• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Indahnya Sebuah Masalah | Cerpen Karya Tomo

Indahnya Sebuah Masalah | Cerpen Karya Tomo

Masalah adalah hal yang paling dihindari kebanyakan orang. Apalagi masalah yang datangnya secara tiba-tiba, disaat kita masih merasa bahwa hidup kita tidak pantas mendapatkan masalah itu beralasan umur yang belum cukup dan belum mampu untuk melewatinya. Namun dilain sisi, beberapa orang juga menganggap bahwa masalah yang dihadapi akan menambah pelajaran dan pengalaman baru dalam hidupnya, sehingga tetap merasa tenang.

Setiap orang pasti memiliki cara untuk menyelesaikan masalah dalam hidupnya dan bahkan memilih jalan dengan cara menikmatinya. Dan ini adalah caraku menikmati masalah hidup.

Berawal dari tugas kampus yang diberikan oleh dosen, yakni mata kuliah “Kuliah Lapangan (KL)”, yang harus membutuhkan pengujian Lab di kampus atau perusahaan yang memiliki peralatan yang memadai.

Baca juga : Cara Bersahabat Dengan Masalah

Sebenarnya aku tak ingin menuliskan masalah ini, namun aku pikir ini dapat memotivasi orang lain. Ya, semoga saja.

Perasaan senang dan khawatir dalam hati pada malam itu mulai bercampur aduk, sampai membuatku gelisah dan akhirnya sulit untuk tidur. Senang karena besok aku bisa pergi mencari lab sembari jalan-jalan memanjakan hati dan pikiranku. Lalu seketika kekhwatiran pun muncul mengingat perjalanan jauh yang akan ku tempuh dengan motor tua itu. Kegelisahan ini berhasil menghipnotisku hingga tersadar sudah pukul 10 pagi, padahal mataku belum sempat kurapatkan lama “sepertinya insomniaku kambuh lagi” kataku berbisik pada diri sendiri. Kucoba rapatkan mata sekali lagi.

***

“Tomo, ayo bangun!” perintah mama membangunkan sambil memukul-mukul lenganku. Aku sadar dari tidur dan mimpi yang baru sekejap kurasakan.

“Baik, ma” kataku menyahut.

Dengan penglihatan yang rabun ku lihat mama berjalan keluar kamar disusul pintu yang ditariknya. Aku lalu bergegas dan menyusul mama ke dapur, mungkin ada yang bisa saya bantu disana. Sepertinya, hari ini hanya aku dan mama yang sudah bangun, sedangkan papa dan adik-adikku masih menikmati dinginnya hari itu dengan selimut hangat yang mereka kenakan masing-masing. Berbeda dengan mama yang sedari tadi sudah mempersiapkan tempe goreng dan nasi hangat disertai segelas kopi di atas meja.

“Ayo makan, cepat!, nanti kamu bisa kesiangan sampai Pelabuhan”.

“Iya, ma. Aku basuh muka dulu”

Setelah sarapan, tak lupa kulakukan beberapa kegiatan pagiku sebelum bersiap untuk berangkat. Pikiranku mulai sadar, semangat pagi membara di dalam dada bagaikan gemuruh motor tua yang sedang menyala-nyala di teras rumah. Udara segar desa terhirup dalam-dalam  mengisyaratkan harapan pada perjalanan hari ini dijauhi dari mara bahaya.

Aku berangkat dengan tuntunan doa dari mama, tak ada yang lain, sekiranya mereka mungkin mendoakanku dalam mimpi.

“Aku berangkat yah, ma” pamit sambil memberi salam. Kucium tangan mama dan kurasai hangatnya tangan itu bagaikan suasana perkemahan di antara api unggun yang menyala-nyala. “Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa cepat hubungi mama!” sambil menyerahkan barang bawaanku.

Baca juga : Seruan Mengkhayal cinta – Cerpen Karya Achmad Rony

Aku memulai perjalan, tepat pukul 4. Gas sepeda motor perlahan kutarik dan tak menoleh lagi pada mama. Dusun demi dusun kulalui, desa demi desa, dan hamparan ladang hingga persawahan yang luas memanjakan mataku. Suara nyaring dari burung-burung tampak jelas, seperti bernyanyi dengan lirik yang aku tak paham. Motor melaju dengan kencang,  gas motor tua semakin tinggi, sepadan dengan suaraku melantunkan lagu-lagu kebanggaanku sambil  menimati perjalan. Rasa-rasanya dunia ini milikku sendiri.

Perjalanku semakin jauh dan lagu-lagu terus dilantunkan, tiba-tiba diserang serangga tepat pada mata dan memaksaku untuk menggosoknya. Rabun-rabun kulihat. Jalan samar dalam sekejab “Puk, cirrrssssss” bunyi motor tuaku jatuh dan terkikis aspal hitam itu.

Beberapa saat kemudian, kudapati motor tuaku terdapat kerusakan. Seketika ada rasa takut dan pikiranku mulai takabur,  jantungku berdetak kencang, kaget.  Tak ada rasa perih yang kurasakan, walau beberapa bagian tubuhku terluka.

Suara kecelakaan motor tuaku mengundang masyarakat keluar dari rumah mereka. Mereka berlari tergopoh-gopoh ke arahku, tapi tak satupun kukenal. Ketakutan dan kepanikan menjadi batas diantara kami untuk berkenalan. Terlihat  meraka seperti seorang sepasang suami-istri.

“Kenapa, Le?” tanya laki-laki tua itu dengan sangat penasaran.

“Ngak papa, Pak” jawabku.

“Oww,.. kamu tabrak tumpukan pasir itu yah?”tanya laki-laki tua itu.

Berbeda dengan perempuan tua itu, tak ada satupun pertanyaan lalu kembali ke dalam rumah hendak mengambil sesuatu, aku tak tau pasti.

 “Iya, Pak”

 “Kemarin juga sempat ada teman yang nabrak, tapi dia terus ke bawah sawah, syukur kamu tidak terus lagi” kata laki-laki tua itu sambil memutar badanku untuk dicek “yang luka yang mana?”

Dari depan rumah nampak perempuan tadi berlari dengan sebuah botol yang berisikan minyak merah ditangannya. Minyak itu kemudian dioleskan ke tubuhku yang terluka.

“Tidak perih kan?” tanya laki-laki tua itu setelah mengoles minyak merah.

“Iya, Pak” jawabku membenarkan.

Setelah semua diolesin, aku hendak bergegas untuk pergi dan melanjutkan perjalananku yang masih panjang.

“Terimakasih banyak, Pak, Bu”

“Iya, le. Sama-sama. Emang kamu mau kemana le?” tanya laki itu saat hendak kunyalakan motor tuaku.

“Saya mau ke Morowali, Pak, ada urusan kuliah”

“Rumahnya dimana?”

“Rumah saya di sana, Pak” sambil menunjuk ke arah rumahku “kecamatan sebelah”

“Tidak balik saja?, nanti agak baikan baru berangkat, apalagi Morowali masih jauh, le” kata laki-laki tua dengan raut wajah tersirat meraguhkan.

Dengan rasa prihatin melihat keadaan ku, laki-laki tua itu terus mengingatkan untuk kembali saja. Tapi entah mengapa tak sedikitpun terbesit dalam pikiranku untuk kembali. Mungkin semangat yang masih menyala-nyala dari rumah beserta doa mama yang selalu membuat aku tak pernah putus asa dalam keadaan apapun.

“Ngak papa, Pak. Terima kasih banyak!” aku mengakhiri dan melanjutkan perjalan.

Setelah tiba di Pelabuhan Sorowako dan menyebrangi danau Matano, rasa perih pada kakiku semakin terasa, namun tak membuat semangatku sedikit pun patah.

Aku melanjutkan perjalanan demi perjalanan, dan tiba di Morowali dengan rasa syukur yang sangat besar. Beberapa kegiatan praktikum yang tereselaikan dengan baik. Jujur tak sedikitpun rasa menyesal yang aku rasakan dari kejadian tersebut. Justru aku bersyukur bisa melewati tanpa ada kata mengeluh sedikit pun.

Note: Setiap kita akan diberikan ujian. Ketika kita lulus maka kita akan naik. Namun, kalau kita gugur maka kita akan tetap di posisi itu.

Baca juga : Kisah Buaya Penunggu Cekdam

Penulis : Herman (Tomo)

1 thought on “Indahnya Sebuah Masalah | Cerpen Karya Tomo

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: