• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Gubuk Sih Tomo

Gubuk Sih Tomo

Penulis : Herman

Panas, kumuh, dan penuh kenangan. Itulah gubuk kecilku tempat bernaung saat ini. Kisah ini adalah lanjutan cerita dalam beberapa tulisanku “catatan perjuangan untuk cita-cita” Teman-teman juga bisa membacanya dengan kembali mengunjungi postingan lama disini.  

Di sebuah gubuk kecil saya tinggal bersama seorang kawan, sebaya  dengan saya, dan satu jurusan dalam bangku perkuliahan. Mengerjakan tugas kuliah, makan, jalan, kami selalu barsama. Kami sama-sama bertolak dari tempat yang jauh, merantau. Jauh meninggalkan kampung halaman demi meraih cita-cita. Kukenal dia, seorang yang giat belajar, namun hobi makan dan tidur.

Suatu hari, kami berencana ingin ke luar kota. Karena di gubuk kami sudah sangat membosankan bagi kami, yang kerjanya hanya tidur, makan dan bermain untuk kesenangan sesaat.  Saat itu waktu libur akan tiba, kami sudah merencanakan semua. Kemana dan sama siapa akan berlibur.

Bersantai dan duduk di depan teras menatap kota pahlawan. Lamat-lamat aku menatap gedung pencakar lagit. Tapi saya tidak terlalu menghiraukan itu, karena dalam pikiranku hanya ada rencana liburan.

“Rik, dua minggu lagi kita akan libur, ada plan ngak?” Aku mememulai pembicaraan, dan berhasil memecahkan kesunyian gubuk kecil.

“Saya sih rencananya ke Jogja Tom, atau paling tidak ke rumah buleku di banyuwangi.” Dengan suara slow Erik menjawab.

Terik matahari semakin panas menyinari ubun-ubun kota. Es batu dalam gelas juga perlahan mencair. Aku menatap wajah Erik yang bercucur keringat. Sesekali menuangkan minuman es teh dari wadah ke gelasnya yang kosong kering kehabisan.

“Kamu tidak jadi mendaki? kemarin katanya kamu mau coba puncak atap Jawa (Mahameru)” Tanyaku.

Kata gunung kerap saya jadikan sebagai bahan candaan dengannya, karena saya tahu Erik sudah phobia dengan gunung. Dikala itu kami mendadak mendaki di Buthak, yah ketinggiannya lumayan menantang adrenalin, dan dia juga menyeka ingin ikut. Padahal, sebelumnya dia belum ada persiapan dan menjadi pendakian pertamanya. Itu adalah pengalaman pertamanya yang menjerumuskannya pada ketakutan.

“Tidak, aku sudah tidak mampu lagi karena pengalaman tempo hari.” Erik berdeham, bukti telah mengiyakan ketakutannya.

Kami terus bercerita dan tanpa terasa jarum jam menunjuk angka 1,  siang hari. Suhu yang biasanya hanya 30 derajat kini menjadi 35 derajat celcius. Benar-benar panas. Saya tidak tahan lagi. Diteras sinar matahri jatuh, dan panasnya sampai membakar kulit matiku. Sayapun bergegas masuk ke dalam gubuk menyelamatkan diri. Tak ada bedanya, menggunakan kipas sekalipun. Benar-benar panas. Hal inilah yang memaksa saya ingin lari dari gubuk derita ini. Menikmati alam bebas, menghirup embun pagi, dan menyeruput kopi  bersama senja di puncak gunung.

Erik masih di luar menikmati es tehnya, yang rasanya semakin hambar, karena semua esnya sudah melebur jadi air.

“Tom, esnya sudah cair nih, buruan di minum” suara erik memerintah dari teras. Kudengar jelas, namun tak kuhiraukan lagi, aku tenggelam dalam dunia maya (Getget dan Media sosial). Saya sibuk mencari tiket domestik termurah, kemana saya akan pergi berkelana menikmati liburan ini. Diriku yang terkekeh ingin cepat-cepat pindah dari gubuk ini, tidak tahan dengan suasana dan panasnya yang sangat menyiksa.

Di saat saya masih sibuk mencari-cari tiket, suara samar terdengar dari teras “Tomo mana?”. Saya menghampiri sumber suara itu. Dia Bima, teman yang bisa dikata paling rajin datang di gubuk ku ini, datang makan dan bermain. Dia teman kampusku.

“Eh Bim, tumben datang siang-siang bolong?”. Basa-basiku, padahal sudah tahu maksud dan tujuan dia datang. 

“iya bro biasa hehehe”  dia menyeringai lebar, seakan membujuk agar saya menyiapkannya makan siang.

“humm saya sudah tahu itu,”. Saya bergumam dalam hati. “Yah sudah kamu masuk lah, liat apa yang bisa di makan di dapur” perintahku.

“Bim kamu rencana liburan kemana?” tanyaku. Namun tak ada jawaban hingga Saya mengulang lagi pertanyaanku. “Bim kamu rencana liburan kemana?”  S

“yah paling di kost saja Tom, memangnya mau kemana lagi” sontak menjawab sembari melahap sop buatan ku.

“oww.. kamu ngk ada rencana pulang kampung, atau liburan keluar kota?”

“Tidak, aku malas. Tidak ada modal juga, makan aja susah bro”  

Erik juga sudah tak tahan lagi di teras, dan bergegas masuk ke gubuk, dengan menenteng ceret dan gelas bekas es teh kami. Sungguh mulia tindakannya.  

“Rik kamu tidak pulang kampung liburan ini?” Bima yang masih mengunyah krupuk bertanya pada Erik.  Langkah kaki Erik terhenti di tengah-tengah kami, yang tadinya mau menuju dapur “tidak Bim, aku di Jawa saja, tiket pesawat ke Sumatera mahal banget, masa iya aku mau naik kereta lagi 2 hari 3 malam lagi. Tidak bisa tidur pula.” 

Saya yang sibuk mencari tiket, berhenti. Tidak menghiraukan mereka lagi dan lebih memilih untuk tidur siang.

***

Waktu  libur telah datang, segala apa yang kami rancang semasa aktif kuliah, akan kami jalankan. Yakni mendaki ke mahameru. Saya sangat bahagia menanti hari itu.  Tak cukup waktu lama  menghayalkannya, bahagia yang kutunjukan dengan senyuman, pudar oleh kabar dari Mama terkasih jatuh sakit. Kabar itu kudapat dari adik lewat sambungan telephone. Tak ada kata terucap selain memanjatkan doa kepada Tuhan untuk kesembuhannya. Segala niat mendaki, lenyap. Juga karena tidak enak meminta uang jalan pada mama, apalagi kalau hanya untuk kenikmatan sesaat, dan untuk diri sendiri. Saya tahu keadaan keluarga, itu membuat saya tidak harus berselerah tinggi, seperti anak-anak orang pada umumnya. Mama menyarankan saya untuk mencari perkerjaan, dan saya sudah berusaha melakukan itu. Namun hasilnya masih nihil. Di kota sangat sulit mencari pekerjaan, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Saat itu menunjukan hari telah sore, mendung, dan satu persatu tetesan air jatuh membasahi kediaman di bumi. Saya dan Erik melakukan kegiatan rutin yaitu duduk di depan teras, sembari membicarakan tetang segala masalah. Baik pendidikan, masalah keluarga, dan masalah liburan. Plan liburan yang sudah kami catat dalam list hanya akan menjadi hayalan semata.

“Tom, gimana kamu jadinya kemana?” tanya Erik.

Saya kemudian menyeruput kopi hangat, sembari memandang gedung-gedung pencakar langit yang ada di tengah kota. Perlahan butiran hujan turun semakin ramai membungkus kota.

“Aku tidak jadi liburan Rik, kamu gimana?” saya bertanya balik, dengan perasaan yang bercampur..

“Aku rasane tidak keluar juga, karena budget plan liburan, aku gunakan untuk membayar pajak motor” Mendengar itu saya langsung tersengal piluh. Dalam hati saya berkata, akhirnya saya tidak sendiri juga,

“humm, berarti kamu tidak jadi keluar kota dong?” Saya bertanya lagi, untuk memperjelas, apakah benar dia gagal keluar kota.

“Yah sepertinya begitu Tom” katanya denga mata yang berkaca-kaca. Saya berusaha memberi penjelasan pada dia, agar tidak berlarut-larut dalam kejadian ini. Karena ini memang sangat berat bagi kami. Dari beberapa liburan semester, baru kali ini kami tidak keluar dari gubuk ini.

“Jangan sedih Rik,  kita tinggal saja disini menikmati kota. Heheh.. Di gubuk ini kita juga akan bisa menikmati hidup, walaupun panas ketika terik matahari lagi marah bahkan dingin saat hujan menyirami bumi, kita akan lebih beta lagi.” saya menyegirai Erik, dan di balas dengan senyum persahabatan.

Mulai hari itu, pertanyaan atas liburan tak pernah menghiasi dan kembali menikmati hari-hari kami di gubuk yang kumuh dan lusuh hingga masa liburan selesai.

Dari hari itu juga kami tahu bahwa semua rencana hanya wacana selamanya.

“jangan menikmati liburan yang indah, dengan lupa orang tua yang tersiksa.”

“selamat berlibur tetap ingat masa kuliah yang akan datang lagi.”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun