• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Intoleransi Dalam Diri

Intoleransi Dalam Diri

Oleh : Sigit Allobunga’

Hari ini, Sabtu, 16 November 2019 diperingati Hari Toleransi Internasional.  Hari yang spesial ini di peringati pertama kali pada tanggal 16 November 1995 (detiknews). Saat itu majelis Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengundang semua negara-negara anggota PBB untuk ikut mengkampanyekan Hari Toleransi Internasional.

Hari besar itu dibentuk, dilatarbelakangi banyaknya kasus ketidakadilan, kekerasan, diskriminasi rasial, dan pelanggaran kemanusiaan  yang hampir terjadi di negara manapun. Negara-negara yang ada di dunia saat itu memiliki konflik yang mengancam perdamaian, seperti salah satunya adalah pelanggaran hak asasi manusia, kurangnya sifat toleran dan perbedaan pemahaman terkait permasalahan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA).

Negara yang tergabung dalam PBB seharusnya menjadi embrio semangat toleransi, karena toleransi merupakan sebuah nilai yang mengutamakan perdamaian guna menghindari ketidakpedulian kita terhadap sesama. Dengan adanya sifat toleran, kita juga dapat menghindari maraknya konflik yang ada, seperti konflik antara Agama, Suku, Ras, Budaya dan antar golongan. Agar tercipta  kedamaian dan ketentraman sebagai bangsa merdeka yang menerima perbedaaan. Melihat berbagai latarbelakang agama, budaya, ras, yang berbeda seperti di Indonesia ini, menjadi hal yang manarik serta merupakan  pelengkap hidup yang dapat memperkaya hidup kita sebagai bangsa. Yaitu Bangsa Indonesia.

Namun seiring berjalannya waktu, toleransi diberbagai negara cukup terkikis karena  adanya  egoisme yang semakin menjadi-jadi dalam diri bangsa tertentu. Salah satu keegoisan yang terus menjadi tontotan kita saat ini adalah keegoisan sebuah ideologi yang berujung pada tindakan terorisme. Mereka menyerang dan mengorbankan banyak nyawa, hanya karena ingin memenuhi hasrat dan demi kepentingan kelompoknya sendiri.

Tantangan terbesar toleransi di berbagai negara termasuk Indonesia adalah terorisme. Beberapa kali serangan teroris menjadi ancaman kerukunan bangsa ini, yakni kejadian yang baru saja terjadi di Polrestabes Kota Medan, Rabu, 13 November 2019 kemarin, serangan bom di tiga Gereja Surabaya pada tanggal 13 Mei 2018 yang lalu, dan beberapa serangan terorisme lainnya yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Ancaman teroris secara langsung dirasakan oleh umat yang beragama. Kelompok agama tertentu yang seharusnya secara bebas dan tenang dalam melakukan kegiatan agamanya, ternyata terusik bahkan dihalangi oleh beberapa orang sebangsanya sendiri. Kebebasan beragama terancam karena faktor tidak saling menerima antar golongan agama.  Selain itu, tantangan toleransi juga menyangkut pada hal fundamental seperti Suku dan Ras. Sangat disayangkan adanya kelompok dari bangsa yang sama  masih membeda-bedakan suku satu dengan suku yang lainnya. Padahal kita semua bersaudara. Kita tidak menyadari bahwa perbedaan itu merupakan pelengkap nilai hidup kita sebagai manusia. Ancaman-ancaman yang kita hadapi merupakan tindakan intoleran kelompok.

Intoleransi akan semakin berkembang di tengah-tengah kehidupan bangsa ini, ketika penegakan hak asasi manusia masih lemah dan pendidikan yang masih tidak menjawab tantangan hidup terkait ekonomi, sosial dan budaya sehingga tidak membawa perubahan. Penegakan hak asasi manusia meliputi penegasan larangan ujaran kebencian, dan diskriminasi bagi kelompok minoritas. Selain itu, pendidikan juga merupakan salah satu cara dalam menegakkan nilai nilai toleransi, yaitu dengan penekanan pendidikan yang mengutamakan kemanusiaan dan rasa saling memiliki.    

Benih-benih intoleransi ada dalam diri semua orang, seperti sifat keangkuhan, stigmatisasi, dan penghinaan kepada sesama.  Sehingga meredam intoleransi yang ada dalam masyarakat, tidak bisa langsung dengan menggunakan pendekatan penegakan hukum dan pendidikan seperti yang saya telah bahas di atas, tetapi harus mulai dari diri sendiri. Langkah awal yaitu menghapus keegoisan, kesombongan dan mulai peduli terhadap sesama.

Karena damai itu indah.

1 thought on “Intoleransi Dalam Diri

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: