondong bersepakat menjadikan standar itu sebagai kewajiban dan kewajaran, yang akhirnya berdampak  bagaimana  hari ini seorang perempuan dihargai dan dikagumi ketika berparas cantik.

Lagi-lagi bukan kesetaraan yang didapat melainkan eksploitasi bagi perempuan. Perempuan dalam media massa kapitalistik selalu sebagai objek yang  disubordinasikan. Tubuh yang seharusnya adalah gambaran harga diri seseorang kini berubah menjadi sarana konsumsi dan candaan seksual. Wadah yang dianggap sebagai bentuk hadirnya kesetaraan dengan alasan kebebasan berekspresi,  justru menjadi wadah berkembangnya akar-akar penindasan dan kekerasan terhadap perempuan. Wadah-wadah yang disiapkan sebagai solusi adanya kesetaraan seakan hanya sebuah narasi atau topeng lain dari penindasan. Wadah itu adalah jebakan. Sistem kapital terus menjadi akar penindasan yang tidak membela dan menjamin hak-hak perempuan.

Sistem yang secara terbuka memanfaatkan peran perempuan setelah mencapai setara. Jangan menyebut undang-undang atau aturan yang telah dibentuk dan “katanya” sebagai solusi bagi penindasan perempuan, namun  tetap saja terbungkam sebagai tulisan dalam kertas  ketika media masih saja mengeksploitasi ratusan bahkan ribuan perempuan. Ataukah perempuan sendiri yang ada lingkaran sana sebagai perwakilan dari suara perempuan, justru terjebak dan tidak menyadari bentuk penindasan dan kekerasan secara simbolik. Lucu bukan, betapa hebatnya kaum kapitalis memainkan perannya bahkan negarapun ikut dipermainkan.

Hari ini eksploitasi perempuan dalam media terus terjadi. Yang perlu ditekankan oleh penulis ialah penjaminan dan pembelaan hak-hak perempuan akan tercapai ketika perempuan sadar bahwa  perempuan dengan visualisasi cantik hari adalah sebuah kesepakatan dari masyarakat dunia. Media massa seharusnya kembali kepada marwah yang selalu mengedukasi. Kaum pemodal mengambil kesempatan dari sikap perempuan yang sangat hedon  dan terkukung dalam pemikiran yang dangkal tentang martabat dan kecantikan. Perempuan dalam hal ini dituntut untuk menjadi pribadi yang cerdas secara pemikiran dan tindakan. Bahwa berani melepas diri dari kesepakatan standar kecantikkan yang begitu membunuh karakter dan identitas perempuan sendiri. Dengan demikian tercapailah kesetaraan sejati tanpa topeng penindasan.

bukalah ruang ruang berpikir, maka dunia akan menjadi wajah baru tanpa penindasan” –titikalinea.com-

(/EV)

1 thought on “EKPLOITASI TUBUH DILUAR SADAR

    • Author gravatarAuthor gravatar

      Semua perempuan dilahirkan dengan keunikan dan kecantikkannya masing-masing❣. Sukses untuk semua perempuan yang berjuang menggapai impiannya tanpa menghiraukan orang-orang yang ingin mengentikannya. 💪🙌💙

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: