• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Hari Ini Tentang Bumi Pelajar

Hari Ini Tentang Bumi Pelajar

Oleh : Herman Tato

Saat malam bersahabat bersama nyanyian jangkrik yang terdengar semakin merdu, terlihat sosok dengan badan lusuh, memandangku dengan mata yang lemas penuh tanya. Sekejap rasa risau mengarah tanya, “sejak kapan engkau sakit?” Tanyaku dalam hati.

Kupandang sudut hunian dan kudapati kertas-kertas penuh coretan yang berserakan di sekelilingmu. Di sudut lain, sampah sisa makanan ringan masih bertebaran tidak mendapat sedikitpun perhatian dari anak malang yang diperbudak oleh pemikiran yang mengekang seperti engkau. Sekilas pemandangan itu menerbangkanku pada masa lalu, bahwa hal itu pernah kulalui dan menjadi  kisahku.

Kebiasaan lamanya dirungkus tugas menulis hal-hal yang tidak penting dari sang kuasa kampus.

Saat itu aku mulai berfikir, apakah hal ini dia lakukan sungguh-sungguh karena menambah wawasan  untuk masa depan cerah, ataukah hanya karena takut terhadap sistem yang telah lama mempermainkan pelajar?

Aku tahu bahwa setiap hal perlu usaha, ada hal yang penting yang harus di utamakan, namun ada hal juga yang sangatlah tidak penting. Contoh kecilnya dalam dunia kampus, mahasiswa kini dituntut melakukan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan jurusan yang digelutinya, seperti yang dirasakan temanku ini.

Sehingga kejadian itulah membuat seorang pelajar bosan bercampur rasa takut, dan memilih lebih bermain Hp, dan main game.

Seorang pelajar seperti temanku ini tak sadar rupanya, sempit dalam berpikir. Rupanya hanya mengejar IPK yang baik, lulus lalu kemudian kerja menjadi karyawan yang baik. Pikirku itu hal yang sangat sederhana di hadapan seorang yang katanya pelajar.

Aku tertarik untuk bercerita sedikit tentang pengalamanku dengan temanku, Baso, yang kutemui ini.

Temanku Baso juga kadang membuat aku binggung menanggapi maksud dan pemikirannya soal sistem yang telah saya jelaskan diatas. Dia pandai dalam beretorika. tapi tidak dalam membaca. Orangnya yang polos-polos terlihat cupu. Dia selalu ceria di depan banyak orang. Dan karena dia teman dekatku, tentu aku bisa mengetahui itu.

Suatu hari, aku mengajaknya nongkrong di sebuah warkop kecil, dekat dari gubuk kecilku.

    “woii…” begitu chat awal ku saat mau mengajak dia. Tentu tidak sopan nan formal, entah apa yang merasukiku saat itu.

Tak menunggu lama dia pun membalas “iya broo… opo?” balasan dia dengan bahasanya yang khas.

“malam nanti kita nongki yuk” ajakku

“Kita ada bahan diskusi nih tentang sistem yang ada dalam kampus kita” sambungku sebelum dia menanggapi chat ku sebelumnya.

 “oke boleh.. boleh” jawabnya.

Waktu telah berjalan, dan gelap segera menyelimuti bumi. Yang artinya sudah waktunya  aku berangkat ke warkop.

Setiba di warkop, si Baso belum juga tiba. Rupanya dia menunda waktu lagi. Sebuah kebiasaan buruknya. Menunggunya dan tak kunjung juga tiba, kupesan kopi dengan segenggam rasa kecewa.

“pak kopinya satu yah, nggak pake senyum, tapi pakai gelas” Salah satu caraku memesan kopi yang membuat pemilik warkop mengingatku. Namanya Pak’loh.  Dia orangnya ramah senyum dan sangat menyenangkan.

“oke siap, mau di tambahin kenangan ngak?” jawabnya dengan gigi terlihat menahan tawa.

“ngak usah pak. hahaha”. 

 Tak lama aku ngobrol dengan Pak’loh, si Baso tiba dengan menggendong gitar kesayangannya dengan mengendarai sepeda motor.

“lama amat kamu” aku berteriak kencang sebelum kontak motornya dimatikan.

“sorry bro, aku terlena saat mengerjakan tugas kuliah, sampai lupa kalau kamu ajak nongki, yah maklum anak kuliah men”

Baso menjawab dan mencoba menjelaskan alasan keterlambatannya sembari menurunkan penyangga sepeda yang dikendarainya, dan menghampiriku

 “alasan saja engkau… hahaha”  jawabku dengan bercanda.

“ayo pesan dulu baru duduk, biar ngobrolnya makin lancar”. “mari kita hangatkan malam ini” . Itulah ciri khasku, ketika memulai obrolan kami.

“gimana kabar kamu bro.” Tanya ku dengan penasaran.

“mengapa mukamu muram banget, sepertinya  lagi banyak masalah” sambungku

 “yah begitulah men, sibuk dengan tugas mana disuruh tulis tangan, sungguh menyiksaku”.

Dia mengeluarkan segala keluh kesahnya. Baik tentang sistem kampus sampai pada pemberian tugas yang dianggap tidak masuk akal. Dia terus saja menggerutu. Tentunya aku dituntut menjadi pendengar setia, agar terlepas semua beban yang dirasakan.

Waktu berlalu begitu cepat, obrolan kami semakin hangat. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan pernyataan  Baso bahwa tidak ingin melanjutkan kuliah. Secara spontan kujawab ““woii… jangan gitu dong sob”.

Mungkin karena rasa ngantuk sudah tak terbendung sehingga lelucon ini dia lontarkan, pikirku. Tetapi tiba-tiba dia melanjutkan obrolannya “aku pikir itu jalan terbaik men”. Lanjutnya dengan suara bass logat jawanya yang terdengar tegas.

 “alasan kamu yang paling besar apa ?” tanyaku.

Kucoba melihat setiap sudut wajahnya, mencari tahu alasan lain dari pernyataanya. Sembari ku seruput kopi yang sudah dingin. 

Waktu seakan memberi tanda, kalau pagi akan segera tiba. Tetapi obrolan kami masih terus berlanjut tanpa memperdulikannya.

“ayo di minum kopinya biar pikiran anget”, candaku

Sembari tertawa Baso berbicara, tak ada kata-kata yang terucap lagi, mataku serasa sangat berat. “aduh, sepertinya aku ngantuk bro, bola mata ku tersisa energi 1 watt.” Dia terus saja bercanda ketika aku mulai serius dalam obrolan kami.

 Sejenak kulihat dia meremas-remas rambutnya, aku pun ikut meremes rambut ikal ku. “yaudah kalau gitu kita lanjut besok lagi aja, makasih sudah mau memberi masukan men” wajahnya masih saja suram.

Rasa khawatir terus saja menghantuiku. Serasa tak ingin mengakhiri malam itu. Namun apalah daya, aku tak bisa apa-apa lagi, mata ku pun seakan ikut mengeluh dan memprotes.

“oke bro, balik hati-hati yah”. Kamipun pulang ke hunian masing-masing.

Secara pribadi aku masih penasaran dengan alasan Baso ingin berhenti kuliah. Pertanyaan demi pertanyaan seakan muncul secara bergantian “apakah dia menyerah karna sistem yang ada di kampus atau karena ada masalah keluarga?”.

Jika bukan hari ini, maka besok aku akan terus bertanya sampai mendapatkan jawabannya. 

Karena bagiku sahabat adalah bagian dari keluarga, dan dia juga yang bisa memberikan tuntunan dalam hidup kita, bukan tuntutan akan masalah kita.

sekolah tempat untuk belajar, bukan tempat untuk dihajar.

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun